← Beranda

Sepak Terjang Teroris di Indonesia, Santoso Tewas, Lahirlah Bahrun Naim

Ilham SafutraMinggu, 1 Januari 2017 | 03.44 WIB
Densus 88 saat penangkapan pelaku bom teror di Bekasi beberapa waktu lalu

JawaPos.com - Salah satu bentuk ancaman keamanan Indonesia di 2016 yakni dari teroris. Bahkan pergerakannya tidak pernah kendur dari awal hingga akhir tahun ini. Tentunya Polri melalui Detasemen Khusus Antiteror (Densus) 88 melakukan perburuan terhadap pelakunya.



Di tahun 2016 ini, ada dua kelompok yang menjadi pusat perhatian publik, yakni kelompok Mujahiddin Indonesia Timur (MIT) dan jaringan Bahrun Naim.



Kelompok MIT ini berada di bawah komando Santoso alias Abu Wardah. Dia sempat menjadi orang nomor satu paling dicari di Bumi Pertiwi atas serangkaian aksi terornya di kawasan Poso, Sulawesi Tengah.



Bermarkas di pegunungan, membuat Polri dan TNI menggelar operasi khusus untuk memburu mereka beragam bentuk operasi. Pertama, Operasi Camar Maleo, dan kini sudah berganti menjadi Operasi Tinombala.



Pada Operasi Tinombala aparat keamanan melibatkan pasukan elite dari TNI dan Polri. Mulai dari Brimob, Kostrad, Marinir, Raider hingga Kopassus. Tentunya pada pasukan elite itu bertugas utnuk membatasi ruang gerak kelompok Santoso dan membuat mereka berada dalam kondisi terjepit dan kelaparan.



Pada 2015, operasi ini masih bernama Camar Maleo. Dari operasi ini berhasil ditangkap sekitar 28 anggota kelompok Santoso termasuk salah satu petingginya yakni Daeng Koro.



Daeng Koro merupakan ketua pelaksana beberapa latihan militer yang digelar MIT di tiga tempat. Yakni, Tuturuga, Kabupaten Morowali dan Gunung Tamanjeka Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah serta Mambi Kabupaten Mamasa Sulawesi Barat.



Pada 9 Januari 2016, rangkaian operasi perburuan kelompok MIT ini berganti nama sandi operasi bertajuk Operasi Tinombala yang melibatkan 3.000 personel.



Berikut rangkuman terkait Operasi Tinombala sepanjang tahun 2016:



Anak Buah Santoso Tembak Mobil Polisi

Terjadi baku tembak antara kelompok Santoso dengan Polri pada Selasa 9 Februari 2016, saat berlangsungnya razia sepanjang jalan wilayah Nepu dan Poso.



Kejadian ini berawal ketika mobil misterius dengan kaca tertutup berhenti di kios dan membeli perbekalan di luar batas wajar. Pemilik kios curiga dan melaporkan mobil tersebut kepada Satgas Tinombala.



Alhasil kelompok Santoso dari dalam mobil menembak ke arah polisi. Akibatnya anggota Polri bernama Brigadir Wahyudi mengalami luka tembak di dagu hingga tewas.



Selanjutnya lima anggota Polri melakukan penyergapan. Petugas pun melakukan tembakan balasan dan menyasar dua pengikut Santoso. Alhasil berhasil disita pucuk senjata api rakitan dari mereka.



Kecelakaan Helikopter TNI AD Bell 412 EP nomor HA 5171



Pada Minggu 20 Maret 2016, Helikopter milik TNI AD tersambar petir di Kelurahan Kasiguncu, Poso Pesisir, Poso. Kecelakaan ini menewaskan Danrem 132/ Tadulako Kolonel Inf Syaiful Anwar. Di dalam helikopter itu juga terdapat 12 awak lainnya.



Helikopter tersebut membawa awak bantuan dari TNI ke Poso dalam rangka menumpas keberadaan Santoso cs. Seluruh korban dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.



