(Buat Janeth Watulangkow)
Janeth yang baik.
Hari-hari ini perasaan saya campur aduk seperti anak muda-remaja yang setengah gentar setengah tegar untuk bertandang ke rumah pacar. Ia khawatir ’’wakuncar’’-nya akan hancur oleh sesuatu yang tak terduga.
Selasa siang, 25 Juli lalu, saya berkunjung ke Tugu Pers Mendur di Kawangkoan, Minahasa.
Seorang teman fotografer di Jakarta menyarankan saya ke sana ketika tahu saya di Manado.
’’Bung, mumpung Anda di Manado, cobalah ke Tugu Pers Mendur,’’ katanya.
Yang menggugah dari saran tersebut, ia mengharapkan saya menulis esai mengenai monumen dan museum kewartawanan Alexius Impurung Mendur (1907–1984) dan Frans Soemarta Mendur (1913–1971), masyhur sebagai ’’Mendur Bersaudara’’, yang terletak di pinggir jalan Desa Talikuran itu.
’’Sesiapnya esai itu, kirimlah kepada saya, saya akan sangat senang membacanya,’’ kata fotografer yang foto-fotonya enak dilihat dan perlu itu.
Sebagaimana prajurit siap tempur, saya menerima saran itu sebagai amalan pepatah lama: ’’sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.’’ Atau, untuk memakai istilah teman kita, Sitti Aisjah Bagenda, ’’kerja sambil liburan.’’
Tapi, seperti Joe Galloway dalam film We Were Soldiers (2002), yang diperankan dengan bagus oleh aktor Kanada Barry Pepper, saya mau tak mau percaya dengan kenyataan menyedihkan Tugu Pers Mendur.
Saya tak akan bercucuran air mata seperti Joe Galloway waktu menulis reportase pertempuran penuh harga diri antara pasukan Vietnam Utara dan Amerika Serikat pada 1965. Tapi, saya tak bisa tak bersedih ketika menulis monumen dan museum dua wartawan foto penerima Bintang Jasa Utama (2009) dan Bintang Mahaputra Nararya (2010) itu.
Bagaimana tak, tugu berupa patung figur ’’Mendur Bersaudara’’ berdiri di atas kamera Leica, kamera canggih dari awal abad ke-20, itu tampak serupa dua badut peyot kepanasan dan menjamur hitam kedinginan.
Terik dan lembap membuat tampang Alex dan Frans Mendur seperti montir bengkel mobil yang berlepotan oli. Menggelikan, alih-alih mengenaskan.
Di belakang patung itu berdiam museum dari rumah papan, rumah tingkat dua tradisional Minahasa, bercat putih, berjendela dua, dan beratap seng, yang reyot digerogoti rayap.
Di dalamnya terdapat sejumlah kamera bekas Alex dan Frans Mendur, sebuah mesin cetak tua foto, dan ratusan foto bersejarah dari masa Revolusi bidikan mereka.
Salah satunya, kita mungkin pernah melihatnya di buku pelajaran sejarah SD, foto peristiwa Bung Karno, didampingi Bung Hatta dan beberapa hadirin, membaca teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Yang tak kalah terkenalnya, foto pengibaran Sang Saka Merah Putih untuk kali pertama di Jalan Pegangsaan Timur 56 pada 17 Agustus 1945.
Selain itu, yang jarang kita lihat, foto-foto gerilya Jenderal Soedirman dan pasukannya, foto jasad Muso dan tumpukan mayat dalam lubang dari peristiwa Madiun 1948.
Celakanya, kamera-kamera, mesin cetak, dan foto-foto itu remuk redam tak terawat. Mereka berdebu, membiru, dan berkarat.
Kepada Pierre Mendur, cucu keponakan ’’Mendur Bersaudara’’, penjaga Tugu Pers Mendur, saat bertemu di sana, saya bertanya: bagaimana bisa kekarutmarutan itu terjadi?
’’Torang so (kami sudah) berupa minta bantuan pemerintah for (untuk) perawatan Tugu ini, mar (tapi) bagini no (beginilah) kenyataannya,’’ kata laki-laki 54 tahun itu.
