← Beranda

Apa itu Berbakti Kepada Orang Tua dan Pentingnya Berbakti Menyambut Hari Raya Idul Fitri Kali Ini Untuk Kita?

ARMSelasa, 18 April 2023 | 20.35 WIB
Ilusutrasi seorang pemuda muslim menunjukkan rasa hormat dan sayang kepada ayahnya. (Foto: Freepik.com)

JawaPos.com - Birrul walidain atau berbakti pada kedua orang tua merupakan salah satu perintah dari Allah SWT bagi setiap Muslim. Perintah ini bahkan tetap harus dijalankan, meski kita sudah menjadi orang tua dan memiliki anak sekali pun.

Tidak hanya sampai di situ, Allah SWT juga selalu menegaskan pentingnya kewajiban berbakti dan berbuat baik kepada orang tua, bersamaan dengan perintah untuk tidak menyekutukan-Nya. Hal ini tentu menunjukkan betapa pentingnya sikap baik kepada kedua orang tua.

Namun, bagaimana sebenarnya bentuk berbakti kepada orang tua yang tepat beserta contohnya dari orang-orang beriman terdahulu? Berikut ini adalah penjelasan dan kisahnya yang bisa kita teladani bersama.

Definisi Berbakti Kepada Orang Tua

Keluarga Muslim mengadakan pesta ramadan. (Foto: Freepik.com)
Keluarga Muslim mengadakan pesta ramadan. (Foto: Freepik.com)

Secara umum, yang dimaksud dengan berbakti kepada orang tua adalah berbuat baik, menaati segala perintah kecuali dalam hal maksiat, serta mendoakan keduanya. Hal ini sudah sepatutnya dilakukan, baik apabila kedua orang tua kita masih hidup atau pun telah meninggal dunia.

Bahkan, sikap bakti ini dapat dikatakan juga sebagai bentuk ketaatan kita kepada Allah SWT. Hal ini telah Allah tegaskan melalui firman-Nya dalam Al-Quran yang berbunyi,

وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِى ٱلدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَٱتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ ۚ ثُمَّ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Lukman: 15).

Ada pun dari segi kedudukan, berbakti kepada Ibu memiliki nilai yang lebih tinggi di sisi Allah SWT. Hal ini dijelaskan di dalam salah satu hadis Rasulullah berikut.

يا رسولَ اللهِ ! مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ : قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أباك ، ثُمَّ الأَقْرَبَ فَالأَقْرَبَ

“Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya.” (HR. Bukhari).

Dalil Berbakti Kepada Orang Tua

ILustrasi Alquran dibuka dengan lilin dan kurma. (Foto: Freepik.com)
ILustrasi Alquran dibuka dengan lilin dan kurma. (Foto: Freepik.com)

Sangat banyak dalil, baik dari Al-Quran mau pun hadis Rasulullah SAW, yang memerintahkan kita untuk berbakti kepada orang tua. Hal ini tentu sangat menegaskan bahwa, berbakti merupakan salah satu perintah yang mulia dan memiliki keutamaan sendiri di sisi Allah SWT.

Dalil dari Al-Quran
Di dalam Al-Quran, Allah telah banyak berfirman tentang perintah berbakti kepada orang tua. Bahkan, banyak menyandingkannya dengan perintah mulia lain seperti tauhid dan salat. Hal ini dapat kita lihat pada salah satu firman Allah SWT yaitu,

وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا وَبِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱلْجَارِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْجَارِ ٱلْجُنُبِ وَٱلصَّاحِبِ بِٱلْجَنۢبِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُكُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang Ibu-Bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An-Nisa: 36).

Tidak hanya itu, Allah juga secara tegas melarang sikap mencela kedua orang tua. Hal ini Allah rincikan di dalam Al-Quran yang berbunyi,

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada Ibu Bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra’: 23).

Dalil Berdasarkan Hadis Rasulullah SAW
Tidak hanya di dalam Al-Quran, perintah untuk menunaikan bakti pada orang tua juga banyak disabdakan oleh Rasulullah melalui hadis-hadis Beliau. Bahkan tidak sedikit, hadis-hadis tersebut juga turut menjelaskan mengenai keutamaan berbakti kepada orang tua yang istimewa di sisi Allah SWT.

Ada pun hadis-hadis Rasulullah SAW yang memerintahkan berbakti serta menjelaskan berbagai keutamaannya ialah sebagai berikut.

