alexametrics
Kelana Ramadan

Merasakan Mondok di Pesantren Tebuireng, Jombang

Ramadan, Full Ngaji Bandongan dan Sorogan
16 Mei 2019, 20:53:18 WIB

JawaPos.com – Pondok pesantren menjadi salah satu urat nadi perkembangan Islam di Indonesia. Karena itu, mulai hari ini Jawa Pos menurunkan tulisan tentang aktivitas Ramadan di beberapa pesantren.

Ustad Iskandar, kepala Pondok Putra Pesantren Tebuireng Jombang, terkejut. Tamu di sampingnya yang dia ajak berkeliling melihat lingkungan pesantren tiba-tiba menangis.

Beberapa saat sebelumnya, tamu tersebut berpapasan dengan para santri. Saat itu para santri menghampiri rombongan Ustad Iskandar.

Sambil menunduk, mereka bersalaman dan mencium tangan Iskandar serta para tamunya. Para tamu tersebut adalah enam pendeta dan guru sekolah Katolik di Jakarta. Mereka berkunjung ke Tebuireng untuk mempelajari manajemen sekolah berbasis asrama.

Setelah para santri berlalu, sang tamu menyeka air mata. Mengapa menangis? Tamu itu bercerita, sudah bertahun-tahun dirinya mengajar, belum pernah ada murid yang mencium tangannya seperti tadi. “Bagaimana cara Anda mendidik santri-santri ini sampai punya rasa hormat seperti itu?” tanya Iskandar menirukan pertanyaan sang tamu. Kejadian mengharukan tersebut berlangsung enam bulan lalu.

Menjawab pertanyaan sang pendeta, ustad yang nyantri di Tebuireng sejak 1996 itu menyitir petuah pendiri Pesantren Tebuireng KH Muhammad Hasyim Asy’ari. Menurut Hadratus Syaikh, sebutan Kiai Hasyim, setinggi apa pun ilmu seseorang, tanpa memiliki sikap tawaduk, ilmunya tidak akan berguna. “Itu salah satu nilai yang terus kami tanamkan kepada santri,” ucapnya. Selain itu, budaya yang muda menghormati yang tua dan yang tua menyayangi yang muda memang sudah turun-temurun diterapkan di kehidupan pesantren.

Begitulah Tebuireng. Kemasyhurannya menarik berbagai kalangan. Nama besar juga tidak membuat kajian ilmu di pesantren itu mengendur. Sampai sekarang, tradisi yang dirintis Kiai Hasyim sejak berdirinya pesantren tersebut pada 1899, yakni mengaji Shahih al-Bukhari dan Muslim setiap Ramadan, masih terjaga dengan baik.

Sabtu (11/5) sore lalu, ketika Jawa Pos tiba di pesantren itu, di tengah masjid utama pesantren terlihat KH Kamuli Khudlori sedang membacakan kitab Shahih al-Bukhari. Dia duduk di kursi dengan diterangi sebuah lampu kecil yang langsung menyorot ke kitabnya. Di sekitarnya ada ratusan santri yang menyimak dengan saksama sambil duduk bersila.

Di tangan mereka masing-masing sudah terdapat kitab yang sama seperti yang dibaca Kiai Kamuli. Setiap sang kiai menerjemahkan arti kata per kata bahasa Arab dari kitab tersebut, para santri cekatan menulis catatan kecil di atas tulisan itu. “Ini namanya ngaji bandongan,” ucap Galih Puja Pamungkas, salah seorang santri yang ditemui koran ini di masjid.

Bandongan merupakan metode mengaji yang menjadi ciri khas pesantren salaf. Seperti halnya satu metode lain, yakni sorogan. Bedanya, jika sorogan, santri tidak hanya mendengar, tapi juga menghadap satu per satu kepada kiai untuk diuji hafalan serta pemahaman tentang kitab tersebut. “Kiai yang mengajar kitab hadis ini juga harus memiliki sanad dari kiai-kiai sepuh sebelumnya,” ucap Iskandar.

Pengajian sore itu adalah sesi kedua. Dimulai setelah salat Asar hingga menjelang salat Magrib. Sebelumnya Kiai Kamuli menyelesaikan sesi pertama yang dimulai pukul 10 pagi hingga azan Duhur. Di antara dua sesi tersebut, masih ada pengajian kitab lain, yakni Attibyan yang diampu KH Fahmi Amrullah. “Kalau puasa kegiatannya memang full mengaji,” ucap Galih.

Selain santri, selama Ramadan masyarakat umum diperbolehkan mengikuti seluruh majelis ilmu itu. Semasa Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari masih hidup, peserta yang menimba ilmu hadis pada Ramadan di Tebuireng bukan hanya santri dan masyarakat. Tapi juga para kiai dari segenap penjuru Pulau Jawa. Mereka datang untuk belajar dan ingin mendapat sanad langsung dari Kiai Hasyim yang memang ahli hadis.

Setiap tahun Tebuireng membahas kitab tersebut sejak sebelum Ramadan, yakni pada 15 Syakban. Durasi yang dibutuhkan untuk mengkaji seluruh kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim memang tidak singkat. Sekarang pesantren yang saat ini diasuh KH Salahuddin Wahid tersebut sengaja membaginya dalam dua tahap. Yakni dua kali Ramadan untuk menghabiskan seluruh kitab tersebut.

Itu dilakukan untuk menyesuaikan dengan aktivitas santri. Pasalnya, mereka kini juga harus mengikuti sekolah formal saat pagi. “Kalau cerita kiai-kiai terdahulu, ngaji Ramadan Bukhari-Muslim benar-benar full sejak pagi ke pagi lagi. Dari bakda Tarawih lanjut sampai sahur,” ujar Iskandar.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (irr/c9/oni)