alexametrics

Gus Mus tentang Ramadan, Toleransi, dan Kebangsaan

Keindahan Berbeda Itu Harus Kita Nikmati
25 Mei 2019, 17:14:58 WIB

JawaPos.com – Menurut KH MUSTOFA BISRI, jangan mempertentangkan agama dengan berbangsa. Berikut petikan perbincangan pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, itu dengan wartawan Jawa Pos EKO SULISTYONO yang sowan ke sana.

Gus, Ramadan kan media untuk belajar. Bagaimana kita memetik hikmah dari Ramadan tentang toleransi?

Allah itu saking baiknya dengan hamba-Nya yang namanya manusia, diberikanlah satu bulan dari 12 bulan untuk bersendiri dengan diri sendiri untuk merenung. Sebelas bulan lalu kita sibuk kelakuan kita kayak apa, sebelas bulan kita makan apa. Jangan-jangan kita tidak hanya makan nasi tok, tapi kita makan dagingnya kawan juga.

Tentu Ramadan tidak hanya akan menjadi bulan pengalihan jadwal makan. Kalau bulan lain-lainnya makan siang hari, kalau Ramadan makannya malam hari. Malah menunya lebih enak. Semuanya kita renungkan. Bukan hanya makanan, tapi juga pergaulan. Pergaulan kita dengan Allah dan pergaulan dengan sesama. Itu kita renungkan semua di bulan Ramadan.

Kalau toleransi tidak hanya saat Ramadan. Tuhan menciptakan kita tidak dalam satu kelompok, tidak satu jenis manusia. Tuhan menciptakan kita berbangsa-bangsa, bersuku-suku. Kalau kita diciptakan Tuhan berbeda-beda, tapi tidak bisa berbeda, berarti kita tidak bisa hidup. Kita harus selalu ingat bahwa perbedaan itu fitrah.

Perbedaan itu fitrah. Lalu bagaimana kita bisa merawatnya tanpa bergesekan?

Misalnya, kita punya istri. Boleh fanatik, kita puji setinggi langit, tapi tidak boleh melewati ini dengan membandingkan dengan istri orang lain. Fanatik pada agama boleh, tapi tidak kemudian dengan menjelekkan agama lain. Partai kita puji setinggi langit silakan, tapi tidak lantas menjelekkan partai lain. Pilihan kita kita puji setinggi langit, tapi tidak dengan menjelekkan pilihan orang lain.

Intinya gampang sekali kok. Tapi, karena kita sudah terbiasa, dulu itu diseragamkan. Dikit-dikit harus podo. Padahal, perbedaan itulah yang bikin kita nyaman. Kita ke taman saja ada warna merah, ungu, pink, kuning. Indah sekali. Sekarang kita harus bingung lihat pelangi, kenapa bisa warna-warni. Keindahan berbeda itu harus kita nikmati. Agar toleran.

Ghirah keislaman kan sedang sangat tinggi. Itu terlihat dari fenomena berhijrah misalnya. Tapi, kenapa belakangan kok intoleransi juga tinggi?

Ya, karena tidak mau belajar. Apa saja itu harus belajar. Apalagi soal agama. Soal makan saja belajar sampai puluhan tahun kok. Orang belajar-belajar nanti buat cari kerjaan to? Orang kerja kan buat makan, udah. Untuk cari makan belajar, ini untuk cari rida Allah tidak belajar, gimana? Belajar ridanya Allah harus sungguh-sungguh, pakai diploma. Masak belajar agama malah gak sungguh-sungguh?

Kamu sekolah kedokteran baru semester lima sudah nyuntik orang, ya ditangkap polisi. Tapi, kamu sekolah agama baru tsanawiyah jadi ustad, siapa yang nangkap? Yang harus kita pikirkan bagaimana belajar agama yang sungguh-sungguh. Kan sudah ada lembaga-lembaganya, silakan belajar.

Sebaiknya agama itu kita tempatkan atau letakkan di mana dalam kehidupan berbangsa?

Lho, bangsa kita itu bangsa yang beragama. Kalau masing-masing belajar agamanya sendiri, tidak ada masalah. Jangan mempertentangkan agama dengan berbangsa. Kita itu orang Indonesia yang beragama. Bukan orang beragama yang kebetulan di Indonesia. Saya ini orang Indonesia yang beragama Islam. Jadi saya di rumah ini, ini Indonesia. Tempat sujud saya di sini, tempat iktikaf saya di sini, tempat silaturahmi saya di sini, tempat saya baca Quran di sini, tempat tahajud saya di sini. Kamu mau rusak? Tak antemi kamu.

Bagaimana kita bisa militan terhadap keyakinan kita, tapi juga tetap toleran terhadap agama lain, Gus?

Kita harus paham militan itu apa. Caranya ngaji. Tidak belajar, tidak ngaji, tidak bisa. Intinya ngaji, ngaji. Jangan berhenti. Minal mahdi ilal lahdi. Itu faridhotun ‘alaa kulli muslimin wal muslimat. Kalau ngaku orang muslim ya belajar. Belajar terus jangan berhenti. Dan orang harus tahu makomnya sendiri. Kalau tahu ukuran diri insya Allah selamat.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (*/c9/ttg)