← Beranda

Jadwal Imsakiyah 9 Ramadhan 1447 H Kota Semarang, Jumat 27 Februari 2026

Lania MonicaJumat, 27 Februari 2026 | 06.28 WIB
Ilustrasi jadwal imsakiyah. (Freepik)

JawaPos.com - Hari kesembilan Ramadhan 1447 Hijriah yang bertepatan dengan Jumat menjadi momentum istimewa bagi umat Islam di Kota Semarang.

Perpaduan kemuliaan bulan suci dan keutamaan hari Jumat menghadirkan kesempatan besar untuk memperbanyak amal saleh, memperkuat ketakwaan, serta memperdalam refleksi diri.

Di tengah aktivitas masyarakat pesisir yang dinamis, Ramadhan menjadi ruang spiritual untuk kembali menata hati dan memperbaiki kualitas ibadah.

Agar pelaksanaan puasa dan sholat lima waktu berjalan tepat sesuai ketentuan, umat Muslim dapat merujuk pada jadwal resmi yang dilansir melalui laman Bimas Islam Kementerian Agama Republik Indonesia.

Pedoman ini membantu memastikan waktu sahur, Subuh, hingga berbuka puasa dilaksanakan secara tertib dan sesuai syariat.

Imsak: 04.17 WIB

Subuh: 04.27 WIB

Terbit: 05.40 WIB

Dhuha: 06.08 WIB

Zuhur: 11.54 WIB

Asar: 14.58 WIB

Maghrib (Buka Puasa): 18.02 WIB

Isya: 19.11 WIB

Puasa sebagai Bentuk Ketaatan Total

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ayat ini menegaskan bahwa puasa bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sarana pembentukan karakter. Ketakwaan yang lahir dari puasa tercermin dalam kejujuran, kesabaran, dan kepedulian terhadap sesama.

Selain itu, dalam Surah Al-Baqarah ayat 186 Allah SWT berfirman:

“Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”

Ramadhan adalah waktu yang sangat tepat untuk memperbanyak doa. Dalam suasana hati yang lebih lembut dan jiwa yang lebih khusyuk, doa menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Keutamaan Besar bagi Orang yang Berpuasa

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menggambarkan bahwa puasa membawa kebahagiaan dunia dan akhirat. Kebahagiaan saat berbuka adalah bentuk syukur atas nikmat Allah, sementara kebahagiaan di akhirat merupakan balasan atas kesabaran dan keikhlasan selama berpuasa.

Puasa juga menjadi sarana penyucian jiwa. Dengan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, seorang Muslim belajar mengendalikan hawa nafsu dan memperkuat disiplin diri. Nilai inilah yang diharapkan tetap terjaga meski Ramadhan telah berlalu.

EDITOR: Hanny Suwindari