Salah Satu Amalan Paling Mulia
Berbakti kepada orang tua merupakan salah satu amalan yang sangat dicintai oleh Allah SWT. Bahkan, kecintaan Allah ini bersanding dengan ibadah salat, sebagaimana yang diterangkan oleh Rasulullah SAW melalu hadis berikut.

أيُّ العَمَلِ أحَبُّ إلى اللَّهِ؟ قالَ: الصَّلاةُ علَى وقْتِها، قالَ: ثُمَّ أيٌّ؟ قالَ: ثُمَّ برُّ الوالِدَيْنِ قالَ: ثُمَّ أيٌّ؟ قالَ: الجِهادُ في سَبيلِ اللَّهِ قالَ: حدَّثَني بهِنَّ، ولَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزادَنِي

“'Amal apa yang paling dicintai Allah ‘Azza Wa Jalla?'. Nabi bersabda: 'Salat pada waktunya'. Ibnu Mas’ud bertanya lagi: 'Lalu apa lagi?'.Nabi menjawab: 'Lalu birrul walidain'. Ibnu Mas’ud bertanya lagi: 'Lalu apa lagi?'. Nabi menjawab: 'Jihad fi sabilillah'. Demikian yang beliau katakan, andai aku bertanya lagi, nampaknya beliau akan menambahkan lagi." (HR. Bukhari dan Muslim).

Lebih Utama dari Jihad
Berbakti dan menuruti perintah kedua orang tua sejatinya lebih mulia dan utama dibandingkan jika kita pergi berperang untuk berjihad di jalan Allah SWT. Bahkan, Rasulullah SAW menegaskan bahwa berbakti kepada kedua orang tua juga merupakan bentuk berjihad di jalan Allah.

Hal ini diterangkan dalam hadis Rasulullah SAW yang berbunyi,
أحَيٌّ والِدَاكَ؟، قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَفِيهِما فَجَاهِدْ

“Apakah orang tuamu masih hidup?”. Lelaki tadi menjawab: “Iya”. Nabi bersabda: “Kalau begitu datangilah kedunya dan berjihadlah dengan berbakti kepada mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sebagai Salah Satu Pintu Surga
Seperti yang telah kita ketahui, bahwa surga memiliki beberapa pintu dan jalur untuk memasukinya. Ada pun berbakti kepada orang tua, merupakan salah satu jalur yang dapat kita jalani untuk membuka pintu surga. Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah SAW berikut.

الوالِدُ أوسطُ أبوابِ الجنَّةِ، فإنَّ شئتَ فأضِع ذلك البابَ أو احفَظْه

“Kedua orang tua itu adalah pintu surga yang paling tengah. Jika kalian mau memasukinya maka jagalah orang tua kalian. Jika kalian enggan memasukinya, silakan sia-siakan orang tua kalian.” (HR. at-Tirmidzi).

Untuk Menggapai Rida Allah
Berbakti pada kedua orang tua juga dapat menjadi salah satu jembatan untuk menggapai rida Allah SWT. Hal ini diterangkan oleh Rasulullah SAW dalam hadis Beliau yang berbunyi,

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسُخْطُ الرَّبِّ فِي سُخْطِ الْوَالِدِ

“Rida Allah bergantung kepada keridaan orang tua dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua.” (HR. Bukhari).

Berdasarkan berbagai dalil di atas, maka sudah sejatinya kita harus selalu berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua sebagai bentuk ketaatan dan kepatuhan kita pada perintah Allah dan Rasul-Nya. Bahkan tidak hanya itu, dalil di atas juga dapat menjadi dasar bahwa mendurhakai orang tua merupakan salah satu dosa besar yang sangat dibenci oleh Allah SWT.

Ilustrasi wanita berhijab di padang pasir. (Foto: Freepik.com)
Ilustrasi wanita berhijab di padang pasir. (Foto: Freepik.com)

Berbakti pada kedua orang tua dalam Islam, tidak hanya bisa kita lihat melalui perintah dalam dalil-dalil seperti di atas. Namun, Islam telah memberikan contoh secara langsung lewat para sahabat Rasulullah SAW dan orang-orang beriman terdahulu. Berikut adalah beberapa kisah yang dapat kita jadikan teladan dalam menjalankan bakti pada orang tua.

Kisah Teladan Sa’ad bin Abi Waqqash
Kisah teladan inspiratif mengenai berbakti kepada orang tua yang pertama datang dari salah satu sahabat Rasulullah yaitu Sa’ad bin Abi Waqqash. Sa’ad merupakan sahabat yang terkenal dengan ketaatan pada orang tuanya dan menjadi pemeluk Islam pertama.

