alexametrics
Kelana Ramadan

Ponpes Annuqayah, Sumenep, Lahirkan Banyak Penulis Berbakat

Gairah Literasi yang Tumbuh Turun-temurun
27 Mei 2019, 02:05:23 WIB

JawaPos.com – Sore selepas mengaji kitab, sejumlah santriwati berkumpul di serambi musala Pondok Pesantren (Ponpes) Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Madura. Mereka duduk membentuk setengah lingkaran.

Seorang santriwati yang duduk di tengah menjadi pusat perhatian. Panggilannya Ana. Dia membacakan tulisan dalam kumpulan kertas yang dilipat-lipat. Santriwati lainnya menyimak. Di akhir bacaan, ada yang nyeletuk. Seperti memberikan saran atas isi cerita yang dibacakan Ana. “Seharusnya bisa happy ending, bukan sad ending,” kata santriwati tadi.

Itu adalah diskusi antarsantri yang terjadi pada 2010. Di depan teman-temannya, Ana tengah “mempresentasikan” buah karyanya berupa novel. Ditulis tangan dalam lembaran kertas. Lebih dari setahun dia menulis novel itu.

Karya kreatif santriwati tersebut ditulis di dalam kamar pondoknya di Ponpes Annuqayah. “Saya tahu betul ceritanya karena saya sendiri yang memergoki mereka saat diskusi di musala itu,” tutur KH M. Faizi, seorang pengasuh Ponpes Annuqayah, Selasa malam (21/5).

Sebagai penyuka karya sastra, Faizi tentu penasaran. Dia sampai ikut membaca hasil coretan santriwatinya itu. Lantas, meminta untuk diketik ulang dengan komputer.

ILUSTRASI: Santri di masjid menjalani ibadah sambil menunggu waktu berbuka. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

Selanjutnya, diurus proses penerbitan menjadi buku ke Mata Pena. Lewat penerbit buku asal Jogjakarta itu, akhir 2010 terbitlah novel berjudul Cita Lora. Novel setebal 136 halaman tersebut menjadi teen literature alias teenlit dalam versi dunia pesantren. “Kami sebut dengan sastra pesantren. Cerita yang semua sumber inspirasinya dari dunia pesantren,” paparnya.

Sebetulnya banyak santri yang tertarik tulis-menulis. Namun, tidak semuanya beruntung. Salah satunya, Mahalli Hatim Nadzir. “Dia juga menulis novel. Saat akan disodorkan ke penerbit, eh catatannya hilang. Sayang sekali,” kisahnya.

Ponpes Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, memang menaruh perhatian besar terhadap dunia literasi. KH M. Faizi adalah seorang sastrawan. Dia telah menulis lebih dari 30 judul buku. Umumnya berupa puisi, esai sastra, dan sebagian cerpen. Sekitar 12 puisinya juga muncul dalam bentuk antologi bersama sejumlah sastrawan papan atas Indonesia.

“Menulis di sini menjadi kebiasaan. Padahal, pondok sendiri tidak pernah mengoordinasi santri untuk menulis,” tutur pria yang pernah diundang ke acara sastra Berlin Arts Festival di Berlin, Jerman, itu.

Gairah literasi di Ponpes Annuqayah seperti turun-temurun. Para pengasuh generasi kedua dan ketiga juga meninggalkan jejak berupa karya. Mereka seolah memberikan teladan kepenulisan kepada para santri. Meski, bentuknya berupa kitab-kitab berbahasa Arab. Salah satunya, KH Ahmad Basyir yang menulis kitab tafsir.

Dewan Pengasuh Ponpes Annuqayah KH Ahmad Hanif Hasan mengatakan, dunia literasi memang cukup berkembang di lingkungan ponpes. Menurut dia, semangat tersebut tumbuh secara alami. Ponpes tidak getol menyelenggarakan kegiatan tulis-menulis.

Satu-satunya kegiatan yang diselenggarakan rutin tiap tahun adalah Festival Cinta Buku (FCB). Acara itu difasilitasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika). “Setiap tahun kami mendatangkan penulis-penulis terkenal. Itu jadi kesempatan emas para santri untuk menimba ilmu,” ujar KH Ahmad Hanif Hasan.

Sejak 1990-an, Ponpes Annuqayah telah melahirkan sedikitnya 198 penulis. Sebagian besar adalah generasi lulusan madrasah aliyah (MA) angkatan 2000-an ke atas.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (mar/c10/fal)