JawaPos.com - Memasuki hari kedua Ramadan 1447 Hijriah, umat Islam di DKI Jakarta kembali melanjutkan ibadah puasa dengan penuh semangat dan kekhusyukan.
Setiap hari di bulan suci menjadi kesempatan berharga untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperbanyak amal saleh, serta memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT. Agar pelaksanaan puasa berjalan sesuai ketentuan syariat, umat Muslim perlu berpedoman pada jadwal imsakiyah resmi.
Jadwal imsakiyah tidak hanya menjadi penanda waktu sahur dan berbuka, tetapi juga membantu menjaga ketepatan pelaksanaan salat lima waktu. Dilansir dari laman Bimas Islam Kementerian Agama RI berikut jadwal imsakiya DKI Jakarta pada 20 Februari 2026:
Imsak: 04.32 WIB
Subuh: 04.42 WIB
Terbit: 05.55 WIB
Duha: 06.23 WIB
Zuhur: 12.10 WIB
Asar: 15.19 WIB
Magrib (Waktu Buka Puasa): 18.18 WIB
Isya’: 19.28 WIB
Waktu imsak menjadi pengingat bagi umat Islam untuk menyempurnakan sahur sebelum datangnya Subuh. Sementara Magrib merupakan tanda berakhirnya puasa yang dianjurkan untuk segera berbuka sebagai bentuk mengikuti sunnah Rasulullah SAW.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 183:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan. Puasa melatih manusia untuk mengendalikan hawa nafsu, menjaga lisan, serta meningkatkan kesadaran bahwa setiap perbuatan selalu berada dalam pengawasan Allah SWT.
Dengan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, seorang Muslim belajar memperkuat kesabaran dan keikhlasan, dua nilai utama dalam membangun kepribadian yang bertakwa.
Hadis Rasulullah SAW tentang Keutamaan Puasa Ramadan
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Hadis ini menunjukkan bahwa Ramadan adalah momentum pengampunan dosa. Puasa menjadi sarana penyucian diri, sehingga setiap Muslim memiliki kesempatan untuk memulai lembaran baru yang lebih baik.
Dalam hadis lain disebutkan:
“Setiap amal anak Adam dilipatgandakan, satu kebaikan dibalas sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
Makna hadis ini menggambarkan keistimewaan puasa dibanding ibadah lainnya. Pahala puasa tidak terbatas karena hanya Allah SWT yang mengetahui tingkat keikhlasan hamba-Nya dalam menjalankannya.