Baru-baru ini jagat musik remaja dimanjakan dengan kehadiran lagu-lagu eksploratif dengan tema patah hati yang merajai jajaran video trending di YouTube pada kategori musik.
---
MULAI lagu Mendung Tanpo Udan sebagai genre dangdut, lagu Pesan Terakhir sebagai genre pop kekinian, hingga lagu Yang Terdalam sebagai genre pop lawas yang telah di-remake ulang. Tiga lagu tersebut memang memiliki lirik-lirik yang menarik, tapi justru karena kemenarikan itulah yang membuatnya terasa asyik untuk dikritik. Mengkritik lirik lagu (yang dapat disebut sejenis dengan puisi) seolah menjadi hal yang ”haram” dilakukan karena hak lisensi puitis yang dimiliki seorang penyair. Namun, sebebas apa pun seorang penyair dalam melanggar kaidah bahasa, tidak berarti setiap pengarang memiliki hak bebas yang tanpa batas.
Senada dengan yang disampaikan Aristoteles dalam Poetics bahwa lisensi puitis yang dimiliki seorang penyair tetaplah harus merepresentasikan satu di antara tiga hal yang meliputi (1) hal yang sesungguhnya, (2) hal yang diungkapkan, atau (3) hal yang semestinya terjadi. Artinya, setiap hasil olah kreatif pengarang tetap bertumpu pada kebenaran, bukan hasil imajinasi yang seenaknya sendiri dan menolak hal-hal yang semestinya terjadi. Misalnya, olah kreatif yang merusak logika berpikir dengan tanpa tujuan menciptakan efek tertentu (misal gaya bahasa). Atas dasar itulah tulisan ini dibuat dengan latar belakang kegelisahan atas lirik-lirik yang terdapat dalam tiga lagu tersebut. Kegelisahan itu berupa bias gender, cacat logika, dan inkonsistensi.
Mendung Tanpo Udan dan Ironi Kesetaraan
Popularitas lagu Jawa agaknya bermula dari melejitnya lagu-lagu Didi Kempot yang disusul dengan keberhasilan Denny Caknan dan Ndarboy Genk dalam membawa lagu-lagu Jawa ke tingkat nasional. Satu di antara lagu Jawa yang berhasil dipopulerkan Ndarboy Genk adalah Mendung Tanpo Udan versi dangdut koplo yang sebelumnya telah dinyanyikan terlebih dahulu oleh Kukuh Prasetyo dalam versi pop ballad. Popularitas lagu Mendung Tanpo Udan memang menarik untuk diulik, tapi yang tak kalah menarik untuk ditelisik adalah kutipan lirik yang berbunyi: Awak dewe tau duwe bayangan/ Besok yen wes wayah omah-omahan/ Aku moco koran sarungan/ Kowe belonjo dasteran. Terjemahan bahasa Indonesia-nya kurang lebih seperti ini: Aku pernah memiliki angan-angan/ Nanti ketika sudah berumah tangga/ Aku membaca koran memakai sarung/ Kau berbelanja mengenakan daster.
Menurut sudut pandang penulis, ada unsur bias gender yang entah disadari atau tidak oleh sang penulis dalam penggalan lirik tersebut. Bias gender sejatinya bermula dari sistem patriarki yang memandang superioritas pada salah satu jenis gender dan inferioritas pada jenis gender lainnya. Pada penggalan lirik lagu di atas, bias gender terlihat jelas saat menyebut sosok laki-laki yang membaca koran, sedangkan perempuan diinterpretasikan sebagai sosok yang memakai daster dan sibuk berjibaku dengan urusan belanjaan –mewakili pandangan patriarki terhadap perempuan yang tak pernah jauh dengan urusan dapur. Sekali lagi perlu ditegaskan, penulis lagu dapat dengan bebas membantah pernyataan ini dengan dalih lisensi puitis yang dimiliki. Namun, mengamini pendapat Roland Barthes bahwa mata pengarang berakhir ketika tulisannya telah dirampungnya karena yang berhak ”melihat” setelahnya adalah pembaca (penikmat musik).