Santoso Masuk Daftar Teroris Global

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat memasukkan Santoso ke dalam daftar teroris global yang paling dicari (Specially Designed Global Terorist), Selasa 22 Maret 2016. Alasannya, Santoso berafiliasi dengan ISIS.



Sebagai hasil pencatatan tersebut, semua subjek properti di wilayah yurisdiksi AS mengatasnamakan Santoso akan diblokir. Warga AS pun dilarang melakukan transaksi dengan Santoso.



15 Orang Berhasil Sebelum Santoso Tewas

Hingga Mei 2016, 15 orang kelompok Santoso berhasil ditangkap. Rinciannya 11 orang tewas dalam baku tembak dan sementara empat lainnya ditangkap untuk menggali informasi.



Kapolda Sulawesi Tengah, Brigjen Rudi Sufahriadi menyatakan menangkap kelompok Santoso ini ibarat mencari jarum di dalam tumpukan jerami. Sehingga perlu dilakukan perubahan teknik dan taktik.



"Terbukti secara signifikan berangsur-angsur bisa ditangkap. Selama Operasi Tinombala sudah 15 orang tertangkap," kata Rudy di Mabes Polri, Rabu 25 Mei 2016.



Kesulitan tim menurut Rudy karena Santoso menerapkan prinsip perang gerilya. "Kita pun harus memecah anggota karena medannya hutan," tukasnya.



Santoso Tewas

Pada Senin 18 Juli 2016, menjadi prestasi besar bagi tim Satgas Operasi Tinombala. Santoso yang selama ini diburu dalam Operasi Camar Maleo I hingga IV akhirnya tewas ketika sandi operasi berganti menjadi Operasi Tinombala.



Kematian Santoso ini berawal dari kontak tembak di sekitar Desa Tambrana, Poso Pesisir Utara sekira pukul 17.00 WITA. Dalam baku tembak selama lebih kurang setengah jam itu dua orang tewas. Mereka adalag Santoso dan pengikutnya Mukhtar.



Santoso sendiri tewas di tangan prajurit Yonif Raider 515 Kostrad saat melakukan patroli di Pengunungan Tambrana. Mereka menemukan gubuk dan melihat beberapa orang tidak dikenal sedang mengambil sayur dan ubi.



Kala itu tim melihat tiga orang melintas di sebelah sungai namun langsung menghilang. Tim satgas langsung mendekati mereka. Rentang jarak 30 meter terjadi kontak senjata selama 30 menit. Ditemukan dua jenazah dan sepucuk senjata api laras panjang.



Atas penembakan tersebut, Mabes Polri memberikan apresiasi kepada aparat TNI. Hal ini menunjukkan kerjasama kedua institusi tersebut berjalan baik.



"Kami apresiasi siapapun yang menembak (Santoso)," kata Kadiv Humas Polri, Irjen Boy Rafli Amar Selasa 19 Juli 2016.



Pasca-Santoso Tewas Masih Ada Figur Basri dan Ali Kalora

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyatakan, setelah tewasnya Santoso, kelompok teroris MIT semakin melemah. Menurutnya hanya tinggal 19 orang yang tersisa setelah Santoso tutup usia.



"Kelompok ini otomatis melemah. Santoso kan difigurkan sebagai pimpinan. Tinggal hanya 19 orang," kata Tito di Mabes Polri, Jumat 22 Juli 2016.



Kendati demikian, masih ada beberapa orang yang mesti diwaspadai. Terutama mereka yang memiliki kemampuan dan militansi tinggi. "Masih ada Basri, dan Ali Kalora. Jadi jangan buru-buru mencabut operasi ini. Operasi ini sangat efektif karena gabungan kekuatan (TNI-Polri)," tukasnya.



Tragedi Salah Tembak, Anggota Satgas Tinombala Tewas Saat Bertugas



Muhammad Serda Ilham bagian dari Satgas I Intelijen Tinombala tewas dalam baku tembak di Desa Towu Kabupaten Poso Sulawesi Tengah Rabu 27 Juli 2016 sekira pukul 12.30 WITA.



