Jumat, 9 Juni 2023

Cinta untuk Menghalau Depresi Akibat Pandemi

- Minggu, 1 November 2020 | 12:02 WIB
ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS
ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS

Antonius Kho, perupa Indonesia yang termasuk jejaring para perupa dunia, meluncurkan seri lukisan yang menanggapi Covid-19.

---

PRIA yang pernah meraih penghargaan bergengsi 1st Prize Mask in Venice di Italia itu menggelar seri lukisan terbarunya bertajuk Spreading Love secara daring di Art One New Museum di Jakarta (25 September–25 Oktober 2020).

’’Di masa pandemi ini semua orang dihinggapi ketakutan,’’ katanya. Antonius prihatin dengan kondisi demikian. Mereka lupa bahwa ada obat mujarab, ujarnya, yaitu cinta. Cinta dapat mengobati semua kecemasan dan akan mengembalikan optimisme dan percaya diri, ia menandaskan.

Kepercayaan itu divisualkan di atas puluhan kanvas agar dapat disebarkan untuk mendongkrak energi di dunia seni rupa yang sempat melesu selama ini. Dengan judul Spreading Love, 20 karya digelar secara daring di Art One New Museum di Jakarta, milik Martha Gunawan, galeris senior dan kolektor, sementara galerinya dikelola putrinya, Monica Gunawan, sebagai direktur.

Di antara 20 karya yang semuanya terinspirasi masalah Covid-19, terdapat karya dengan berbagai ukuran. Namun, karya ukuran besar yang pernah dipamerkan di Biennale Bene Internasional Ke-4 di Provinsi Benevento di Italia (akhir Agustus 2020) patut disimak. Bertema Social Distancing dan Physical Distancing, kedua karya merujuk ke protokol kesehatan sebagaimana ditetapkan WHO dan pemerintah untuk menahan persebaran virus.

Pada Social Distancing secara samar terlihat sosok laki dan perempuan dilatarbelakangi mozaik-mozaik kecil dengan garis hitam sebagai aksen. Pada Physical Distancing puluhan wajah perempuan dan laki-laki tersusun pada dua latar yang seakan berdampingan, namun secara halus terpisahkan. Pada dua kanvas itu sudah dihadirkan beberapa helai rambut, namun hanya sebagai aksen.

Baca juga:

Aksen Rambut

Aksen itu kemudian dikembangkan pada seri Spreading Love (Menebar Cinta) menjadi beberapa garis yang ia artikan sebagai metafora untuk rambut manusia yang terurai tak beraturan. Sebenarnya pada lukisan Spreading Love 1 garis-garis tebal sudah sangat kentara, tapi narasi mengenai rambut baru muncul di seri Spreading Love.

Garis-garis tebal berwarna hitam melambangkan rambut yang secara tak terduga jatuh dari kepala manusia di atas kanvas yang menandakan emosi kekuatan. ’’Dalam karya saya, cinta disebarkan melalui rambut,’’ katanya. Baginya, rambut adalah seperti mahkota sebagai lambang keindahan sekaligus power, kekuatan dahsyat dengan mengandung sensitivitas tinggi. Tentu ia juga teringat cerita Samson and Delilah, di mana Samson yang kekuatannya tak terhingga dibuat tak berdaya oleh ulah musuhnya yang secara diam-diam dapat mencuri rahasia Samson, yaitu kekuatannya berasal dari rambutnya.

Aksen baru berupa garis tebal hitam memberikan nuansa segar dan dramatis pada kanvas berseri Spreading Love itu. Menurut Martha Gunawan, sambutan publik cukup baik. ’’Antonius memang perupa yang tekun, konsisten, dan memiliki daya tarik tersendiri.’’

Kelahiran Klaten, Jawa Tengah, pada 1958, Antonius pernah belajar kepada pelukis Barli Sasmita di Bandung. Ia pun pernah masuk kuliah di ITB, namun pada 1985 memutuskan untuk menimba ilmu di Jerman dan kuliah di Fach Hochschule Kunst Akademie (Academy of Applied Art and Sciences, 1984–1992). Saya punya saudara yang tinggal di sana, katanya, ketika ditanya mengapa memilih Jerman.

Di Jerman dengan berbagai gereja dan katedral yang berhiasan karya glass dengan warna-warni yang menakjubkan, ia merasa tertarik untuk mengikuti studi glass painting. Mengingat pernah menjadi pelukis batik, ia juga tertarik pada studi textile painting. Jadilah Antonius mengambil studi glass dan textile painting.

