← Beranda

Seperti Apa Metode 'Cuci Otak' Dokter Terawan? Ini Penjelasannya

Dhimas GinanjarRabu, 4 April 2018 | 01.04 WIB
Krisnha Murti saat menjadi pasien dokter Terawan Agus Putranto.

JawaPos.com - Temuan baru Direktur Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad(K), metode 'cuci otak', menuai kontroversi sejak pertama kali diaplikasikan untuk mengobati pasien stroke. Tak hanya pasien stroke, metode ini juga digunakan untuk mengatasi sumbatan di otak.


Metode 'Cuci Otak' sebenarnya merupakan metode radiologi intervensi dengan memodifikasi DSA (Digital Substraction Angiogram). Banyak pasien dokter militer ini sudah merasakan manfaatnya dari metode tersebut. Kualitas hidup pun menjadi lebih baik, seperti yang dirasakan banyak pejabat tinggi negara serta politisi.


Salah satunya Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mahfudz Siddiq. "Lebih banyak pasien warga biasa. Karena memang jadi layanan terbuka. Prinsip DSA sebenarnya praktik biasa dalam dunia kedokteran karena proses dan alat yang digunakan juga yang biasa dipakai di dunia medik," kata Mahfudz dalam keterangan kepada wartawan, Selasa (3/4).


Setelah itu, dikonsultasikan ke beberapa dokter internis untuk memastikan kondisi pasien bisa menjalani DSA. Sehingga sebelum menjalani DSA, sebagai tahap awal, pasien diperiksa lengkap dimulai dari MRI, EKG, sampai CT scan. Tujuannya untuk mengidentifikasi letak terjadi titik penyumbatan seperti di bagian kepala dan jantung.


Tahap selanjutnya, proses DSA yang dijalankan pasien adalah sekitar 40 menit melalui proses kateter (seperti pemasangan ring pada pasien jantung). Melalui mesin monitor dan mesin spray, dimasukan cairan (temuan Dokter Terawan) ke bagian tubuh yang ingin di-spray sumbatannya.


"Semua proses spray cairan termonitor di layar dan bisa terlihat saat cairan tersebut membersihkan titik-titik sumbatan sampai bersih," ujarnya.


Mahfudz mengagumi metode tersebut. Meski demikian, pasien tetap harus hidup dengan pola makan dan pola hidup yang baik agar tak ada sumbatan baru.


"Efeknya bagus. Cuma kontinuitas efek tergantung pola makan, pola minum, dan pola hidup yang bisa menimbulkan sumbatan baru. Tidak ada obat-obatan lain. Hanya istirahat 3 jam pasca tindakan. Lalu penyembuhan bekas luka kateter selama 2 hari. Lalu selanjutnya terapi banyak minum air putih (minimal 3 liter/hari)," jelas Mahfudz.


Seperti diketahui, metode cuci otak atau brain flushing yang dibuat oleh dokter Terawan dinilai tidak berbasis penelitian ilmiah. Tekniknya dilakukan dengan memasukkan kateter ke dalam pembuluh darah melalui pangkal paha. Prosedur ini dilakukan untuk melihat apakah ada penyumbatan pembuluh darah di area otak.


Kateter kemudian menyemprotkan obat heparin sebagai penghancur plak atau lemak yang menyumbat pembuluh darah. Namun karena metode ini, dokter Terawan harus dijatuhi sanksi keras oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

EDITOR: Dhimas Ginanjar