Kala itu, sasaran yang dituju adalah tujuh orang yang diduga anggota kelompok teroris MIT. Namun ternyata salah sasaran, peluru menyasar ke anggota intelijen yang tengah memburu tempat penimbunan senjata kelompok Santoso. Akhirnya Serda Ilham menjadi korban.



Basri Sang Kaki Tangan Santoso Tertangkap



Orang nomor dua setelah Santoso dalam kelompok teroris MIT akhirnya berhasil ditangkap di pegunungan Poso, Sulteng, Rabu 14 September 2016.



"Kita bersyukur karena Basri merupakan target kedua setelah Santoso. Satgas Tinombala berhasil menangkap dia hidup-hidup," kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian di Kompleks STIK-PTIK, Jakarta Selatan.



Sementara itu, Kapolda Sulteng, Brigjen Rudy Sufahriadi mengatakan Basri ditangkap bersama dua orang lainnya.



"Basri alias Bagong berhasil ditangkap. Jadi tim patroli mengintip dan ditemukan tiga orang. Ada yang tewas bernama Andika Eka Putra. Kepalanya terbentur batu saat akan menyebrangi sungai.  Namun istrinya Basri berhasil kabur," katanya.



Selanjutnya pada Senin 19 September Satgas Operasi Tinombala bertemu dengan anggota kelompok teroris Mujahiddin Indonesia Timur lainnya bernama Sobron.



Saat terpojok, dia mengambil granat di sakunya setelah diminta untuk menyerah. Belum sempat melempar granat, satgas menembaknya di bagian kepala. Di tubuhnya ditemukan empat granat dan dua machete.



Istri Ali Kalora Ditangkap

Pada Selasa 11 Oktober 2016, Satgas Operasi Tinombala berhasil menangkap Tini Kalora, istri dari Ali Kalora di rumah warga yang berinisial HD di Desa Mongko Lama Poso Kota, Sulteng.



Penangkapan ini dilakukan atas pengembangan informasi yang didalami tim. "Satu minggu tim mengidentifikasi keberadaan DPO Tini Kalora. Akhirnya berhasil ditangkap setelah upaya negosiasi," kata Kabag Penum Divisi Humas Polri, Kombes Martinus Sitompul.



Operasi Tinombala Berlanjut Hingga Januari 2017

Karena masih menyisakan figur Ali Kalora di Pegunungan Poso, Operasi Tinombala masih berlanjut hingga Januari 2017. "Seingat saya sampai Januari (2017)," kata Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar, ketika dikonfirmasi, Jumat 16 Desember 2016.



Untuk pasukan sendiri di Kota Poso masih tetap sama dengan kondisi awal. Hanya saja untuk penyegaran rotasi terus dilakukan. Pasalnya masih tersisa 6 orang daftar pencarian orang (DPO) kelompok MIT. "Masih tetap cuma dirotasi. Ini kan masih ada sisa 6 DPO. Ali Kalora juga belum ditangkap,” terang dia.



Kini kelompok Santoso tak terlalu tenar. Mereka kalah pamor dengan jaringan Bahrun Naim.



Lahirnya Jaringan Bahrun Naim

Januari 2016, Jakarta digemparkan dengan serangan teror di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Konon katanya, orang yang paling bertanggungjawab dari aksi itu adalah Muhammad Bahrun Naim Anggih Tamtomo atau lebih dikenal Bahrun Naim.



Naim adalah sosok yang sering dikaitkan dengan kelompok jaringan MIT pimpinan Santoso alias Abu Wardah. Sebab MIT berbaiat ke ISIS.



Naim juga disinyalir merupakan orang yang menggugah video kelompok jaringan MIT melalui akun Facebook yang bernama Muhammad Bahrun Naim Anggih Tamtomo.