’’Mar bagini no’’ itu artinya, jangankan subsidi atau dana, perhatian kecil sedikit pun tak ada dari pemerintah saat ini.
Barangkali karena Tugu Pers Mendur, yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dari Manado pada 11 Februari 2013 tatkala ibu kota Sulawesi Utara itu menjadi tuan rumah peringatan Hari Pers Nasional, merupakan siasat politik muka manis penguasa daerah Nyiur Melambai saat itu, alih-alih ikhtiar kebudayaan penuh hormat kepada jasa-jasa ’’Mendur Bersaudara’’ bagi republik ini.
Ketika penguasa berganti, monumen dan museum itu pun tak diacuhkan lagi, sengaja tak sengaja.
Maka baiklah diingat, kedua wartawan asal Kawangkoan itu, dengan kamera dan foto, berjasa membukakan keberadaan republik ini ke kancah dunia. Kamera dan foto mereka meyakinkan bahwa republik ini merdeka dengan darah dan doa, air mata dan daya cipta.
Oleh karena itu, Janeth, saya benar-benar sedih. Di Jawa, setidaknya di Jakarta dan Jogjakarta, nama dan jasa ’’Mendur Bersaudara’’ harum semerbak di lidah dan hati penghayat jurnalisme, fotografi, dan sejarah.
Di Sulawesi Utara, khususnya di Kawangkoan dan Manado, nama dan jasa salah dua pendiri kantor berita foto IPPHOS (Indonesia Press Photo Service) itu tenggelam dalam riuh rendah mal, tempat wisata, dan swalayan ’’I-A’’ yang menggurita hingga pelosok Kawangkoan dan sudut-sudut terjauh Manado. Nama dan jasa ’’Mendur Bersaudara’’ seperti mikrolet tua yang terjebak macet di kawasan Boulevard Manado. Nama dan jasa ’’Mendur Bersaudara’’ sunyi senyap di balik ketenaran kacang Kawangkoan.
Janeth yang baik.
Saya bisa jadi berlebihan dengan semua kesedihan itu. Tapi, saya tak dapat berpura-pura atas realitas lampus Tugu Pers Mendur.
Penderitaannya hari-hari ini, yang tak membangkitkan iba, bisa diterjemahkan sebagai sejarah telah tak diacuhkan di provinsi ini, dan warga dan penguasanya berbahagia saja mengunyah pisang goroho, melahap tinutuan, dan mengganyang nasi jaha.
Kereyotannya kini jadi bukan berarti apa-apa kecuali alpa yang disengaja. Kesunyi-senyapannya saat ini bukan duka yang harus diratap-sesali sepanjang masa. Kesirnaannya nanti bukan lampus di malam kudus melainkan risiko kumpulannya yang terbuang.
Dengan begitu, Tugu Pers Mendur pun menjelmakan mirisnya pengingkaran warga dan penguasa di sini atas ’’kebijaksanaan’’ Bung Karno, sosok terbanyak dalam foto-foto bersejarah ’’Mendur Bersaudara’’, ini: ’’Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya.’’
Kecuali Alex dan Frans Mendur tak dianggap sebagai pahlawan di provinsi ini, pengingkaran itu bukanlah dosa yang perlu digembar-gemborkan kepada wisatawan Pulau Bunaken.
Janeth yang baik.
Maafkan saya atas semua keterusterangan di atas. Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi di provinsi ini, di Kawangkoan, di Kota Manado: kota yang, seperti terkatakan dalam sebuah lagu lokal lama, kota yang kucintai, kita nyanda mo lupa (saya tak akan lupa).
Sebab lupa, kata seorang penyair, adalah rindu yang sempurna. Maka, yang merindu akan selamanya terbawa sayu. Demikianlah yang saya rasakan pada Manado, pada monumen dan museum ’’Mendur Bersaudara’’. (*)
---
WAHYUDIN, Kurator seni rupa, tinggal di Jogjakarta