JawaPos.com - Shalat Tarawih adalah ibadah sunnah yang selalu dinanti setiap bulan Ramadhan tiba. Tarawih menjadi ciri khas dan sangat istimewa karena hanya ada pada bulan Ramadhan.
Di tengah semaraknya masjid dan mushalla melaksanakan ibadah shalat Tarawih di bulan Ramadhan, selalu muncul pertanyaan klasik, sebenarnya berapa jumlah rakaat shalat Tarawih yang dicontohkan Nabi Muhammad?
Di sinilah sering muncul perbedaan praktik shalat Tarawih. Ada yang melaksanakan shalat Tarawih 20 rakaat, ada juga yang 8 rakaat, 36 rakaat, bahkan 40 rakaat.
Ormas Muhammadiyah berpandangan bahwa shalat Tarawih memiliki 8 rakaat. Bagi ormas terbesar kedua di Indonesia itu, Tarawih dengan 8 rakaat dianggap paling sesuai dengan praktik Rasulullah.
Berikut dalil berdasarkan hadist Rasulullah untuk menetapkan shalat Tarawih 8 rakaat, sebagaimana dilansir dari laman website Muhammadiyah:
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ قَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي) صحيح البخاري – (ج 4 / ص 319) ,صحيح مسلم – (ج 4 / ص 89) ,سنن أبي داود – (ج 4 / ص 111)
“Dari Abu Salamah bin Abdirrahman bahwasanya ia bertanya kepada Aisyah Ra., bagaimana shalat Rasulullah SAW pada bulan Ramadan? Maka Aisyah menjawab : “ Rasulullah SAW tidak menambah lebih dari 11 rakaat baik pada bulan Ramadhan maupun di selainnya. Beliau shalat empat rakaat maka jangan kau tanya mengenai bagus dan panjangnya kemudian shalat empat rakaat maka jangan kamu tanya mengenai bagus dan panjangnya kemudian salat tiga rakaat. Maka aku berkata : “ Wahai Rasulullah, apakah tuan tidur sebelum berwitir? Nabi menjawab : Wahai Aisyah, kedua mataku tidur namun hatiku tidak tidur”. (Sahih al-Bukhari : 4/319, Sahih Muslim : 4/89, Sunan Abu Dawud : 4/111).
Dalil kedua yang dijadikan dasar Muhammadiyah untuk menentukan bilangan rakaat shalat Tarawih 8 rakaat berdasarkan kisah Umar bin al-Khathab memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamim ad-Dariy untuk menjadi imam shalat Tarawih dengan 11 rakaat.
عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ أَنَّهُ قَالَ أَمَرَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ وَتَمِيمًا الدَّارِيَّ أَنْ يَقُومَا لِلنَّاسِ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً قَالَ وَقَدْ كَانَ الْقَارِئُ يَقْرَأُ بِالْمِئِينَ حَتَّى كُنَّا نَعْتَمِدُ عَلَى الْعِصِيِّ مِنْ طُولِ الْقِيَامِ وَمَا كُنَّا نَنْصَرِفُ إِلَّا فِي فُرُوعِ الْفَجْرِ) موطأ مالك – (ج 1 / ص 341) ,المنتقى – شرح الموطأ – (ج 1 / ص 265) ,السنن الكبرى للبيهقي – (ج 2 / ص 496) إتحاف الخيرة المهرة – (ج 2 / ص 117)
“Dari Saib bin Yazid bahwasanya ia berkata : Umar bin al-Khathab memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamim ad-Dariy agar keduanya mengimami jamaah dengan 11 rakaat. Ia berkata, “ Dan sungguh imam kala itu membaca sekitar dua ratus ayat sampai-sampai kami bersandar atas tongkat karena lamanya berdiri. Dan kami tidak berpaling hingga mendekati fajar”. (Muwatha Malik : 1/341, al-Muntaqa Syarh al-Muwatha: 1/265), as-Sunan al-Kubra li al-Baihaqi : 2/496, Ithaf al-Khairah al-Mahrah : 2/117)
Dalil ketiga Muhammadiyah dalam menetapkan rakaat shalat Tarawih berjumlah 8 rakaat berdasarkan hadist berikut:
