alexametrics
Kelana Ramadan

Ajarkan Menghafal Alquran Sekaligus Berdakwah

19 Mei 2019, 20:52:52 WIB

JawaPos.com – “Nanti waktu Idul Fitri, jangan menampakkan wajah yang sebal sekalipun suguhan makanan yang kita terima tidak enak. Tampakkanlah wajah senang karena kita sudah dikasih makanan oleh saudara dan tetangga yang kita kunjungi,” ucap Ustad Saiful Bahri saat kajian setelah salat Jumat (17/5).

Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an (DaQu) itu memberikan wejangan sebelum para santri di ponpes pulang ke rumah masing-masing mulai hari ini (19/5) untuk liburan sekolah. Adab dan sopan santun yang biasa diterapkan di pondok juga harus diterapkan di rumah.

Apalagi, di rumah lebih banyak godaan ketimbang di pondok. Di rumah, para santri bebas nonton televisi dan main gadget. Kalau tidak istiqamah berakhlak baik, adab yang diajarkan di pondok bisa luntur.

Saiful bilang, kelemahan perempuan ada di mulut, sedangkan kelemahan laki-laki ada di mata. Kelemahan itu tampak ketika seseorang sedang sendirian. “Itu sebabnya perempuan kalau nangis yang ditutupi itu mulutya, kalau laki-laki yang ditutupi matanya. Makanya, laki-laki harus menjaga pandangannya, di mana pun dia berada,” lanjut Saiful. Kajian santri bakda Jumat seperti itu rutin diadakan di pondok.

Aktivitas para santri di Pondok Pesantren Darul Quran, Tangerang. (IMAM HUSEIN/JAWA POS)

Di sisi lain, para santriwati di Ponpes Tahfidz DaQu Cikarang, Bekasi, mempunyai kegiatan keputrian setiap Jumat. Meski saat ini masuk masa libur sekolah, beberapa santri kelas XI tetap tinggal di pondok. Mereka menjalankan ibadah Tarawih, mengikuti program-program pelatihan, dan mengadakan rapat kerja pengurus OsDaQu (semacam OSIS).

Para siswa baru boleh pulang ke rumah pada H+10 hingga H+12 Idul Fitri. Mereka hanya punya waktu libur 10-14 hari, tak sepanjang teman-teman lain yang bisa sampai lebih dari sebulan.

Muhammad Akmal Razaan adalah salah satu santri yang baru pertama merasakan Idul Fitri di tanah rantau. Santri asal Banjarmasin itu tidak berkeberatan stay di pondok. Sebab, orang tuanya juga sudah merestui aktivitas Razaan di Tangerang.

 

Aktivitas para santri di Pondok Pesantren Darul Quran, Tangerang. (IMAM HUSEIN/JAWA POS)

Ponpes DaQu tak hanya mewajibkan santri untuk rajin menghafal dan memahami makna Alquran. Para santri juga diajari untuk menyebarkan ilmu kepada orang-orang di sekitar mereka. Contohnya, Muhammad Gillang Gymnastiar yang sering mengisi kultum bakda subuh di tempat asalnya di Garut.

Santri yang sudah hafal Alquran 30 juz itu merasa mempunyai tanggung jawab besar. Sebab, tak banyak generasi muda di tempat tinggalnya yang punya kesempatan belajar agama secara mendalam seperti dirinya. “Siapa lagi yang akan mengubah keadaan di kampung saya kalau bukan saya,” ujar santri kelas XI tersebut.

“Kita belajar melalui hafalan, halaqah, murojaah, dan lain-lain supaya kita mengerti. Kalau sudah mengerti, giliran kita nih yang menyebarkan ilmu kepada orang lain. Tapi, menyebarkan ilmu itu juga harus pakai ilmu, pakai dasar, enggak bisa sembarangan,” tegas Ustad Yusuf Mansur, pemilik Ponpes Tahfidz DaQu.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (rin/c5/oni)