alexametrics

Masuk Masjid Sabilillah Wonokromo, Harus Patuh Aturan Kesehatan

17 Mei 2020, 03:00:38 WIB

JawaPos.com – Alis kanan Sugiyanto sedikit terangkat. Dia kembali melanjutkan ceritanya tentang situasi Ramadan di Masjid Sabilillah, Jumat (15/5). Sugiyanto adalah salah seorang pengurus masjid di Jalan Wonokromo tersebut.

Pengamatannya, masjid lebih sepi dari hari biasa atau Ramadan tahun lalu. Ditambah, lanjut Sugiyanto, Darmo Trade Center (DTC) ditutup lebih awal. Karena efek pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Surabaya. Lokasi Masjid Sabilillah berada di samping DTC. Hanya dipisahkan sebuah gang.

”Masjid ini enggak dikelilingi kompleks permukiman, tapi pedagang DTC dan pengendara lalu lintas. DTC tutup cepat, masjid jadi makin sepi,” terangnya saat ditemui Kamis (14/5).

Sejak awal Ramadan, Masjid Sabilillah tak menyetop pemberian makanan hingga minuman takjil. Jika tidak ada orang yang memberi takjil, Sugiyanto hanya menyediakan teh manis. Tumpukan gelas ditata di meja di teras masjid dua lantai itu. Apabila ada takjil, dia juga akan menata kudapan takjil tersebut.

Sugiyanto menghela napas panjang, lalu menghentikan ceritanya sebentar. Kemudian, dia duduk bersila. Karena kondisi masjid yang tidak ramai seperti biasanya, terutama menjelang berbuka, makanan hingga minuman takjil tersisa banyak. ”Apalagi kalau Jumat. Karena Jumat itu banyak orang yang memberi takjil. Buah hingga nasi,” ucapnya.

Nah, selain masih menyediakan takjil, Sugiyanto mengatakan, masjid juga menyelenggarakan salat Jumat dan salat fardu lainnya. ”Pokoknya, sebelum masuk masjid, cuci tangan dan wajib pakai masker. Kami tidak melarang untuk beribadah,” tegasnya.

Saat salat Jumat dan Tarawih, lanjut dia, speaker luar masjid dimatikan. Speaker hanya dipancarkan ke dalam masjid. Bila malam tiba, masjid tutup lebih awal dari biasanya.

Kini pintu masjid ditutup pukul 23.00. Namun, kata Sugiyanto, apabila pada pukul 22.00 tidak ada jamaah, masjid akan ditutup. ”Bahaya juga kalau tidak segera ditutup. Karena sudah sepi kondisi jam segitu (pukul 22.00, Red),” terangnya.

Lantas, apakah ada iktikaf? Sebab, biasanya di sepuluh hari terakhir, jamaah berduyun-duyun ke masjid untuk iktikaf. Sugiyanto mengatakan, jika ada jamaah, masjid akan dibuka untuk iktikaf. Dia menegaskan, tidak ada larangan iktikaf.

Rasa rindu jamaah yang berkerumun di masjid kala azan Magrib berkumandang menyeruak dalam hati Sugiyanto. Namun, apa daya. Hal itu tak bisa terwujud. Dia hanya berharap kondisi pandemi segera berakhir.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : sam/c6/git



Close Ads