JawaPos.com - Mungkin kamu pernah atau seringkali merasakan kesulitan saat harus memilah barang-barang di rumah atau membuang sesuatu yang sudah tidak terpakai. Perasaan berat hati ketika harus berpisah dengan barang lama, atau berpikir "siapa tahu nanti berguna", adalah hal yang wajar dialami banyak orang. Namun, ketika kesulitan ini berkembang menjadi ekstrem hingga rumah dipenuhi tumpukan barang dan fungsi ruangan terganggu, kondisi itu bisa jadi lebih dari sekadar kebiasaan yang mana ini mungkin merupakan tanda gangguan mental serius yang disebut hoarding disorder.
Hoarding disorder atau gangguan penimbunan adalah kondisi kesehatan mental di mana seseorang mengalami kesulitan ekstrem untuk membuang atau berpisah dengan barang-barang miliknya, terlepas dari nilai sebenarnya barang tersebut. Penderita gangguan ini merasa sangat tertekan ketika harus membuang barangnya, bahkan jika barang tersebut sudah tidak terpakai atau rusak. Akibatnya, barang-barang menumpuk hingga memenuhi ruangan dan mengganggu fungsi normal ruang hidup mereka. Kondisi ini berbeda dengan sekadar tidak rapi atau malas membereskan, karena melibatkan kesulitan psikologis yang mendalam.
Mungkin kamu jadi bertanya-tanya, apakah seseorang yang memiliki hobi mengoleksi barang tertentu sama halnya dengan hoarding disorder. Faktanya, dua hal ini merupakan kondisi yang berbeda, dimana kolektor biasanya mengumpulkan barang barang secara spesifik dengan tujuan tertentu. Sedangkan, penderita hoarding disorder mengumpulkan barang secara acak tanpa sistem yang jelas. Biasanya barang-barang tersebut juga tidak terawat dan berantakan bahkan hingga memenuhi rumah.
Dilansir dari American Psychological Association (APA), penyebab hoarding disorder hingga kini belum diketahui secara pasti. Mengingat gangguan ini baru saja diklasifikasi dalam Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM). Dimana penelitian tentang neurobiologi hoarding disorder pada manusia maisih dalam tahap awal perkembangan, hingga masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan yang pasti. Namun beberapa temuan menunjukkan bahwa hoarding disorder lebih mungkin terjadi pada seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan kondisi serupa, yang mana ini mengindikasikan adanya kemungkinan faktor genetik.
Selain itu, Cleveland Clinic juga turut menyoroti beberapa penyebab yang mungkin saja memicu seseorang mengalami hoarding disorder.
1. Memiliki Kenangan Tersendiri dengan Barang Tersebut
Barang-barang tertentu memiliki kenangan emosional yang kuat bagi penderita, baik itu terkait dengan peristiwa traumatis seperti perceraian atau kematian dan percintaan. Setiap benda bisa saja menjadi representasi dari memori tersebut, sehingga membuangnya terasa seperti kehilangan bagian dari diri mereka atau menghilangkan kenangan penting. Keterikatan ini membuat mereka merasa aman dan nyaman ketika dikelilingi oleh barang-barang tersebut. Bahkan barang yang tampak tidak berharga bagi orang lain bisa memiliki makna emosional yang sangat dalam bagi mereka.
2. Kesulitan Menolak Barang Gratis
Penderita hoarding disorder sering kali tidak mampu menolak barang-barang gratis seperti kupon, brosur, sampel produk, atau barang promosi lainnya. Mereka merasa ada potensi manfaat atau nilai dari setiap barang gratis yang ditawarkan, meskipun tidak memiliki kebutuhan nyata terhadap barang tersebut. Ketidakmampuan ini bukan sekadar sikap pelit atau irit, tetapi lebih kepada dorongan psikologis yang sulit dikendalikan. Akibatnya, barang-barang gratis ini terus menumpuk tanpa pernah digunakan atau bahkan dibuka dari kemasannya.
3. Kekhawatiran Akan Kegunaan di Masa Depan
Salah satu pemikiran yang khas dari penderita hoarding disorder adalah keyakinan bahwa suatu barang akan berguna suatu hari nanti, meskipun sudah bertahun-tahun tidak terpakai. Kekhawatiran ini bersifat kronis dan mencakup hampir semua jenis barang, mulai dari koran atau kertas bekas yang sudah tidak terpakai, plastik bekas belanja hingga wadah makanan dari plastik.
