Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 21 Maret 2024 | 20.47 WIB

Arus Baru Dakwah Kultural Muhammadiyah, Atasi Masalah Kemanusiaan Universal

Bendahara Umum PP Muhammadiyah Hilman Latief (kiri) menjadi pembicara dalam Pengakjian Ramadan PP Muhammadiyah 1445 H di Universitas Muhammadiyah Jakarta (20/3) malam. - Image

Bendahara Umum PP Muhammadiyah Hilman Latief (kiri) menjadi pembicara dalam Pengakjian Ramadan PP Muhammadiyah 1445 H di Universitas Muhammadiyah Jakarta (20/3) malam.

JawaPos.com– Bendahara Umum PP Muhammadiyah Hilman Latief menyampaikan gagasan arus baru dakwah kultural Muhammadiyah. Tujuannya supaya relevan mengatasi masalah kemanusiaan universal saat ini. Seperti masalah kelaparan, perdamaian dunia, dan lainnya.

Gagasan dakwah kultural Muhammadiyah itu dipaparkan Hilman di forum Pengkajian Ramadan PP Muhammadiyah 1445 H di Universitas Muhammadiyah Jakarta pada Rabu (20/3) malam. Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag itu menjelaskan gerakan Muhammadiyah pada awal kelahirannya berdasarkan teologi Al-Maun.

Menurut Hilman kondisi itu perlu dikaji ulang, terkait dengan relevansinya terhadap keadaan saat ini. Baginya perlu dirumuskan strategi baru dalam dakwah kultural Muhammadiyah, sehingga tetap mampu relevan menghadapi persoalan keamausiaan universal masa kini.

Hilman mengatakan Muhammadiyah sudah menggariskan kemanusiaan universal pada empat hal. Yaitu membangun tata dunia yang damai berkeadilan. Kemudian regulasi dampak perubahan iklim, mengatasi kesenjangan antar negara, serta merespon menguatnya xenophobia. Seperti diketahui xenophobia adalah ketakutan terhadap orang asing atau orang yang di luar kelompoknya.

Dia menceritakan pada masa generasi awal, dakwah kultural Muhammadiyah yang terkait kemanusiaan dilakukan lewat gerakan Al-Maun. Tetapi sekarang Hilman mengatakan, perlu melakukan perenungan kembali terkait relevansinya dengan persoalan kemanusiaan saat ini.

Hilman menjelaskan menemukan selain dari Surat Al-Maun, yaitu Surat Al-Balad. Surat ini cukup relevan dan dapat dijadikan basis dakwah kemanusiaan universal oleh Muhammadiyah. Dia mengatakan di dalam surat Al-Balad ada ayat yang menjelaskan jalan terjal atau disebut Al-Aqobah.

Al-Aqobah itu didefinisikan dalam beberapa tafsir sebagai jalan terjal kemanusiaan. Poinnya adalah jalan yang sulit untuk dilalui. Dalam surat itu digambarkan seperti membebaskan budak dari perbudakan serta memberi makan saat krisis pangan.

Hilman mengatakan kedua contoh itu sangat relevan dengan apa yang terjadi saat ini. ’’Contohnya krisis kemanusiaan di Palestina,’’ katanya. Selain itu juga kondisi Indonesia yang menjadi negara dengan indeks kelaparan tertinggi di kawasan Asia Tenggara setelah Timor Leste. Dengan adanya landasan baru untuk basis dakwah kultural Muhammadiyah itu, diharapkan bisa mengatasi persoalan tadi.

Pada kesempatan yang sama Wakil Ketua Muhammadiyah Disaster and Management Center (MDMC) Rahmawati Husein mengatakan, Muhammadiyah adalah salah satu ormas yang bergerak untuk kemanusiaan hingga tingkat global. Menurut dia, tidak banyak keorganisasian yang merespon secara luar biasa terkait krisis kemanusiaan. Menurut dia dari pengalaman lokal Muhammadiyah, bisa jadi pengalaman global. (*)

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore