JawaPos Radar

Ramadan Kita

Kunjungi Masjid Tertua Sarat Sejarah, Mbah Musa Awali Al Abror

01/06/2017, 20:45 WIB | Editor: Suryo Eko Prasetyo
Kunjungi Masjid Tertua Sarat Sejarah, Mbah Musa Awali Al Abror
DI TENGAH KOTA: Masjid Jamik Al Abror menjadi sentra dakwah sekaligus pusat niaga di Sidoarjo. (Dite Surendra/Jawa Pos/JawaPos.com)
Share this image

Al Abror merupakan masjid tertua di Sidoarjo. Usianya mencapai empat abad. Pembangunannya dianggap mengandung misteri. Meski begitu, Al Abror sukses menjadi salah satu pusat peradaban Islam.

Kunjungi Masjid Tertua Sarat Sejarah, Mbah Musa Awali Al Abror
SELFIE: Milawati (kanan) dan Eva Insiyatul berfoto di Masjid Jamik Al Abror. (Dite Surendra/Jawa Pos/JawaPos.com)

CAHAYA mentari di ufuk barat mulai redup. Para pedagang kaki lima di sekitar Masjid Jamik Al Abror, Kelurahan Pekauman, Sidoarjo, mulai menggelar dagangan. Aroma makanan berpadu dengan wangi parfum yang berasal dari toko minyak wangi di sekitar masjid. Di sebelah utara, pedagang buah dan bunga menyambut para pembeli. Di barat masjid, berdiri kampung batik jetis. Warga menjajakan kain batik nan indah di ruko masing-masing.

Begitulah gambaran suasana di sekitar Masjid Al Abror. Masjid tersebut diapit kegiatan perniagaan serta permukiman warga. Muhammad Alfan, salah seorang takmir masjid, menjelaskan bahwa Al Abror memang berbeda dengan masjid kebanyakan. Pendirinya bermaksud memberikan edukasi keagamaan sekaligus menjadikan kawasan sekitar masjid sebagai salah satu pusat perniagaan. Dengan begitu, urusan dunia dan akhirat tidak terpisahkan. Jadilah Al Abror seperti yang sekarang ini, dikelilingi kegiatan perniagaan. Hal itu menjadi daya tarik tersendiri. Karena berada di tengah kota, Al Abror menjadi salah satu pusat peradaban pada zamannya.

Meski dikenal sebagai masjid tertua di Kota Delta, hingga kini belum ada catatan resmi yang menyebutkan waktu didirikannya masjid tersebut. Beberapa menyebut Al Abror berdiri sejak abad ke-16, sekitar 1678. Sumbernya adalah penemuan mata uang koin dengan tahun 1678. Koin itu ditemukan di salah satu tembok masjid saat Al Abror direnovasi pada 1970.

Versi kedua menyebutkan, Al Abror didirikan pada abad ke-18. Tepatnya pada 1859 saat Kabupaten Sidoarjo berdiri kali pertama. Saat itu pula, kepala pemerintahan yang berkuasa mendirikan Masjid Al Abror. ”Entah mana yang betul. Tapi, orang-orang percaya bahwa Al Abror ada sebelum abad ke-18,” jelas Alfan.

Alumnus Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) itu menambahkan, pada 1990, pengurus masjid mengadakan seminar bertema pendiri dan berdirinya Al Abror. Dalam seminar tersebut, para ahli dan pengurus sepakat bahwa Al Abror sebenarnya ada sebelum abad ke-16.

Hal itu dibuktikan dengan banyak hal. Selain pernah menemukan koin abad ke-16, para ahli dan takmir membandingkan arsitektur masjid dengan masjid lain di beberapa daerah. Para ahli dan takmir menemukan kesamaan. Misalnya, dengan Masjid Ampel di Surabaya dan Masjid Maulana Malik Ibrahim di Gresik. ”Bentuk gerbang Masjid Al Abror sama dengan Masjid Ampel dan Maulana Malik,” kata Alfan.

Meski telah mengalami beberapa pemugaran, ada beberapa bagian Al Abror yang terus dipertahankan. Gerbang masuk di sisi utara masjid, misalnya. Gerbang tersebut berwarna putih dengan komposisi batu bata. Tingginya mencapai 2,5 meter.

Kemudian, di bagian atas gerbang itu, terdapat kubah mini yang mirip dengan gerbang di Masjid Maulana Malik dan Masjid Ampel. Gerbang tersebut hanya digunakan ketika ada ibadah salat Jumat. Pada hari biasa, gerbang itu ditutup teralis besi.

Selain gerbang, ada jam matahari. Jam itu berdiri kukuh di halaman masjid hingga kini. Tingginya mencapai 1 meter. Di permukaan jam, tertulis angka-angka arab. Takmir dan para ahli peserta seminar saat itu percaya bahwa jam matahari tersebut kerap digunakan pada abad ke-16 sebagai penunjuk arah dan pengingat salat. Bila Al Abror benar didirikan pada abad ke-16, usianya kini mencapai empat abad. ”Kami akan mengadakan pertemuan lagi untuk membahas sejarah Al Abror,” ungkap Alfan.

Takmir dan para ahli juga berupaya menelusuri empat makam yang berada di belakang masjid. Berdasar tuturan warga dari generasi ke generasi, makam tersebut adalah makam pendiri Al Abror. Yakni, Mbah Mulyadi, Mbah Musa, Badriya, dan Salim.

Konon, Mbah Musa merupakan salah seorang inisiator pembuatan masjid. Mbah Musa merupakan seorang berdarah Yaman yang sedang hijrah. Dia memiliki ilmu perbintangan dan perekonomian. Sosoknya pun begitu dekat di hati warga pada zamannya. Dia mendirikan Masjid Al Abror berdampingan dengan pasar. Tujuannya, membangun perekonomian sambil berdakwah. Selain ahli berdagang, Mbah Musa dikenal sebagai alim ulama. Dia ingin warga tumbuh dengan peradaban tinggi. ”Mbah Musa berharap warga sekitar makmur lahir batin,” ucap Alfan.

Kini Masjid Al Abror merupakan bagian dari destinasi wisata di Kota Delta. Saat Ramadan, kawasan tersebut cukup padat. Ada beberapa warga yang nyekar atau berkunjung ke makam pendiri masjid untuk mengirim doa. (jos rizal/c23/oni)

Alur Cerita Berita

Wajibkah Pekerja Berat Berpuasa? 01/06/2017, 20:45 WIB
Tampil Perdana Langsung Juara 01/06/2017, 20:45 WIB
Jadi Laki-Laki Sejati saat Pengajian 01/06/2017, 20:45 WIB
Ingin Cetak Penghafal Alquran 01/06/2017, 20:45 WIB
Bijak Teknologi 01/06/2017, 20:45 WIB
Gali Sumur, Nemu Banyak Peluru 01/06/2017, 20:45 WIB
Lumpur Bakar, Bukan Lumpur Lapindo 01/06/2017, 20:45 WIB
Bongko Kopyor Terlaris di Gresik 01/06/2017, 20:45 WIB
Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up