Sepak terjang Naim telah diketahui sejak 2010. Pada saat itu, tanggal 9 November 2010, Densus 88 menangkap dia karena menyimpan 533 butir peluru laras panjang kaliber 7.62 mm, dan 31 butir peluru kaliber 9 mm.



Naim mengaku, ratusan butir peluru itu merupakan titipan Purnama Putra alias Ipung alias Usamah alias Tikus alias Rizky. Ipung diketahui memiliki jaringan dengan Jamaah Islamiyah dan Noordin M Top.



Atas perbuatannya, Naim diputuskan bersalah oleh Pengadilan Negeri (PN) Surakarta dan dijatuhi hukuman penjara selama dua tahun.



Ipung diketahui saat ini menjadi staf pengajar di salah satu Universitas di bilangan Jakarta Selatan. Ipung bekerja sebagai staf Densus, semenjak Suryadarma menjabat menjadi kepala Densus.



Naim juga merupakan orang yang mentransfer dana yang digunakan dalam pengembangan dan aksi pada Serangan Jakarta 2016. Hal ini terungkap setelah Mabes Polri menangkap sosok yang menerima dana transfer dari Naim.



Penangkapan ini dilakukan dalam aksi perburuan teroris sesaat setelah aksi teror di Jakarta dilakukan.



Kini Bahrun Naim menetap di Raqqa, ketika dia berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS pada 2014. Naim memiliki blog dan rajin menuliskan pemikiran dan pengalamannya di blog tersebut. Salah satu blog yang dimilikinya adalah www.bahrunnaim.site dan www.bahrunnaim.co yang saat ini sudah tidak aktif.



Namun diketahui, terdapat web lain www.bahrunnaim.website yang menyerupai web-web sebelumnya. Pada salah satu bagian, dia menceritakan perjuangannya sampai ke tanah Suriah.



Pada tulisannya yang lain, dia membuat analisis dari serangan di Paris yang menewaskan 130 orang pada 13 November 2015. Tulisan itu berjudul “Pelajaran dari Serangan Paris” yang dipublikasikan pada 15 November—hanya terpaut dua hari dari Serangan Paris November 2015.



Di blognya itu, Bahrun menyebut serangan itu menakjubkan, juga inspiratif. Saat dia pergi ke Suriah, dia dilaporkan membawa satu anak dan dua orang istrinya. Saat itu, istri mudanya pergi dalam kondisi hamil.



Memulai Aksi Teror

Pada 14 Januari 2016, kawasan Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat serangan teror terjadi. Mulai dari bom bunuh diri, hingga bakutembak terjadi di sana. Sedikitnya, delapan orang meninggal dunia. Empat orang pelaku dan empat warga sipil.



Selain itu, ada 24 orang luka-luka di lokasi. Lalu dari hasil pengembangan sebanyak tujuh pelaku ditangkap, dan salah satu yang bertugas penerima dana diketahui berhubungan dengan Bahrun Naim.



Bahrun Naim juga dipastikan sebagai aktor di balik aksi itu. Hal ini juga dipastikan oleh Polri. Karena dari hasil-hasil penyelidikan, Bahrun Naim adalah orang yang paling bertanggungjawab di aksi itu.



Serangan Polres Surakarta Berkaitan Erat dengan Bahrun Naim.



Pada 5 Juli 2016 Polres Surakarta diserang oleh teroris. Dia adalah Nur Rohman. Menggunakan sepeda motor, dia masuk ke halaman polres dan langsung meledakan diri. Meski begitu dia sempat dihalau petugas.



Atas kejadian ini, tak ada korban jiwa, hanya pelaku saja yang meninggal dunia, dan satu polisi mengalami luka-luka.



Teroris Batam Ancam Kirim Rudal ke Singapura

Densus 88 Polri menangkap kelompok Kitabah Gonggong Rebus, dari jaringan ini ada enam orang yang ditangkap. Kenam pelaku yakni Gigih Rahmat Dewa (31), Eka Saputra (35), Tarmidzi (21), Hadi Gusti Yanda (20), Muhammad Tegar Sucianto (19)‎ ditangkap disejumlah tempat di Batam, Jumat (5/8) tadi.



