alexametrics

Menjaga Kebersamaan saat Pandemi di Pullman

Oleh DAVID SEGOH, Mahasiswa S-3 di WSU
20 Mei 2020, 17:03:02 WIB

Saling Antar Makanan Pengganti Kumpul di Taman

DUA tahun terakhir, sejak saya tinggal di Pullman pada Agustus 2017, tradisi buka puasa bersama tidak pernah terlewatkan.

Di satu-satunya masjid di Pullman, tidak jauh dari apartemen milik Washington State University (WSU) yang dikhususkan untuk mahasiswa pascasarjana dan keluarganya, kami biasa berkumpul.

Pullman merupakan kota kecil dengan penduduk sekitar 30 ribu. Letaknya sekitar 5 jam berkendara dari Seattle, kota terbesar di Negara Bagian Washington. Hampir sebagian besar penduduknya adalah mahasiswa dan dosen WSU. Kegiatan usaha di kota ini terkait dengan universitas.

Di sini sebagian besar muslim berasal dari Timur Tengah dan Afrika Utara seperti Mesir dan Libya. Ada juga yang dari Bangladesh dan Pakistan. Dari Indonesia hanya beberapa, termasuk saya. Tapi, ada Persatuan Mahasiswa Indonesia Seluruh Amerika Serikat (Permias) dengan anggota sekitar 30 orang.

Saat buka puasa bersama, yang menyuplai makanan adalah komunitas-komunitas yang ada. Bisa juga dari individu-individu. Tahun lalu Permias juga berpartisipasi. Permias menyelenggarakan lomba hafalan Alquran untuk anak-anak sekolah dan acara open house pada minggu terakhir Ramadan 2019. Yang diundang tak hanya orang muslim. Wali kota, kepala polisi, perwakilan gereja-gereja yang ada, dan masyarakat umum hadir untuk tahu lebih banyak tentang Islam dan Ramadan.

Ini puasa ketiga saya di Pullman. Puasa tahun ini berbeda. Rentang waktunya mencapai 15 jam lebih pada awal Ramadan. Muslim di Pullman sahur pukul 03.40 dan berbuka pukul 20.00. Perbedaan lainnya karena ada pandemi Covid-19. Ada perintah stay at home and stay healthy dari gubernur Negara Bagian Washington.

Pemerintah melarang semua acara kumpul-kumpul keagamaan, sosial, dan rekreasi. Kegiatan di Masjid Pullman tutup sejak akhir Maret. Salat berjamaah di masjid, termasuk salat Jumat, ditiadakan. Termasuk pembelajaran Alquran tiap Minggu untuk anak-anak. Akhirnya, selama bulan puasa ini yang bisa dilakukan masjid adalah mengoordinasikan pengumpulan dana untuk mahasiswa dan muslim yang membutuhkan makanan untuk berbuka yang mereka bisa ambil di satu-satunya toko halal di Pullman.

Bagaimana dengan saya bersama istri dan dua anak? Tidak jauh beda dengan kebiasaan di Indonesia. Sahur dan buka dengan lauk lengkap. Alhamdulillah di Pullman ada toko halal yang menjual daging dan makanan-makanan halal lainnya serta bumbu-bumbu Asia. Ada juga toko Asia yang menjual bahan-bahan makanan Asia seperti kecap manis.

Tahun ini istri yang menyiapkan sendiri untuk berbuka. Jika rindu dengan cita rasa tanah air, kami menyiasati dengan membeli beberapa bumbu Indonesia dan kerupuk secara online dari sebuah toko Indonesia di Philadelphia.

Media sosial juga digunakan untuk ngobrol dengan teman-teman Indonesia di Pullman. Larangan berkumpul membuat kami tak bisa melakukan buka bersama atau kegiatan di Ramadan lainnya. Padahal, tahun lalu, saat udara mulai hangat seperti sekarang, biasanya kami mengadakan acara kumpul dan makan bersama di taman. Untung, ada beberapa teman Indonesia yang tinggal satu kompleks dengan saya. Kami saling mengantar makanan.

Seperti terjadi di banyak negara, selama pandemi, banyak tempat usaha yang tutup. Yang boleh buka hanya supermarket yang menjual makanan. Restoran hanya boleh delivery dan take away.

Masyarakat Pullman cukup kompak. Ada beberapa grup FB dan beberapa tempat yang menawarkan makanan gratis. Universitas juga menawarkan makanan kalengan dan barang-barang kebutuhan pokok lain yang bisa diambil gratis oleh mahasiswa. Hal unik lainnya, masyarakat Pullman memberikan reimbursement USD 25 bagi yang belanja di toko-toko lokal. Tujuannya, meringankan beban keuangan mahasiswa.

*) Disarikan dari wawancara dengan Ferlynda Putri

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c7/fal



Close Ads