Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 24 Juni 2017 | 15.19 WIB

Masjid Jalur Raya Malang Adopsi Mulai Turki Usmani sampai Moskow

DOMINASI HIJAU: Menara Masjid Al Hikmah di Raya Tebel yang dicat dengan kombinasi menarik empat warna. - Image

DOMINASI HIJAU: Menara Masjid Al Hikmah di Raya Tebel yang dicat dengan kombinasi menarik empat warna.

JawaPos.com – Jono, salah seorang marbot di Masjid Besar Al Karomah, tampak sibuk. Dengan tangkas, dia naik ke bagian atas beduk. Ukuran beduk tersebut memang sangat besar sehingga bisa ”ditunggangi”. Jono mengelapnya dengan telaten. Setelah itu, giliran kentongan kayu setinggi manusia dewasa yang dibersihkan.


Sehari-hari Jono bersama dua rekannya, Hidayat dan Kartono, bertugas merawat beberapa perlengkapan masjid agar selalu bersih. Hidayat kebagian tugas mengepel lantai. Tak ketinggalan, lantai di bawah menara.


”Dari dulu masjidnya sudah seluas ini. Tapi, belum dibangun (tembok, Red) semua. Yang utama ya ruang tengah itu,” kata Hidayat Kamis (22/6).


Pria yang akrab disapa Gus Dayat oleh para jamaah itu sudah lebih dari sepuluh tahun menjadi marbot di masjid tersebut. Menurut dia, renovasi terakhir berjalan bertahap selama 10 tahun. ”Nah, waktu mau bangun menara sama kubah utama itu, petugas takmir berkumpul. Rembukan modelnya bagaimana,” kenang Dayat.


Hasilnya, dipilihlah model menara dengan bagian atas meruncing. Seperti kerucut. Tampak ramping. Model tersebut mengadopsi menara masjid pada era Dinasti Turki Usmani. ”Kadang ya orang-orang foto menara. Background-nya menara begitu,” kata Hidayat.


Tak sedikit warga yang datang sebelum magrib untuk mengikuti kajian di masjid sekaligus berfoto ria. Pengurus masjid tidak keberatan sepanjang dilakukan dengan sopan.


Menara Masjid Raya Tebel yang berwarna hijau juga istimewa. Ada kubah kecil di bagian tengah dengan empat warna sekaligus. Hijau, biru, kuning, dan oranye. Bergaya ala Moskow di Eropa Timur.


Masjid Besar Al Hidayah sejatinya berasal dari masjid kecil yang telah beberapa kali mengalami pemugaran. Menurut Syaiful, berdasar cerita yang hingga saat ini dipercaya, masjid tersebut didirikan Kiai Obong. Dia adalah sesepuh desa. Tahunnya masih simpang siur. Namun, makam utama pendiri itu berada di belakang masjid.


 ’’Perkiraan ya sekitar 1907 awal berdirinya,’’ ungkapnya. Renovasi besar dilakukan pada 2010 hingga menjadi semegah sekarang. Pertanda bahwa Masjid Al Hidayah sudah berusia tua adalah adanya sejumlah makam tua pejabat ’’tempo doeloe’’. Di antaranya, makam Bupati Residen Surabaya R Djoko Soekarno Prawiro Amiprojo dan makam Wedono Gedangan R. Prawiro Adimedjo. (via/c6/c7/pri)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore