---
FILM ini membawa isu abu-abu tentang child free yang memang hingga saat ini memicu pro-kontra, juga isu gelap tentang pola patriarki yang sudah bisa ditebak akan berujung pada superioritas laki-laki dan inferioritas perempuan. Bukan hanya itu, cara mendidik anak yang masih bersifat konvensional juga tak luput dari bidikan Ernest Prakasa dalam film ini. Secara lebih sederhana, Cek Toko Sebelah 2 seolah menjelma perjalanan puisi: dari bentuk terikat menuju wujud yang lebih bebas.
Diikat oleh Rima
Dari sudut pandang tradisional, puisi memiliki rima yang terikat agar bisa disebut indah. Seiring dengan perjalanan waktu, puisi mulai dimaknai dengan perspektif kontemporer. Michael Riffaterre (1978) dalam Semiotics of Poetry menyebutkan bahwa puisi akan berubah sesuai dengan dinamika selera pencintanya. Jika dulu puisi bersifat terikat, kini puisi bersifat bebas. Kurang lebih seperti itu yang saya rasakan ketika menikmati film Cek Toko Sebelah 2. Terdapat sudut pandang tradisional yang selalu mengulang-ulang ”rima” tentang keberadaan anak dalam rumah tangga. Tolok ukur kebahagiaan orang tua setelah melihat anaknya menikah adalah memiliki cucu yang lucu-lucu. ”Rima” beruntun yang dilestarikan oleh perspektif tradisional adalah kapan lulus, kapan kerja, kapan nikah, hingga kapan punya anak. Ketika jawaban atas semua pertanyaan tersebut bersifat negatif, respons yang diterima adalah kekecewaan hingga cibiran seperti loh ngapain aja kok belum lulus, mau nganggur sampai kapan, awas jadi perawan tua loh, hingga yang paling menyakitkan seperti jangan-jangan mandul.
Konflik semacam itulah yang dihadirkan dalam Cek Toko Sebelah 2 lewat keinginan Koh Afuk, yang sedikit memaksa, agar Yohan dan Ayu segera memberinya cucu. Keinginan Koh Afuk ini sedikit banyak juga dipengaruhi oleh pola pikir lingkungan di sekitarnya yang sama-sama memiliki pola pikir tradisional. Dalam hal ini sahabat memancing Koh Afuk sendiri yang menegaskan kebahagiaan paripurna orang-orang di usia senja adalah melihat cucu-cucunya tertawa. Pola terikat seperti ini mulai dicerahkan lewat dialog Ayu yang lebih berpola bebas, yakni memiliki anak memang membuat orang bahagia, namun untuk bisa bahagia tidak harus dengan memiliki anak. Pada akhirnya, Ayu dan Yohan tetap menghadirkan sudut pandang yang terbuka terkait keputusan untuk ”mengusahakan” anak atau tidak. Cek Toko Sebelah 2 menghadirkan dua sisi sekaligus terkait keberadaan anak dalam rumah tangga. Sisi pertama menghadirkan romantisme antara Amanda dan ayahnya, sedangkan sisi lainnya menghadirkan masa lalu kelam Ayu yang dicampakkan oleh orang tua kandungnya sendiri. Karena itu, Ayu mengungkapkan bahwa memiliki anak adalah masalah tanggung jawab yang lebih dari sekadar istri. Agaknya memang cukup realistis bahwa tidak semua ibu benar-benar ”melahirkan” anaknya.
Baris yang Bebas Jumlah
Selain terikat oleh rima, puisi dalam kacamata tradisional juga dikekang oleh jumlah baris. Berbeda dengan puisi modern yang bebas dari batasan angka-angka. Sebut saja puisi Hamid Jabbar Doa Terakhir Seorang Musafir yang berisi satu baris puisi, bahkan judulnya jauh lebih panjang dari isinya yang hanya satu kata, Amin. Satu di antara bentuk ikatan yang agaknya ingin diudar dalam Cek Toko Sebelah 2 adalah barisan patriarki yang dipola sejak lama bahwa perempuan harus berbaris di belakang laki-laki.
Hal ini dapat ditemui saat Ibu Natalie bertanya kepada Erwin, Apakah kamu tidak masalah jika penghasilan Natalie jauh lebih besar dari kamu? Pertanyaan yang seolah hanya ditujukan pada Erwin ini sejatinya merupakan pertanyaan besar untuk siapa pun di dunia ini yang masih memegang prinsip penghasilan suami harus lebih besar dari istri, bahkan kalau bisa istri tidak perlu menghasilkan apa-apa. Gaung kesetaraan kian jelas ketika Ibu Natalie memperjelas tentang keinginan Erwin mengambil pekerjaan di Singapura, yakni karena Erwin tidak ingin gajinya di bawah Natalie. Egoisme laki-laki akan terluka ketika menghadapi kenyataan seperti itu, hingga akhirnya yang terjadi tak sekadar hegemoni, tetapi telah jauh meningkat ke taraf dominasi.
Lagi-lagi Cek Toko Sebelah 2 menghadirkan sudut pandang yang jauh lebih terbuka bahwa kesetaraan tidak berarti mengambil alih dominasi, tetapi lebih ke arah saling berkompromi. Baik antara suami maupun istri tidak ada satu pihak yang merasa terzalimi. Dalam fikih Islam bidang jual beli, antara pembeli dan penjual sama-sama rida (an tarodhin).
Pembaca sebagai Pemiliknya
Karena tidak lagi terikat, puisi menurut sudut pandang kontemporer jauh lebih ekspresif sekaligus interpretatif. Puisi yang hanya berupa bidang segi empat dengan sembilan kotak karya Danarto menjadi bukti keindahan yang juga kaya dengan interpretasi dan imajinasi. Selain itu, indah tak bisa diukur dari standar baku karena puisi ketika telah rampung tak lagi menjadi milik penulisnya. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Roland Barthes bahwa ketika puisi telah selesai, saat itulah mata penyair berakhir.
Jika dulu puisi diukur dengan sistem-sistem terikat, kini puisi telah mengembara jauh dengan bebas. Sama halnya dengan isu yang diusung dalam Cek Toko Sebelah 2 tentang pola mendidik orang tua. Jika dulu alur hidup seorang anak dimiliki oleh orang tua, kini anak juga memiliki kebebasan untuk menentukan alur hidupnya sendiri. Satu quote menarik yang bisa saya ambil dari Cek Toko Sebelah 2 adalah Apa yang terbaik menurut orang tua belum tentu benar-benar yang terbaik untuk anaknya, meskipun setiap manusia harus mengakui bahwa tidak ada orang tua yang menginginkan keburukan untuk anaknya.
Melihat bagian ini, saya teringat dengan pernyataan Y.B. Mangunwijaya (2020) dalam Sekolah Merdeka bahwa pemilik sejati pendidikan adalah anak-anak (siswa) sehingga sudah seharusnya pendidikan dikembalikan kepada pemilik sejatinya. Orang tua maupun guru tidak boleh (lagi) memegang kontrol utama karena anak-anaklah yang sudah seharusnya menjadi pengendali utama. Orang tua maupun guru agaknya cukup menjadi pengawas (penonton) yang bertugas memberikan arahan jika ada hal-hal yang perlu ”diluruskan”.
Akhir kata, selamat menjelma puisi bagi Cek Toko Sebelah 2: Dari Terikat Menuju Yang Lebih Bebas. (*)
---
AKHMAD IDRIS, Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia di STKIP Bina Insan Mandiri Surabaya, alumnus Ponpes Roudlotul Muta’allimin Porong Sidoarjo