Tangis dalam Lagu yang Tak Logis
Berlanjut pada lagu yang kedua adalah Pesan Terakhir yang dinyanyikan cum dipopulerkan Lyodra, jebolan ajang pencarian bakat. Lagu yang ”berkisah” tentang ungkapan cinta tak terhingga pada seorang kekasih yang tak lagi ingin bersama. Selaras dengan judulnya, lagu ini seolah menjadi pesan terakhir yang ingin diungkapkan sebelum benar-benar berpisah untuk selama-lamanya. Namun, alih-alih sesuai dengan judul lagunya sebagai pesan yang ”terakhir”, pada lirik selanjutnya malah menghendaki agar sang kekasih mencarinya lagi sebagaimana penggalan lirik berikut ini:
Genggam tanganku, sayang/ Dekat denganku, peluk diriku/ Berdiri tegak di depan aku/ Cium keningku tuk yang terakhir/ Ku kan menghilang jauh darimu/ Tak terlihat sehelai rambut pun/ tapi di mana nanti kau terluka/ Cari aku, ku ada untukmu.
Ada semacam permintaan kontradiktif dalam lirik lagu tersebut. Di satu sisi ingin mengakhiri hubungan dengan ciuman kening yang terakhir, tapi di sisi yang lain mengharap sang kekasih mencarinya lagi saat sang kekasih terluka. Mendengarkan lagu ini seolah mengingatkan kembali pada ungkapan Sujiwo Tejo bahwa jangan berlari untuk dicari sebab cinta tak sebercanda itu. Pertanyaannya: lagu Pesan Terakhir sebenarnya mengisyaratkan perpisahan atau mengharap untuk dipertahankan?
Inkonsistensi: Melepas, tapi Takkan Lelah Menanti
Lagu terakhir yang dikritik dalam tulisan ini adalah Yang Terdalam milik Noah. Dalam sebuah konser beberapa tahun yang lalu, Nazriel Irham selaku penyanyi sekaligus penciptanya bercerita bahwa lagu tersebut ditulis saat ia masih SMA untuk gadis yang ia cintai. Sejak awal lirik, Ariel dengan tegas mengungkapkan keinginan untuk melepas lewat penggalan lirik yang berbunyi kulepas semua yang kuinginkan. Keinginan Ariel semakin kuat kala memasuki penggalan lirik selanjutnya yang berbunyi tak akan kuulangi. Dari penggalan lirik awal tersebut, tampak jelas bahwa lagu Yang Terdalam berisi tentang membunuh perasaan.
Namun, ketika memasuki bagian reff, Ariel seolah ingin menghancurkan gagasan yang ia bangun sejak awal lewat penggalan lirik yang berbunyi: Takkan lelah aku menanti/ Takkan hilang cintaku ini/ Hingga saat kau tak kembali/ Kan kukenang di hati saja. Pada bagian ini, Ariel justru menunjukkan ketakajekan dengan ungkapan yang sebelumnya. Jika sebelumnya Ariel mengungkapkan keinginan untuk melepas, di bagian reff Ariel justru mengungkapkan kerelaan menanti –bahkan jika yang ia cintai tak kembali, Ariel rela hanya mengenangnya di dalam hati. Tampak ada inkonsistensi dalam narasi yang sedang dibangun Ariel sejak awal yang berakibat pada ambiguitas makna di dalam lagu itu sendiri.
Akhir kata, tiga lagu kekinian tersebut memang mewakili kegundahan remaja-remaja milenial dalam urusan percintaan. Namun, secara kelogisan bahasa serta kandungan makna, tiga lagu tersebut perlu mendapatkan kritik sebagai bentuk kepedulian penulis sebagai pengajar bahasa dan penikmat musik Nusantara. (*)
*) AKHMAD IDRIS, Dosen STIBA Satya Widya Surabaya.