Jaringan Majalengka, Teroris Perakit Bom

Densus 88 Antiteror menangkap teroris berinisial RPW (24). Dia ditangkap pada Rabu (23/11) pukul 09.00 WIB di Desa Girimulya, RT 003 RW 005 Kec Banjaran Kab Majalengka.



RPW merupakan bagian dari jaringan Bahrun Naim yang di Indonesia. Bahrun Naim merupakan warga negara indonesia yang hijrah ke Suriah untuk membantu Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS)‎.



RPW memiliki laboratorium untuk membuat bahan peledak sesuai pesanan sesama kelompok radikal. Dia bahkan sudah menerima pesanan dari beberapa daerah.



Beruntung sebelum bahan peledak itu sampai ke tangan para pemesan, Densus 88 Mabes Polri sudah bisa menangkap RPW.



Karo Penmas Mabes Polri, Brigjen Rikwanto menuturkan tugas RPW yakni hanya membuat ‎ramuan bahan kimia untuk menghasilkan struktur bahan kimia yang bisa menghasilkan bom.



Nantinya bahan kimia itu‎ tinggal ditambah dengan booster seperti paku dan baterai sehingga bisa menjadi bom yang cukup dasyat.



"‎Barang-barang ini dibuat, nanti pada waktunya, akhir tahun, sasarannya itu ditujukan kepada gedung DPR, Mabes Polri, Mako Brimob, Kedubes Asing, stasiun televisi tertentu, tempat ibadah dan cafe," kata Rikwanto, Jumat (25/11) di Mabes Polri.



Teroris Bekasi Ancam Ledakan Istana Merdeka

Sebanyak empat tersangka pelaku teror bom ditangkap di Bekasi, Jawa Barat dan Karanganyar, Jawa Tengah pada Sabtu (10/12). Sementara dua lainnya masih buron dan masih dilakukan pengejaran oleh kepolisian.



Kabag Mitra Ropenmas Divisi Humas Polri, Kombes Awi Setiyono menerangkan, para pelaku adalah bagian dari sel-sel kecil dari jaringan Jamaah Anshorut Daulah Khilafah Nusantara (JAKDN) pimpinan Bahrun Naim (BN) yang terafiliasi dengan organisasi ISIS.



"Kemudian atas perintah dari BN menyuruh membuat sel-sel kecil dan di antaranya keterlibatan mereka berempat itu," ujar Awi di Mabes Polri, Minggu (11/12)



Tersangka MNS (Nur Solihin) alias Abu Huroh lalu membuat sel kecil itu dengan merekrut beberapa orang diantaranya DYN (Dian Yulia Novi), AS (Agus Supriyadi), S atau Abu Izzah, dan dua DPO lainnya. MNS juga diketahui bersama dua oramg yamg masih DPO berperan merakit bom.



"MNS (Nur Solihin) alias Abu Huroh perannya membuat sel kecil, kemudian membeli palu 3 kg. Ikut merakit bom bersama DPO lainnya," ujar Awi.



MNS, lanjut Awi juga sering menerima kiriman dari Bahrun Naim sebanyak dua kali yang diterimanya di Solo dan mengantarkannya bersama AS untuk diserahkan ke DYN yang diamanahkan sebagai calon pengantin.



"Memperkenalkan pelaku lainnya kepada DYN. Kemudian mencarikan kontrakan di daerah Bintara, Bekasi untuk tersangka DYN," jelas Awi.



Lalu peran AS, menurut Awi selain mengantar bom dari Solo ke Jakarta bersama MNS untuk diserahkan ke DYN, AS juga mengantar DYN aebagai calon pengantin yang akan diturunkan di dekat obyek vital nasional sebagai target. pengeboman.



