alexametrics

Puasa, Toleransi, dan Kehati-hatian Pandemi di Brasil

Terkenang Es Kolang-kaling di Bundaran UGM
11 Mei 2020, 14:25:56 WIB

Menelepon ibu yang tengah menyiapkan sahur adalah obat kangen kampung halaman. Di Brasil, kalau puasa begini, paling hanya teman kantor yang heran dan bertanya, ”Kamu seharian nggak makan, nggak minum?”

TIAP puasa begini, saya selalu membayangkan suasana sore di bundaran UGM (Universitas Gadjah Mada) Jogjakarta, dan dengan segera saya akan ”pingsan”. He he he.

Segarnya es kolang-kaling. Gurihnya gorengan. Dan banyaknya pilihan makanan lain di bundaran UGM itu yang duuuh bikin saya pengin segera packing dan terbang ke kampung halaman tercinta.

Padahal, saya sudah meninggalkan Indonesia sekitar 1995 untuk bekerja di Jepang sampai 2009.

Di sana saya ketemu jodoh dengan Fernando Shigueo Sato, seorang pria Brasil berdarah Jepang, dan kami akhirnya pindah ke Sao Paulo sejak 2009 sampai sekarang.

Tapi, tetap saja saya tidak imun dari kerinduan terhadap suasana Ramadan di tanah air. Kalau sudah begitu, jalan terbaik biasanya menelepon ibu.

Ada perbedaan waktu sekitar 12 jam antara Sao Paulo dan Jogjakarta. Saya biasa melakukan video call tiap menjelang sahur, saat beliau sedang di dapur dan dan saya juga. Ibu kadang memperlihatkan menu hari itu yang dia masak, saya kadang menceritakan soal suami dan anak saya. Apa saja.

Puluhan tahun berpuasa di luar Indonesia, saya terbiasa mengerjakan semua sendiri. Puasa sendiri, berbuka dan sahur sendiri, Tarawih sendiri.

Di lingkungan saya tinggal, hanya saya yang muslim. Sao Paulo sebenarnya negara bagian yang paling banyak ditinggali warga negara Indonesia. Tapi, lokasinya berjauhan. Jadi, sulit untuk mengadakan buka bersama, misalnya.

Di rumah, saya dan suami berbeda keyakinan. Meski demikian, kami saling mendukung dan saling menghormati. Suamilah yang justru sering mengingatkan ketika saya belum salat atau lupa berdoa. Saya juga kadang menemani dia ke gereja jika ada undangan khusus.

Ketika anak kami, Gabriel Albani Sato, sudah bisa memilih, kami membebaskan dia mau beragama apa. Yang penting, sebagai orang tua, kami sudah membekali anak untuk mengenal Tuhan.

Puasa mendewasakan saya soal toleransi. Juga bagaimana menempatkan diri. Saya tidak pernah mendapat gangguan soal keyakinan saya. Saya juga menghormati iman orang lain.

Paling-paling teman di kantor saja yang kadang masih keheranan dan tanya, ”Jadi, kamu seharian nggak makan, nggak minum?” Saya sambil ketawa saja menanggapi.

Dalam suasana pandemi Covid-19 ini, saya tentu juga merasakan dampaknya. Apalagi, seperti juga mungkin ramai jadi sorotan di Indonesia, Presiden Brasil Jair Bolsonaro tak begitu peduli dengan upaya lockdown.

Di Sao Paulo, misalnya, transportasi umum masih jalan dan padat. Sebab, banyak instansi pemerintah maupun swasta yang tidak menerapkan sistem kerja dari rumah. Ada salah satu penghuni apartemen di kompleks gedung kami yang juga sudah dinyatakan positif. Jadi, kami memang harus berhati-hati benar.

Memang sudah banyak toko pinggir jalan yang tutup. Begitu juga mal. Hanya supermarket barang kebutuhan yang masih buka.

Untuk kebutuhan memasak, saya sudah mempersiapkan bahan-bahan di rumah. Yang praktis saja. Susah kalau mau masak masakan Indonesia di sini. Pertama, karena sulit mendapatkan bawang merah sebagai bahan dasar bumbu. Kedua, ya karena saya juga tidak jago masak, ha ha ha.

Paling kadang-kadang saja saya bikin kolak pisang atau ubi, sekadar pelepas kangen dengan suasana Ramadan di Indonesia. Lumayan, biar saya juga tidak terlalu sering membayangkan bundaran UGM di waktu sore pada saat puasa begini. Bisa berkali-kali pingsan saya… (*)

*) Seperti disampaikan kepada wartawan Jawa Pos, Tatang Mahardika

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Ilham Safutra



Close Ads