alexametrics
Kelana Ramadan

Nonmuslim pun Bisa Mondok Gratis di Hati

1 Juni 2019, 23:36:55 WIB

JawaPos.com – Pondok pesantren (ponpes) lazimnya dihuni santri-santri muslim. Tapi, Ponpes Hati di Desa Rangkang, Kraksaan, Probolinggo, punya sistem yang berbeda. Pondok tersebut juga menerima “santri” dari kalangan nonmuslim. Mereka bisa bersekolah di pondok yang memiliki SMP dan SMA bilingual itu. Gratis.

Kepala Ponpes Hati Fathur Rozi saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo mengatakan, kegiatan-kegiatan di ponpes itu, antara lain, sekolah formal, pengajian, dan kajian-kajian agama.

Yang membedakan dengan pesantren lain, Pondok Hati juga menerima murid nonmuslim. Meski demikian, dia menegaskan bahwa siswa tersebut tidak dipaksa masuk Islam. Pondok memberikan kebebasan kepada mereka untuk menganut agama masing-masing.

Saat pondok mengadakan kegiatan islami, “santri” nonmuslim tidak diikutkan. Pihak pondok memberikan pendampingan tersendiri kepada mereka. Pendampingan itu berupa pelajaran agama sesuai yang mereka anut. Pembelajaran tersebut juga diterapkan di sekolah formal mereka. “Kan sudah jelas beda agama. Kami tidak memaksa. Seperti dalam Alquran, kan ada lakum dinukum waliyadin. Agamamu agamamu, agamaku agamaku. Jadi, ada toleransi di situ,” paparnya.

Hingga saat ini, baru siswa beragama Hindu yang mondok di Pesantren Hati. Mereka berasal dari suku Tengger di Kecamatan Sukapura. Sepekan sekali pihak ponpes mendatangkan pemuka agama Hindu. “Tokoh agama Hindu itu datang untuk memberikan pendidikan agama Hindu. Jadi, kami menyediakan waktu sendiri bagi yang nonmuslim untuk belajar agama,” terang dia.

Meskipun beragama Hindu, mereka ditempatkan di kamar yang sama dengan santri muslim. Tidak ada sekat. Semua bisa membaur tanpa memandang asal dan agama. “Secara psikologi, juga tidak ada kendala. Santri muslim sangat senang dan membaur dengan nonmuslim,” terang dia. Meski anak nonmuslim minoritas, tidak ada santri muslim yang merundung. “Di sini, semua saling menghormati,” ungkapnya.

Mengapa Pesantren Hati menerima siswa nonmuslim? Menurut Rozi, pondok yang didirikan Hasan Aminuddin itu ingin mempraktikkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Konsep tersebut diajarkan oleh para ulama sejak dulu.

“Semua bergandengan satu sama lain meskipun berbeda agama,” terangnya. Selain itu, Pesantren Hati didirikan karena kepedulian pada pendidikan anak. Dia mengatakan, di tahun pelajaran baru ini, siswa nonmuslim dipastikan bertambah. “Terus akan kami terima. Kami akan menerima dengan tangan terbuka,” tandasnya.

Sementara itu, Hasan Aminuddin mengatakan, pesantren tersebut sebenarnya didirikan untuk membantu siswa miskin yang ingin bersekolah. “Selama ini ada anggapan bahwa anak miskin tidak akan bisa pintar. Itulah yang ingin kami bantah,” terangnya. Karena itu, Pesantren Hati membebaskan semua santri dari biaya pendidikan. “Mereka bisa bersekolah di SMP dan SMA bilingual secara gratis,” lanjut dia.

Hasan juga aktif mencari siswa nonmuslim yang ingin mondok dan bersekolah di Hati. Dia bahkan sering meminta bantuan kepada para pendeta. “Saya sampaikan ke pendeta-pendeta, kalau ada anak nonmuslim yang pintar tapi tak punya biaya untuk sekolah, silakan masuk ke Pondok Hati. Gratis,” tutur dia.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (sid/c11/oni)



Close Ads