حَدَّثَنَا جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ ، قَالَ : جَاءَ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، كَانَ مِنِّي اللَّيْلَةَ شَيْءٌ فِي رَمَضَانَ ، قَالَ : وَمَا ذَاكَ يَا أُبَيُّ ؟ قَالَ : نِسْوَةٌ فِي دَارِي قُلْنَ : إِنَّا لاَ نَقْرَأُ الْقُرْآنَ ، فَنُصَلِّي بِصَلاَتِكَ ، قَالَ : فَصَلَّيْتُ بِهِنَّ ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ ، ثُمَّ أَوْتَرْتُ ، قَالَ : فَكَانَ شِبْهُ الرِّضَا ، وَلَمْ يَقُلْ شَيْئًا. صحيح ابن حبان بترتيب ابن بلبان ـ مشكول (6/ 290)
“Bercerita kepada kami Jabir bin Abdullah, ia berkata : Ubay bin Ka’ab datang kepada Nabi Saw. lantas berkata, “ Ya, Rasulullah, sesuatu telah terjadi padaku pada suatu malam yakni di bulan Ramadhan. Nabi bertanya, “ Apa yang terjadi hai Ubay?. Ubay Menjawab : “ Ada beberapa wanita di rumahku seraya berkata, “ Kami tidak bisa membaca al-Qur`an maka kami hendak salat bersamamu”. Ubay berkata, “ Maka aku salat bersama wanita-wanita itu 8 rakaat lantas aku berwitir”. Ubay berkata : Maka Nabi tampak ridha dan tidak mengucapkan sepatah katapun.” (Sahih Ibnu Hibban : 11/78).
Dalil Keempat
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ : صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي شَهْرِ رَمَضَانَ ثَمَانَ رَكَعَاتٍ وَأَوْتَرَ ، فَلَمَّا كَانَتِ الْقَابِلَةُ اجْتَمَعْنَا فِي الْمَسْجِدِ وَرَجَوْنَا أَنْ يَخْرُجَ إِلَيْنَا ، فَلَمْ نَزَلْ فِيهِ حَتَّى أَصْبَحْنَا ، ثُمَّ دَخَلْنَا ، فَقُلْنَا : يَا رَسُولَ اللهِ ، اجْتَمَعْنَا فِي الْمَسْجِدِ وَرَجَوْنَا أَنْ تُصَلِّيَ بِنَا ، فَقَالَ : إِنِّي خَشِيتُ أَوْ كَرِهْتُ أَنْ تُكْتَبَ عَلَيْكُمْ (مسند أبي يعلى (2/ 326)
“Dari Jabir bin Abdullah Ra. ia berkata : Rasulullah SAW pernah shalat bersama kami pada bulan Ramadhan dengan 8 rakaat dan lantas berwitir. Tatkala malam berikutnya kami berkumpul lagi di masjid dan berharap Nabi salat lagi bersama kami, namun beliau tidak keluar sampai pagi, padahal kami tunggu lantas kami menemui beliau seraya kami berkata : “ Ya, Rasulullah, semalam kami kumpul di masjid mengharap engkau salat bersama kami”. Lantas Rasulullah Saw. bersabda, “ Sesungguhnya aku takut – atau tidak suka- jika salat itu diwajibkan atas kalian.” (Abu Ya’la juga Ibnu Hibban dalam sahihnya, dikutip dari Ithaf al-Khairah al-Muhirrah : 2/117)
Dalil Kelima
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي لَبِيدٍ سَمِعَ أَبَا سَلَمَةَ قَالَ أَتَيْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ أَيْ أُمّهْ أَخْبِرِينِي عَنْ صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ كَانَتْ صَلَاتُهُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ وَغَيْرِهِ ثَلَاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً بِاللَّيْلِ مِنْهَا رَكْعَتَا الْفَجْرِ ) صحيح مسلم – (ج 4 / ص 91), شرح النووي على مسلم – (ج 3 / ص 76)
“Dari Abdullah bin Abi Lubaid ia mendengar Abu Salamah berkata : “Aku mendatangi Aisyah lalu aku berkata, Hai Ibu, kabarilah aku mengenai shalat Rasulullah.,maka Aisyah menjawab : Adalah shalat Rasulullah pada malam bulan Ramadhan dan selainnya 13 rakaat, sebagiannya adalah dua rakaat fajar.” (Sahih Muslim : 4/91, Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim : 3/76).