Ni Nyoman Sani tentu bukan nama asing di dunia seni. Namanya tercatat di berbagai dokumentasi mengenai seni rupa Bali, peserta pameran, dan mengikuti residensi di mancanegara. Namun, pemenang utama dalam kompetisi UOB POY Indonesia 2023 membuat tempatnya di cakrawala seni rupa Indonesia lebih solid lagi.
SEBAGAI perupa yang lahir dan dibesarkan dalam lingkungan kultural yang memercayai hubungan kuat antara Bhuana Agung dan Bhuana Alit, karya pemenang UOB POY 2023 berjudul Tranquility atau Keheningan memancarkan suatu spiritualitas yang matang sekaligus menyegarkan.
Berdasar atas suatu kekuatan dan rasa internal yang terhubung dengan lingkungan dan budaya dan kepercayaan Bali Bhuana Agung dan Alit karya Tranquility pada eksekusinya menampakkan suatu genre yang melampaui karya abstrak yang konvensional.
Dibuat dengan cat akrilik, bercampur bubuk marble dan gesso (semacam kanvas coating) dan lem, totol-totol yang langsung disemprot dari tube tampak seperti titik-titik random di cakrawala nun di sana.
Tidak memakai pola tertentu, penikmat seni dapat membayangkan proses seperti ini sebagai sebuah meditasi dengan rasa mendalam seorang Nyoman Sani yang sedang merenungkan keterikatan manusia, kebudayaan, dan alam seperti diajarkan oleh filosofi Bali Bhuana Agung dan Bhuana Alit.
Nyoman Sani yang terpilih dari 25 peserta kontes UOB kelompok profesional berhasil menghadirkan kearifan kultural dengan suatu semangat kekinian. Di mana kanvas memerlukan penerangan untuk menampakkan titik-titik rasa yang tersebar bagaikan sublimasi semesta. Warna hijau muncul di beberapa titik pada saat lampu diredupkan.
UOB adalah singkatan dari United Overseas Bank Ltd, yang didirikan pada 1935 oleh Datuk Wee Kheng Ching, ayah ketua UOB group overseas dan tujuh pebisnis lainnya.
Keterlibatan UOB dalam dunia seni dimulai sekitar 1970 yang awalnya mengoleksi karya seni Asia Tenggara yang baik. Sementara ajang kompetisi secara khusus dimulai pada 1982 dan meliputi perupa Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Singapura.
Sejak beberapa tahun terakhir, kompetisi UOB merupakan ajang penting di kawasan Asia Tenggara. Sementara di Indonesia, kompetisi UOB menempatkan diri sebagai pemain terkemuka yang mendorong perkembangan seniman dan seni rupa di Indonesia, khususnya dalam bidang seni lukis.
Namun, dengan berlalunya waktu, ternyata kontestasi UOB Painting of the Year juga bergerak menuju genre yang mencoba melebarkan pengertian ”painting” dari istilah yang terbatas menuju yang lebih mengikuti zeitgeist atau semangat zaman.
Nah, pada karya lukis Nyoman Sani yang elemen rasa menginspirasikan bidang putih yang luas di mana keheningan menjadi keniscayaan. Munculnya titik-titik hijau merupakan eksplorasi Nyoman Sani dengan medium phosphorescent yang menyala saat gelap.
Rasa juga menjadi dasar karya-karya puisinya yang terkumpul dalam buku Melodia Rasa yang baru saja terbit. Buku ini menjadi sangat spesial dengan adanya sketsa-sketsanya dalam buku itu yang menegaskan ungkapan kata yang kadang tak terungkapkan.
Seperti juga di karya Tranguility, gaya ungkap Nyoman Sani pada karya lainnya sederhana, simpel, dan sering subtil. Walaupun berdasar pada kekuatan batin yang dahsyat dan ditegaskan dengan torehan garis hitam yang tebal.
Nyoman Sani yang lahir di Banjar Panti, Sanur, Bali, pada 1975 merupakan perupa lulusan ISI Denpasar 2001 dan telah menggelar pameran tunggal, baik di dalam maupun luar negeri. Nyoman Sani pun menjalani residensi di Haarlem (Berlanda) dan Modena (Italia) serta pernah terlibat di dalam artist camp di Darwin, Australia.
Nyoman Sani bukan saja seorang pelukis. Melainkan juga fotografer, desainer busana, dan penyair yang memiliki kualitas. Karya-karyanya didominasi rasa, kehalusan jiwa, dan keseriusan profesional.
Awalnya keberpihakannya pada perempuan menjadi ciri khasnya. Nyoman Sani membuktikan daya kepemimpinan ketika dia menjadi ketua Art by Women (2012) yang digagas Mary Northmore. Organisasi ini menjadi suatu kekuatan yang menjadi pendorong keterlibatan perempuan Bali dalam dunia seni rupa. Kiprahnya juga tampak pada pembentukan Mother Art Space agar para ibu tidak ketinggalan.
Mengikuti alur semangat zaman kini tampak membawanya ke jalan seni lebih ekspansif meliputi lingkungan dan termasuk isu universal. Baik dalam pemikiran maupun dengan material yang digunakan. Semoga eksplorasi dan eksperimentasi lebih lanjut dapat membawanya lebih jauh lagi. (*)
---
CARLA BIANPOEN, Penulis dan pengamat seni rupa kontemporer