4. Kondisi Kesehatan Mental yang Menyertai
Seseorang yang memiliki gangguan mental tertentu seperti Obsessive-Compulsive Personality Disorder (OCPD), Obsessive-Compulsive Disorder (OCD), dan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan hoarding disorder. Meski begitu, tidak semua orang dengan gangguan mental tersebut otomatis mengalami masalah penimbunan barang, hanya sebagian dari mereka yang kemudian mengalami hoarding disorder. Keterkaitan ini terjadi karena karakteristik gangguan-gangguan tersebut dapat memperkuat perilaku menimbun, seperti kecemasan berlebihan pada OCD yang membuat sulit membuang barang, atau kesulitan fokus dan mengambil keputusan pada ADHD yang menghambat proses pemilahan barang.
Penanganan Hoarding Disorder
Kabar baiknya, hoarding disorder bukanlah kondisi yang tidak bisa ditangani. Meskipun prosesnya membutuhkan waktu dan kesabaran, terdapat berbagai strategi terapi yang telah terbukti efektif membantu penderita mengelola perilaku menimbun mereka. Mengutip dari Halodoc, penanganan hoarding disorder memerlukan pendekatan yang melibatkan perubahan pola pikir, perilaku, hingga dukungan sosial.
- Terapi Kognitif untuk Mengubah Pola Pikir
Belajar mengidentifikasi dan menentang pemikiran otomatis yang mendorong keinginan untuk menyimpan barang merupakan langkah awal untuk menangani hoarding disorder. Penderita perlu dilatih untuk mengenali pola pikir yang tidak rasional, seperti "barang ini pasti masih dibutuhin nanti" atau "kayaknya sayang deh kalau dibuang sekarang". Melalui terapi kognitif perilaku, penderita akan diajarkan untuk mempertanyakan validitas pemikiran tersebut dengan bukti nyata. Proses ini membantu mereka mengembangkan perspektif yang lebih realistis tentang nilai dan kegunaan barang-barang mereka.
- Melatih Pengendalian Diri dan Mengorganisir Barang
Penderita perlu berlatih menahan keinginan untuk menyimpan lebih banyak barang dan mulai mengorganisir benda-benda yang sudah ada. Ini termasuk membuat sistem kategorisasi yang jelas antara barang yang masih layak simpan dan yang tidak. Selain, meningkatkan keterampilan pengambilan keputusan juga penting, misalnya dengan membuat kriteria objektif seperti "apakah barang ini sudah dipakai dalam satu bulan terakhir ini?", dengan begitu kamu akan lebih mudah untuk memilah mana barang yang harus dibuang dan disimpan.
- Membangun Koneksi Sosial dan Dukungan Berkelanjutan
Belajar untuk bersosialisasi dan terlibat dalam kegiatan sosial yang lebih bermakna dapat membantu mengalihkan fokus dari barang-barang ke hubungan interpersonal. Selain itu, terapi bersama keluarga atau kelompok dukungan memberikan ruang aman untuk berbagi pengalaman dan strategi untuk lepas dari hoarding disorder. Ditambah dengan kunjungan berkala ke profesional kesehatan mental juga sangat penting untuk membantu mempertahankan kebiasaan sehat dan mencegah kondisi ini kambuh.
Hoarding disorder mungkin terlihat seperti kebiasaan buruk yang tidak mudah untuk dilewati, namun dengan pemahaman dan kesadaran dari diri sendiri dan orang sekitar maka bukan berarti tidak ada harapan untuk pulih. Meskipun perjalanan menuju pemulihan mungkin panjang, dengan dukungan keluarga dan orang sekitar serta komitmen dari diri sendiri untuk berubah, maka penderita dapat lepas dari kondisi ini.
Perlu diingat bahwa hoarding disorder merupakan gangguan kesehatan mental dan bukan sekedar kemalasan yang bisa diatasi dengan "kamu seharusnya lebih rajin beres-beres". Oleh karena itu, jika kamu atau orang terdekatmu menunjukan tanda-tanda hoarding disorder, jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan tenaga profesional.