alexametrics

Puasa di Irlandia yang Memperpanjang Masa Lockdown

Maksimal Keluar 2 Km dari Rumah
12 Mei 2020, 13:39:52 WIB

PUASA musim panas ala negara empat musim di Eropa bisa 16–20 jam. Sebelum merasakan puasa di sini sudah stres duluan melihat waktu subuh dan waktu magrib yang jaraknya bikin lemas. Tapi, ternyata bisa dijalani dengan baik, kok.

Iklim itu punya pengaruh besar. Saya juga baru sadar setelah tinggal di sini.

Di puncak musim panas, cuaca rata-rata di Irlandia tetap sejuk. Suhu tertinggi kira-kira 18–20 derajat Celsius. Belum lagi kalau hujan dan mendung. Kelembapannya pun rendah. Puasa selama apa pun, hampir tidak merasakan haus sama sekali.

Kami sekeluarga tinggal di Kota Athlone, sekitar 2 jam menyetir dari ibu kota Republik Irlandia, Dublin. Wilayah Republik Irlandia menguasai 80 persen bagian selatan dari Pulau Irlandia.

Sisanya merupakan wilayah Irlandia Utara, bagian dari negara Inggris.

Berpuasa di tahun-tahun sebelumnya, kegiatan sehari-hari tidak berubah. Jam kantor suami sama sekali tidak berkurang. Anak-anak tetap sekolah. Enggak boleh baper lihat mayoritas orang tetap jajan sesuka hati di mana-mana hehehe.

Mau buka puasa bersama juga mikir-mikir. Karena buka puasa biasanya jatuh di pukul 9 atau 10 malam. Mau bikin acara sampai jam berapa? Sementara besoknya ada anggota keluarga yang harus masuk kantor dan sekolah seperti biasa. Jadi, biasanya buka puasa bersama oleh komunitas muslim di sini diadakan pada hari Jumat. Seminggu sekali.

Hari-hari lainnya dihabiskan bersama keluarga masing-masing. Memasak sendiri seperti biasa. Enggak ada yang jualan takjil di jalan-jalan.

Buat saya, berpuasa seperti ini menyenangkan juga. Enggak terlalu pusing mengatur jadwal lusa ngumpul di mana atau besok buka puasa sama siapa. Pengeluaran pun malah berkurang. Kalau di tanah air dulu rasanya kalau bulan puasa malah keluar uang lebih banyak, ya?

Puasa di masa pandemi juga sama. Suami tetap bekerja, tapi dari rumah. Anak-anak tidak sekolah, tapi tetap mengerjakan tugas-tugas dari sekolah.

Sejak 13 Maret 2020, pemerintah menutup sekolah dan universitas serta mengimbau kantor-kantor untuk mengoptimalkan program bekerja dari rumah.

Semua sekolah dan universitas wajib menerapkan ”belajar dari rumah”, sementara beberapa kantor masih ada yang buka seperti biasa. Pusat pertokoan pun tetap beroperasi. Hanya sebagian kantor yang memutuskan untuk memberikan opsi ”bekerja dari rumah” bagi karyawannya.

Aturan itu diperketat per tanggal 31 Maret 2020. Pusat perbelanjaan yang boleh beroperasi hanya toko yang menjual kebutuhan makanan dan obat-obatan. Sisanya harus berhenti secara offline. Layanan online diperbolehkan.

Semua kantor wajib menerapkan working for home. Jika tidak memungkinkan, kantor tetap harus tutup dan karyawan dirumahkan. Untuk karyawan harian yang tidak lagi mendapat gaji dari perusahaan tempat bekerja, pemerintahlah yang akan menanggung gajinya.

Tenaga kesehatan, pegawai-pegawai toko, dan pekerja yang sifatnya esensial tetap bekerja seperti biasa. Bus-bus umum tetap beroperasi dengan aturan ketat. Misalnya, jumlah penumpang sangat dibatasi.

Awalnya memang ada gerakan ”panic buying” yang menyebabkan beberapa swalayan dipadati pengunjung. Tapi, itu cuma sehari dua hari. Setelahnya kembali normal. Stok di supermarket lokal, toko daging halal, toko Asia, dan lainnya juga tetap terjaga secara umum.

Acara-acara pengumpulan massa seperti konser dll dibatalkan sampai September. Ada petugas/polisi yang di sini diistilahkan dengan ”Garda” yang berpatroli di jalan-jalan dan perbatasan antarkota.

Pergerakan setiap orang dibatasi maksimal 2 km dari lokasi tinggal, kecuali untuk berbelanja kebutuhan pokok, ke rumah sakit, atau beli obat ke apotek. Dendanya sekitar 2.500 euro bagi yang melanggar. Aturan itu berlaku sampai 5 Mei dan kemudian diperpanjang lagi sampai 18 Mei. Periode itulah yang sering diistilahkan dengan ”masa lockdown”. Aturan lockdown di berbagai negara bisa berbeda-beda.

Untuk bulan puasa sendiri, pengaruhnya tidak banyak. Toh biasanya acara buka puasa bersama juga cuma sekali seminggu. Lebih ramai saja di rumah karena anak-anak tidak ke sekolah.

Jam tidur saat bulan puasa memang harus diakali biar bisa tetap istirahat dengan optimal. Sore hari sebelum berbuka diusahakan tidur beberapa jam karena waktu buka puasa bisa jatuh pukul 10 malam. Sehabis sahur, tidur dulu setelah salat Subuh sebelum beraktivitas seperti biasa.

Anak-anak kami berpuasa sesuai durasi berpuasa di Indonesia, kira-kira 12–13 jam. Mulainya mungkin pukul 6–7 pagi, buka puasa buat mereka pukul 7–8 malam.

Selama pandemi, saya keluar rumah untuk berbelanja sebisa mungkin seminggu sekali saja. Untuk olahraga dan lain-lainnya, saya membawa anak-anak ke halaman belakang gedung yang tergolong sepi. Nanti main-main di situ sekitar sejam, sekali dua kali seminggu rasanya cukup, saat matahari bersinar cerah di pukul 5 sore.

*) Oleh JIHAN DAVINCKA, bloger

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c10/ayi



Close Ads