"Yang akan diledakkan rencananya pada hari ini. AS juga menyewakan mobil rental untuk ke Jakarta," ungkap Awi.



Awi mengungkapkan DYN sebagai calon pengantin juga intensif berkomunikasi dengan Bahrun Naim. DYN juga diketahui menerima uang dari Bahrun Naim sebesar Rp 1 juta melalui tersangka MNS untuk hidup sehari-hari di kontrakan.



Dan pelaku terakhir, S atau Abu Izzah yang ditangkap di Karanganyar berperan membantu merakit bom yang dibawa oleh MNS dan AS ke Jakarta.



"Kemudian saat ini mereka diperiksa intensif di Korps Brimob,” tukas dia.



Teroris Tangsel, Sasar Pos Polisi di Tahun Baru

Jaringan terakhir yang berhubungan dengan Bahrun Naim yang diungkap Polri adalah jaringan teroris Tangsel. Di mana ada tiga teroris yang ditembak mati dan satu hidup.



Dalam penangkapan itu, diamankan empat orang. Satu ditangkap hidup atas nama Adam dan tiga lainnya tewas ditembak yakni Omen, Irwan, dan Helmi.



Tindakan tegas dilakukan Densus 88 pada ketiganya karena saat hendak ditangkap, mereka malah melawan dengan menembak ke arah Densus 88 serta hendak melempar bom. Meski begitu, hingga kini Polri belum bisa menangkap Bahrun Naim. Dia masih bisa menghirup udara bebas di Suriah sana.



Menurut Karo Penmas Humas Polri Brigjen Rikwanto, meski Densus telah berhasil menangkap sejumlah teroris secara hidup tapi Polri terus mewaspadai adanya sel-sel jaringan dari Bahrun Naim.



"Memang untuk teroris sudah tertangkap dan diamankan di Mako Kelapa Dua Brimob tapi untuk sel jaringan ada saja soalnya rekrutmen terus berlanjut dari Bahrun Naim. Sel terungkap terungkap atau belum masih terus ditelusuri," kata Rikwanto di Jakarta, Minggu (25/12).



Rikwanto menerangkan, memang dari rentetan penangkapan teroris merupakan sel kecil berencana akan melakukan aksi pada hari raya natal dan tahun baru. Untuk mengantisipasi adanya aksi terorisme maka Polri dan Densus 88 terus melakukan pengamanan.



"Tim Densus masih di lapangan berbagai tempat antisipasi giat natal dan tahun bary. Petugas kami upayakan gagalkan teror di tempat ibadah dan keramaian lainnya," ujar Rikwanto.



Sementara itu, Pengamat Teroris, Al Chaidar angkat bicara terhadap maraknya penangkapan terhadap kelompok jaringan teroris yang dilakukan Tim Densus 88 belakangan ini. Dia menyebut kelompok yang dibekuk hanya bagian kecil.



Menurut Al Chaidar, sisa sel yang belum tertangkap masih menyasar momen pergantian tahun baru. Setidaknya terdapat sembilan sel yang siap melakukan penyerangan.



"Sembilan sel itu masih mengincar tahun baru. Sembilannya sel Majalengka, Bekasi, Tanggerang Selatan, Payakumbuh, Batam, Deli Serdang, Purwakarta, Surabaya, dan Solo. Ini masih ada selnya, yang tertangkap kemarin masih sedikit," kata Al Chaidar, Senin (26/12).



Al Chaidar menambahkan, kesembilan sel ini masih terhubung satu sama lain. Bahkan disebutkan, mereka masih ada hubungannya dengan ISIS. Pasalnya pimpinan dari aksi mereka yakni Bahrun Naim, gembong teroris yang berbaiat dengan ISIS.



"Ini mereka masih terhubung. Masih terhubung ke NIB. Pangkalnya masih terhubung ke Bahrun Naim," tegas Al Chaidar. (elf/JPG)

EDITOR: Ilham Safutra