Glass painting tentu bukan maksudnya melukis di atas glass, melainkan melukis dengan glass yang berwarna, disebut stained glass, mirip yang banyak terdapat di gereja-gereja di Eropa dan beberapa gereja di Indonesia. Di Jerman glass berwarna tersedia menurut selera, katanya, tapi di Indonesia persediaan glass berwarna terbatas dan tidak selalu memenuhi selera pribadinya.

Maka, Antonius lalu memindahkan teknik stained glass yang juga disebut seni kaca patri ke kanvas, dan terjadilah lukisan-lukisannya yang tampak seperti masker bermozaik dengan potongan-potongan karung goni menggantikan glass berwarna. Dengan bagian-bagian kecil di dalam kesatuan besar, ada yang menyamainya dengan Bhineka Tunggal Ika. Ada juga yang mengatakan karya Antonius bersifat figuratif sekaligus abstrak.

Antonius Kho merupakan perupa yang sangat produktif. Ia seakan tidak mengenal jeda. Pandemi Covid-19 yang menjadikan banyak pihak merasa lesu, untuk Antonius tidak demikian. Selama delapan bulan ia malah sangat sibuk ikut berpameran daring, baik di dalam negeri maupun luar negeri seperti di Korea Selatan, India, China, dan berbagai pameran daring internasional lainnya.

Antonius Kho merupakan sosok yang cukup penting untuk persilangan budaya. Selain sebagai perupa yang rajin berkarya, ia rajin mengajak teman-teman berpameran bersama di sejumlah kota di dalam dan luar negeri, suatu aktivitas yang ia kelola lewat wadah Art Exchange, yang ia bentuk 2004. Selain perupa Indonesia dapat mengenal berbagai budaya, terutama di Asia dan Asia Tenggara, berbagai budaya Indonesia pun jadi dikenal oleh perupa luar yang bergantian berpameran di berbagai kota di Indonesia. Ia juga diminta membantu pameran-pameran Imago Mundi yang digerakkan Benetton, dengan tujuan mendekatkan berbagai budaya di dunia.

Berdomisili di Ubud, Bali, Antonius Kho pun memanfaatkan rumah tinggalnya sebagai studio dan galeri Wien, yang menjadi platform bagi perupa untuk eksplorasi dan bertukar pikiran.

Karya-karyanya yang memiliki ciri-ciri stained glass ia buat dengan ketelitian seorang pembatik dengan visi inovatif. Maka, ia berhasil membuat genre tersendiri, one of a kind. (*)

---

CARLA BIANPOEN, Penulis seni rupa Indonesia

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=4mxTrINXoNM&ab_channel=jawapostvofficial

Editor: Ilham Safutra

Tags

Terkini

Seribu Satu Malam di Bali

Minggu, 4 Juni 2023 | 08:35 WIB

Sehari-hari Merenung Melampaui Batas

Minggu, 28 Mei 2023 | 08:00 WIB

Kebangkitan

Minggu, 28 Mei 2023 | 07:00 WIB

Seni Pascareformasi

Minggu, 21 Mei 2023 | 11:31 WIB

Sua Kuasa Matra

Minggu, 14 Mei 2023 | 07:30 WIB

Kebudayaan ala Kotak Korek Api

Minggu, 14 Mei 2023 | 07:00 WIB

Kota via Teater, Teater via Kota

Minggu, 7 Mei 2023 | 08:38 WIB

Kepada Jakarta

Minggu, 7 Mei 2023 | 08:29 WIB

Peci: Tokoh dan Negara

Sabtu, 29 April 2023 | 17:00 WIB

Khotbah Idul Fitri Terakhir di Kota Revolusi

Sabtu, 29 April 2023 | 16:00 WIB

Yang Menyalakan Pelita untuk Kartini

Sabtu, 15 April 2023 | 18:00 WIB

Menyambut Koruptor

Sabtu, 15 April 2023 | 17:00 WIB

Citra Tafakur Agus TBR

Sabtu, 8 April 2023 | 18:00 WIB

Nada & Dakwah, setelah Tiga Dekade

Sabtu, 8 April 2023 | 17:00 WIB

Kochi Biennale dan Visi India Menuju Dunia

Minggu, 2 April 2023 | 10:03 WIB

Taman Kata-Kata Nadin Amizah

Sabtu, 1 April 2023 | 17:03 WIB

Ibadah di Alam yang Rebah

Minggu, 26 Maret 2023 | 04:00 WIB

Wajah Asia di Panggung Oscars

Minggu, 26 Maret 2023 | 03:00 WIB
X