← Beranda

Kultum Hari Ini, Kamis (26/2), tentang Puasa dan Kesadaran Ilahi

Abdul RahmanJumat, 27 Februari 2026 | 00.41 WIB
Aan Rukmana, Dosen Universitas Paramadina, Jakarta. (Abdul Rahman/JawaPos.com)

JawaPos.com - Dalam banyak tradisi keagamaan, termasuk dalam Islam, puasa menjadi sarana untuk membangun kesadaran manusia sebagai makhluk spiritual.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan materialistis, puasa menjadi momen untuk berhenti sejenak guna mengenal diri, menata batin, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Dalam Islam, puasa merupakan ibadah yang sangat dalam. Ia tidak hanya melatih fisik, tapi juga membentuk kesadaran ruhani, pengendalian diri, dan kepekaan sosial.

Inilah mengapa puasa disebut sebagai jalan menuju ketakwaan.

Berikut kultum hari ini, Kamis 26/2) tentang Puasa dan Kesadaran Ilahi, dibawakan oleh Aan Rukmana, Dosen Universitas Paramadina, Jakarta.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله ربّ العالمين

الصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين

اللهم صلِّ على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد.أما بعد

Marhaban ya Ramadhan. Marhaban ya Ramadhan.

Tidak terasa kita sudah berhari-hari menjalankan ibadah suci bulan Ramadhan.

Seluruh pemirsa Jawa Pos di manapun berada.

Pada kesempatan saat ini, izinkan saya akan berbagi sedikit salah satu hikmah dari pelaksanaan ibadah suci bulan Ramadhan.

Yaitu bagaimana kita sama-sama belajar menjadikan Ramadhan sebagai madrasah rohaniah, menjadikan puasa kali ini sebagai media untuk merasakan kehadiran Allah Subhanahu Wataala.

Kalau kita perhatikan diri kita sebagai manusia, maka manusia itu memiliki tiga komponen sekaligus.

Kita memiliki dimensi fisik, kemudian kita memiliki dimensi jiwa, sekaligus kita juga memiliki apa yang disebut sebagai dimensi hati.

Dengan fisik, maka kita ada kebutuhan untuk memenuhi keinginan fisik kita. Kita makan, kita minum, dan lain sebagainya.

Dengan jiwa, kita membutuhkan kebutuhan yang lainnya. Apa itu? Yaitu kita bisa merasakan orang-orang yang kita sayangi, orang-orang yang kita cintai. Termasuk dari sisi jiwa adalah merasakan kehadiran Allah Subhanahu Wataala.

Hanya saja di saat kita hidup, hidup kita terlibat dengan badan ini, dengan fisik kita, dengan dunia kita, kadang-kadang kita rekam di jiwa kita, di pikiran kita, itu adalah urusan-urusan keduniawian semata.

Maka di bulan suci ini kita dilatih untuk bisa merasakan, menghayati, bukan hanya tentang urusan dunia, tapi juga merasakan, menghayati sesuatu yang gaib, Yang Maha Gaib, Allah Subhanahu Wataala.

Karena kalau kita bicara dimensi manusia, sekali lagi manusia itu ada dimensi fisiknya, ada dimensi batinnya.

Maka di bulan suci ini kita dilatih mengaktifkan dimensi jiwa kita, batin kita, supaya kita bisa merasakan kehadiran Allah Subhanahu wa taala.

Sebagaimana sering Allah sampaikan bahwa ke mana pun kita menghadap sesungguhnya di sana ada Allah. Tapi sering kali dalam hidup ini kita lupa bahwa Allah ada di mana-mana.

Allah ada di kantor kita, Allah ada di jalanan, Allah ada di mana pun. Sehingga kalau kita meyakini Allah selalu ada bersama kita, maka tidak mungkin kita melakukan kejahatan, dosa-dosa besar, termasuk dosa-dosa kecil. Karena kita tahu hidup kita diawasi Allah Subhanahu wa taala.

Mudah-mudahan di bulan suci ini kita kembali suci dan yang paling penting semakin yakin bahwa Allah ada bersama kita semuanya.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

EDITOR: Abdul Rahman