alexametrics
Kelana Ramadan

Berebut Berkah di Bekas Kamar Pendiri NU

Ponpes Langitan Lahirkan Banyak Tokoh Besar
23 Mei 2019, 23:55:42 WIB

JawaPos.com – Pondok Pesantren Langitan punya sejarah panjang sebagai pesantren salaf tertua di Pulau Jawa. Berdiri pada 1852, ponpes yang terletak di Widang, Tuban, Jawa Timur (Jatim), itu melahirkan banyak tokoh besar.

Sepuluh santri bersila di ruangan sederhana Minggu malam (19/5). Mereka larut dengan bacaan masing-masing.

Ada tafsir Jalalain, Bulughul Maram, Fathul Mu’in, Fathul Qorib, Ihya’ Ulumuddin, dan sederet kitab lain. Semuanya adalah kitab kuning atau akrab disebut kitab gundul. Satu-satunya buku berbahasa Indonesia yang dibaca seorang santri berjudul Fatwa dan Resolusi Jihad. Ditulis Agus Sunyoto, sejarawan dan intelektual NU. Buku itu merekam kiprah sosok Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari yang melahirkan perlawanan rakyat Surabaya pada 10 November 1945.

Kamar sempit itu seperti tak menampung jumlah santri di dalamnya. Betapa tidak. Ukurannya hanya 3 x 3 meter dengan tinggi sekitar 2,5 meter. Namun, para santri terlihat sangat menikmati bacaan masing-masing meski duduk berdesak-desakan. “Saya sudah empat tahun tinggal di kamar ini,” tutur Fajar Miftah Alkamil, 17.

Seorang santri Ponpes Langitan menunjukkan bekas kamar pendiri NU. (Umar Wirahadi/ Jawa Pos)

Santri asal Duduksampeyan, Gresik, itu mengaku sangat betah. Meski, dia harus berjubelan dengan santri lainnya. Bahkan, jumlah penghuni kamar sempit itu 14 orang. “Saya bangga dan merasa beruntung jadi penghuni kamar ini,” tambah Muzamil, santri asal Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar).

Mengapa demikian? Ternyata itu bukan sembarang kamar. Ruangan bernomor C 9 yang hingga kini masih terjaga keasliannya itu pernah didiami Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari saat menimba ilmu di Ponpes Langitan. Itu sekitar akhir 1900-an. Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) tersebut mondok di sana selama tiga tahun. Dari kamar itu juga lahir sederet cerdik cendekia. Termasuk KH Wahab Hasbullah. Tahun 1934, dia mengarang syair Ya Lal Wathon yang kini populer dinyanyikan di kalangan nahdliyin. Ulama besar yang lahir dari kamar itu adalah KH Kholil, Bangkalan. Tak heran, para santri “rebutan” ingin tinggal di sana. Ingin ngalap berkah para tokoh-tokoh besar itu.

Kamar istimewa tersebut terletak di kompleks Al Maliki, Ponpes Langitan. Di dalamnya terdapat sepuluh kamar. Ukuran setiap kamar sama. Di atasnya tergantung dokumentasi foto tokoh-tokoh yang pernah tinggal.

Santri Ponpes Langitan tengah belajar. (Umar Wirahadi/ Jawa Pos)

Meski berusia lebih dari satu abad, keaslian bangunan itu masih terjaga. Seluruh bagiannya terbuat dari kayu jati. Mulai lantai, pagar, hingga pintu dan jendela. Kecuali atap yang dari seng tua dan terlihat sudah lapuk. “Ini seperti cagar budayanya Pondok Langitan,” tutur KH Abdullah Habib Faqih, majelis masyayikh Ponpes Langitan.

Pihak pondok merawatnya dengan baik. Melakukan beberapa renovasi bila ada kerusakan. Tidak sampai mengubah struktur dan bentuk bangunan. Termasuk mengecat ulang pagar agar kekuatan kayu terjaga. Perawatan bangunan tersebut juga bagian dari wasiat para pendiri ponpes yang kini telah berusia 167 tahun itu. “Bangunan tersebut menjadi saksi sejarah. Biarlah terus berdiri sebagai sedekah dan amal jariah yang terus mengalir,” imbuh KH Abdullah Habib.

Pondok yang berdiri persis di pinggir Bengawan Solo itu menjadi ponpes salaf murni. Ponpes Langitan sangat memegang teguh kaidah fikih. Almuhafadhotu alal qodimis sholeh wal akhdu bil jadidil ashlah. Artinya, memelihara budaya-budaya klasik yang baik dan mengambil budaya-budaya baru yang bersifat konstruktif. “Itu jadi prinsip keilmuan dan karakter santri,” paparnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (mar/c10/oni)