alexametrics
Kelana Ramadan

Sajikan Nuansa Timur Tengah

14 Mei 2019, 20:58:46 WIB

JawaPos.com – Ada sejumlah alasan bagi Cholivia Mayangsari memilih beribadah di musala lantai 3 P7 Malang Town Square (Matos). “Di sini nyaman dan bersih,” terang mahasiswi UIN Maulana Malik Ibrahim itu kepada Jawa Pos.

Selain itu, tempat yang strategis menjadi poin utama bagi Mayang. “Tadi kan ke sini bareng temen. Sebenarnya mau cari buka di mal, terus keinget milih mal ini karena paling enak buat ibadah. Lebar dan nggak jauh. Maksudnya, letaknya itu pas banget. Biasanya kan jauh, kayak ada di lorong-lorong mal,” sambungnya.

Perempuan 23 tahun itu mengatakan, musala yang bisa menampung 400 jamaah tersebut merupakan musala terbesar yang ada dalam mal di Malang. “Itu kalau dibandingkan sama dua mal lain di Malang,” jelasnya.

Operational Manager Malang Town Square Suwanto mengatakan, kebersihan dan kenyamanan musala memang mendapat perhatian dari manajemen. “Kami memang ingin memberikan yang terbaik untuk hal ibadah,” tuturnya.

Dia menjelaskan, jamaah yang beribadah di dalam musala tersebut selalu penuh. Karena itu, fasilitas seperti mukena, tempat wudu, dan desain musala sangat diperhatikan. “Duluuu sebelum ada musala ini, tempat salatnya ada di dalam mal. Waktu itu ukurannya kecil. Mungkin hanya sekitar 50 meter persegi. Pokoknya nggak enak kalau buat ibadah,” ceritanya.

Akhirnya, musala lama tersebut dibongkar. Manajemen memutuskan untuk membangun musala baru di lahan parkir P7 tersebut.

Mengenai desain, Suwanto mengatakan ikut berpartisipasi menyumbang ide. Musala dengan luas 150 meter persegi itu didesain vintage. Memadukan marmer berwarna cokelat bermotif batu bata dengan warna dinding putih tulang. “Jadi, desainnya kami buat clean dan modern,” sambungnya.

Sisi utara bagian luar musala dihiasi lukisan realis bergambar pemandangan gurun. Lengkap dengan unta dan rumah-rumah berwarna cokelat. Bebatuan asli berwarna putih menghiasi bagian depan gambar tersebut. Begitu melihatnya, suasana Timur Tengah langsung terasa.

Pintu masuk dan keluar musala dibedakan untuk mengantisipasi terblokadenya jalan. Jika jamaah masuk lewat pintu sebelah selatan, mereka harus keluar lewat pintu utara. Jadi, saat sedang penuh-penuhnya, tidak terjadi penumpukan antara jamaah yang hendak masuk dan jamaah yang mau keluar.

Saat Ramadan tiba, di luar musala digelar dua karpet merah di atas papan kayu. Di karpet merah tersebut, disediakan takjil. Ada 300-an setiap hari. “Meskipun ini musala, setiap Ramadan kami juga mengadakan Tarawih,” sambung Suwanto.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (ama/c7/oni)