← Beranda

Ketika Karya Lukis Made Wianta Menikmati Boom Seni Rupa

Raihul FadjriMinggu, 21 Juli 2024 | 00.33 WIB
ILUSTRASI. (BAGUS/JAWA POS)

 

Made Wianta dikenal sebagai pelukis bercorak abstrak, tapi geliat berkeseniannya hiperrealis. Fenomena inilah yang tampak pada pameran arsip seni rupa Made Wianta di Galeri R.J. Katamsi, kampus ISI Jogja, yang berlangsung pada 8 Juni sampai 14 Juli lalu.

Wianta adalah pelukis yang dikenal dalam khazanah seni rupa modern. Wianta lulusan Institut Seni Indonesia Jogja pada 1976 (saat itu masih bernama Sekolah Tinggi Seni Rupa ASRI). Dia juga belajar seni hingga ke Brussel, Belgia, dan banyak mengunjungi galeri dan museum kesenian.

Salah satu pameran penting yang melibatkan Wianta sehingga dirinya beroleh pengakuan kritis dan penghargaan publik adalah pameran 2nd Asian Art Show di Fukuoka Art Museum, Jepang, pada November 1985.

Bagi Wianta, keikutsertaannya dalam pameran itu merupakan jembatan kesempatan yang memungkinkannya mengapresiasi karya kaligrafi Jepang bernuansa emas di kanvas berbentuk panel. Sekaligus belajar kepada Master Zen kaligrafi yang meyakinkan Wianta bahwa garis, sapuan, dan tulisan kaligrafinya sangat kuat dan indah.

Kesempatan dan keyakinan itulah yang membangkitkan inspirasi dan menggerakkan daya ciptanya untuk melahirkan seri lukisan kaligrafi yang memikat penjaja karya seni rupa dan pencinta seni lukis di dalam dan luar negeri.

Wianta memang sosok seniman yang dikenal suka membaca, khususnya dalam bidang filsafat yang menuntunnya pada falsafah Buddhisme dan nihilisme ala Nietzsche. Selain karena beragam bacaannya, kesenimanan Wianta muncul dari tradisi agraris di tanah kelahirannya, Bali.

Pameran bertajuk Lupakan Wianta inilah yang merangkum kiprah Wianta dalam dunia seni rupa di Indonesia dan internasional lewat karya seni rupa dan arsip. Pameran ini menampilkan beragam lukisan dan gambar karya Made Wianta (1949–2020) serta buku, foto, dan video performance art tentang Wianta.

Yang menarik, pameran ini diberi judul Lupakan Wianta sebagai metafora yang justru dimaknai kurator pameran ini, Wahyudin, sebagai ikhtiar sederhana untuk menebalkan lupa sebagai rindu yang sempurna kepada Wianta. ”Sehingga ia (Wianta, Red) tetap pantas dicatat dan dapat tempat di dunia serta sejarah seni rupa Indonesia, yang suka lekas menghapus nama dan karya perupa Indonesia dari catatan, rekaman, ingatan, atau kenangan setelah mereka berkalang tanah,” kata Wahyudin.

Pantaskah sosok Wianta dan karya lukisnya ditempatkan pada tempat istimewa dalam sejarah seni lukis Indonesia? Karya perupa kelahiran Tabanan, Bali, pada 1949 ini tampil dalam berbagai bentuk abstrak. Antara lain geometri, lingkaran, kuadran, segitiga, titik, bahkan kaligrafi. Lalu, apa menariknya berbagai bentuk itu dieksplorasi?

Pertama, karya Wianta yang bercorak abstrak merupakan terobosan baru dalam khazanah seni lukis Bali yang saat itu masih mengeksplorasi tradisi Bali dalam bentuk potret, alam-benda, lanskap, dan sejarah, sebagaimana yang dieksplorasi lukisan figuratif bercorak Bali oleh pelukis Nyoman Gunarsa.

Kedua, dengan corak abstrak itu, Wianta seperti melarikan diri dari Bali, tapi tetap berada di Bali. Artinya, meski lukisan Wianta bercorak abstrak (nonrepresentasional), Wianta melakukannya masih dengan kesadaran eksistensialnya sebagai manusia Bali.

Corak abstrak itu memungkinkannya menyelaraskan proses kreatifnya sebagai perupa Bali dengan pilar artistik, bentuk, teknik, dan ide seni lukis Barat. Karya abstrak Wianta pun kemudian melampaui realitas dunia seni rupa.

Dengan corak lukisan abstrak itu pula dia menerobos dunia seni rupa di level internasional. Wianta mengikuti berbagai pameran internasional seperti di New York, Paris, dan Tokyo. Namun, yang paling terkenal perannya dalam Biennale di Venesia pada 2003.

Kiprahnya menggelar pameran di Indonesia dan internasional juga membuat karya lukisnya laris manis berkat boom di pasar seni rupa pada pertengahan hingga akhir 1980-an. Kritikus seni rupa Sanento Yuliman menyebut Wianta salah satu dari empat pelukis Indonesia yang beroleh berkah boom seni lukis.

Wianta barangkali satu-satunya pelukis Indonesia yang tak pernah dicampakkan oleh kolektor. Hampir tiap pameran komersialnya terbilang sukses. Pada 1985 lukisan Wianta berseri Kaligrafi, Titik, Segitiga, Kuadran, Lingkaran, dan Geometri meledak di pasar seni rupa. Harga termahal lukisan Wianta saat itu Rp 100 juta. Bahkan saat Wianta ikut pameran di New York bertajuk Run for Manhattan pada 2017, karyanya yang berjudul Fifth Avenue (2003) dibanderol Rp 1,2 miliar.

Tak heran jika di rumahnya tiap hari ada saja telepon dari pemilik galeri atau kolektor yang meminta lukisannya. Ada kolektor yang akan membeli karyanya seharga setengah miliar rupiah. Satu harga lukisan yang luar biasa mahal saat itu. Tapi, Wianta menolak karena lukisan itu koleksi pribadinya. Ini bukti Wianta tak sepenuhnya seperti banyak dicap orang sebagai pelukis yang melayani permintaan pasar.

Toh Wianta pernah jengkel saat menghadapi pembeli karyanya. ”Mendapatkan hasil jerih payah itu wajar, tapi banyak juga yang bermain-main di atas jerih payahku,” katanya. Suatu kali seorang pembeli lukisan meminta Wianta menandatangani kuitansi tanpa mencantumkan harga lukisan. Pembeli itu yang akan menuliskan. Wianta tahu pembeli itu akan melakukan korupsi dengan selembar kuitansi. ”Seketika aku muak, tapi butuh uang. Terpaksa kutandatangani kuitansi itu,” kata Wianta.

Pengalaman buruk dengan kuitansi kosong itu menyadarkan Wianta akan tata kelola seni rupa dan kondisi eksistensial perupa. ”Sudah saatnya seniman hanya berkarya dengan ide. Urusan tetek bengek lainnya serahkan kepada orang lain,” katanya.

Sikap profesional inilah yang mulai dikembangkan sejumlah seniman saat ini. Memisahkan urusan proses kreatif sebagai seniman dengan urusan pemasaran seni rupa kepada tim tersendiri. Dengan demikian, seniman hanya fokus berkarya dan menghasilkan kualitas karya yang maksimal. Tanpa dibebani urusan pasar. Wianta membuktikan dirinya berhasil menekuni seni rupa secara profesional. (*)

Raihul Fadjri, Penikmat seni

EDITOR: Ilham Safutra