Sahabat yang juga merupakan paman Rasulullah SAW ini, sangat patuh dan menghormati Ibunya. Walau pun sang Ibu, Hamnah binti Sufyan bin Abu Umayyah, merupakan seorang penyembah berhala. Sang Ibu sangat tidak menerima keputusan Sa’ad untuk berpindah agama pada usia 17 tahun. Meski begitu, Sa’ad tetap mencintai dan menghormati Ibunya.

Sang Ibu terus membujuknya untuk kembali menyembah berhala. Bahkan Ibunya rela untuk tidak makan dan minum hingga Sa’ad kembali ke agama nenek moyangnya. Namun, Sa’ad tetap teguh dalam keyakinannya sebagai seorang Muslim.

Di sisi lain, Ia masih tetap menjaga dan menghormati Ibunya, meski Sa’ad tidak menuruti permintaannya untuk berpindah agama. Sa’ad terus memperlihatkan kekuatan tekadnya dalam merangkul agama Islam. Hal ini pun akhirnya membuat sang Ibu menyadari, bahwa tindakannya hanya membawa kebencian dan kesedihan.

Kisah Teladan Uwais Al-Qarni
Uwais Al-Qarni ialah seorang pemuda beriman asal Yaman yang tidak pernah bertemu dengan Rasulullah. Ia memiliki kisah bakti kepada Ibunya yang sangat terkenal. Ia memiliki penyakit sopak dan hidup bersama Ibunya yang sudah tua dan lumpuh. Meski pun begitu, Uwais memiliki tekad memenuhi keinginan Ibunya untuk pergi berhaji.
Dalam usaha untuk membawa Ibunya berhaji, Uwais berlatih fisik dengan menggendong anak lembu naik turun bukit selama bertahun-tahun.

Ia menyimpan makanan untuk perjalanan tersebut karena tidak memiliki kendaraan. Dalam perjalanan yang panjang dan melelahkan dari Yaman ke Makkah, Uwais menggendong Ibunya sambil berjalan kaki.

Dalam semangat yang besar dan rasa bakti kepada Ibunya, Uwais melakukan tawaf dan berdoa di depan Ka'bah untuk kesembuhan Ibunya. Ia hanya meminta rida dari Ibunya agar bisa masuk ke dalam surga. Walau pun Uwais bukanlah termasuk ke dalam golongan sahabat, Rasulullah tetap mengagumi sosoknya karena kisah baktia kepada sang Ibu tersebut.

Kisah Teladan Kilab Bin Umaiyah
Keteladanan tentang kebaktian seorang anak pada orang tua lainnya dapat kita lihat dalam kisah sahabat yang bernama Kilab Bin Umaiyah. Kilab memiliki Ayah dan Ibu yang telah lanjut usia dan tak mampu melakukan aktivitas. Oleh karena itu, Kilab selalu menyiapkan susu bagi kedua orangtuanya setiap pagi dan petang.

Suatu waktu, Kilab harus pergi berjihad dalam medan perang. Ia pun membeli seorang hamba sahaya untuk merawat orangtuanya. Namun, hamba sahaya tersebut tidak memberikan susu di petang hari, sehingga kedua orang tua Kilab terbangun dalam keadaan lapar dan tak berdaya di tengah malam. Bapak Kilab kemudian mengucap permohonan kepada Kilab dengan kitabullah.

Perkataan tersebut akhirnya sampai kepada Umar bin Khattab, yang kemudian meminta Kilab untuk memeras susu unta untuk Ayahnya. Ketika Ayah Kilab meminum susu itu, ia mengenali bau dan tahu siapa yang memeras susu itu. Umar pun akhirnya mengutus Kilab untuk pulang dan merawat orangtuanya sampai wafat.

Kisah Kilab, seperti dua kisah sebelumnya, menunjukkan pentingnya berbakti pada orang tua dan bagaimana Allah SWT menghargai kebaktian kita pada orangtua. Oleh karena itu, hendaknya kita selalu berusaha untuk menjadi anak yang berbakti dan menyayangi orangtua, karena itu adalah amalan yang mudah namun memberikan banyak keberkahan.

Cara-cara Berbakti Kepada Orang Tua

Wanita Muslim berbagi makanan di pesta ramadan. (Foto:Freepik.com)
Wanita Muslim berbagi makanan di pesta ramadan. (Foto:Freepik.com)

Setelah mengetahui berbagai penjelasan dalil dan contoh perilaku berbakti kepada orang tua di atas, maka kita dapat menyimpulkan beberapa cara untuk berbakti dengan benar.

