JawaPos.com - Pengobatan tradisional memang masih menjadi primadona, seperti akupuntur. Beragam alasan banyak orang memilihnya. Salah satunya karena tidak melibatkan obat-obatan kimiawi.
Menurut Letkol laut (K) dr Marcus Anthonius Sp KFR, bila seseorang telah memilih akupuntur, lebih baik tidak menambah dengan konsumsi obat untuk menghilangkan nyerinya.
’’Setiap hari ada 60-70 pasien yang ingin akupuntur. Sekitar 95 persen pasien tidak saya berikan obat. Kalau saya kasih obat tidak akan kentara nantinya, kalau nyerinya reda karena akupuntur atau obatnya,’’ ulas Marcus.
Pola tersebut diberlakukan untuk semua kasus. Mulai dari nyeri pinggang, sakit kepala, mag kronis, asma, vertigo, gangguan hormon, sampai dengan kista miom dan obesitas.
Dipaparkannya, semua penyakit yang bisa ditangani dengan akupuntur berawal dari adanya gangguan aliran energi di suatu titik. Salah satu akibatnya aliran darah menjadi tidak lancar. Misalnya, kasus tersering yakni nyeri punggung.
Setelah diperiksa, Marcus paling sering mendiagnosis adanya ketegangan otot yang terlalu tinggi di punggung seseorang. Maka dia akan menanamkan sekitar 10 jarum akupuntur tanpa memberikan obat. Acapkali, pasien hanya datang dua sampai tiga kali untuk menghilangkan rasa nyeri tersebut.
Marcus juga menambahkan, sejatinya tidak ada perbedaan tindakan akupuntur di dokter atau akupunturis. Yang benar-benar membedakan adalah pemilihan metode. Menurutnya, tidak semua dokter memilih metode akupuntur yang lebih cocok untuk pasiennya. Tidak juga pelayanan akupunturis lebih jelek dari dokter. ’’Kalau tidak ingin obat, tapi sama dokter atau akupunturisnya diberi obat harus berani menanyakan urgensi obatnya,’’ tegasnya. (*)