Secara umum, terdapat 2 kesempatan bagi kita untuk berbuat baik kepada orang tua, yaitu saat mereka masih hidup dan setelah mereka wafat. Di saat orang tua masih dalam keadaan hidup, maka yang dapat kita lakukan adalah,
Mentaati selama bukan maksiat.

Bersikap rendah hati dan berbicara lemah lembut.
Memohonkan ampunan bagi keduanya.
Membantu dengan harta.
Memintakan restu keduanya terlebih dahulu atas perbuatan penting yang akan kita lakukan.
Membayarkan fidyah apabila mereka sudah berusia lanjut.
Sedangkan jika kedua orang tua kita telah meninggal dunia, maka sikap berbakti yang dapat kita lakukan adalah,
Mengurus jenazahnya sesuai syariat Islam seperti memandikan, mengkafani, mensalatkan, dan menguburkannya.
Senantiasa berdoa untuk memohonkan ampun atas segala dosa keduanya.
Memenuhi segala janjinya semasa hidup yang belum terlaksana seperti wasiat dan hutang piutang.
Menghormati teman dan sahabat orang tua semasa keduanya masih hidup.
Baca Juga : Bolehkah Memberi Zakat kepada Orang Tua atau Kerabat?
Makna Lebaran Dalam Rangka Berbakti Kepada Orang Tua

Pasangan usia muslim asia yang bahagia bertemu dengan anak-anak dan cucu di depan pintu selama perayaan  Idul Fitri. (Foto: Freepik.com)
Pasangan usia muslim asia yang bahagia bertemu dengan anak-anak dan cucu di depan pintu selama perayaan Idul Fitri. (Foto: Freepik.com)

Sebentar lagi kita semua akan bertemu dengan hari raya lebaran Idulfitri. Di mana dalam rangka menyambut lebaran tersebut, terdapat sebuah tradisi khususnya di Indonesia yang biasanya dilakukan oleh masyarakat. Kegiatan tersebut adalah pulang ke kampung halaman atau yang biasa kita sebut sebagai mudik.

Mudik sejatinya adalah sebuah tradisi yang lahir akibat rasa rindu untuk pulang ketika seseorang berada di tanah rantau. Perasaan rindu akan tanah kelahian ini bahkan juga dirasakan oleh Rasulullah SAW, yang tergambar lewat hadis Beliau berikut ini.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لِمَكَّةَ : ” مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلَدٍ وَأَحَبَّكِ إِلَيَّ ، وَلَوْلا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ ، مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ
“Berkata Rasulullah saw, “Alangkah indahnya dirimu (Makkah). Engkaulah yang paling ku cintai. Seandainya saja dulu penduduk Mekah tidak mengusirku, pasti aku masih tinggal di sini.” (HR. at-Tirmidzi).

Namun, mudik tidak hanya memiliki arti sekadar kembali ke kampung halaman. Terdapat dimensi spiritual di dalamnya yang tidak dapat dinilai dengan nilai materi di dunia. Jika kita renungkan lebih dalam lagi, hakikat mudik sejatinya adalah kembali ke pangkuan orang tua.

Maka dari itu, jadikanlah mudik pada hari raya Idulfitri kali ini sebagai sarana untuk memohon maaf atas kesalahan yang telah kita lakukan terhadap kedua orang tua. Mari kita tanamkan tekad di dalam hati untuk tidak lagi menyakiti perasaan dan tubuh mereka.

Bahkan, kita harus menyadari bahwa jasa dan pengorbanan yang mereka berikan kepada kita tidak akan bisa diganti dengan apa pun. Dengan begitu, semoga semua dosa kita kepada Allah, orang tua, dan sesama akan diampuni. Sehingga, kita dapat kembali menjadi insan yang suci dan mendapatkan kemenangan di hari raya Idulfitri kali ini.

Itu dia pembahasan mengenai birrul walidain yang dapat kita jadikan sebagai teladan dan laksanakan bersama. Pulang kembali ke kampung halaman untuk meminta maaf, merupakan salah satu bukti bakti kita yang paling tinggi selama kedua orang tua masih hidup. Sejatinya, teknologi pun juga tidak dapat mengobati rindu orang tua kepada kita selama ini.

Maka, syukurilah kondisi kita yang masih memiliki orang tua. Sebagai bentuk cinta terhadap orang tua yang telah mendidik kita, berilah kado terbaik kekal abadi untuk mereka. Mari bersama Dompet Dhuafa hadiahkan wakaf terbaik atas nama orang tua kita agar pahala terus mengalir meskipun mereka telah tiada. (Adnan Syadidan/Fau)

 

EDITOR: Mohamad Nur Asikin