Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 19 Juni 2023 | 16.24 WIB

Sidang Isbat Tetapkan Idul Adha 29 Juni, Wamenag Imbau Tak Tonjolkan Perbedaan

Petugas falakiyah melakukan ru - Image

Petugas falakiyah melakukan ru

Muhammadiyah Idul Adha 28 Juni

JawaPos.com – Pemerintah menetapkan awal Zulhijah 1444 Hijriah jatuh pada Selasa (20/6). Dengan demikian, Hari Raya Idul Adha 1444 Hijriah pada 10 Zulhijah bertepatan dengan hari Kamis (29/6). Itu berbeda dengan Muhammadiyah yang lebih dulu mengumumkan bahwa Idul Adha bertepatan dengan 28 Juni.

Penetapan tersebut diambil setelah sidang isbat yang digelar di Auditorium HM Rasjidi, kantor Kementerian Agama, Jakarta, Minggu (18/6) petang.

Sidang diikuti perwakilan ormas Islam, perwakilan duta besar negara sahabat, serta jajaran pejabat Kemenag.

Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi mengungkapkan, berdasar hasil rukyat yang dilaksanakan tim hisab rukyat Kemenag serta dikonfirmasi kepada petugas daerah yang kurang lebih ditempatkan di 99 titik seluruh wilayah Indonesia, posisi hilal di seluruh Indonesia tidak memenuhi kriteria MABIMS. Selain itu, hingga kemarin tidak ada laporan terlihatnya hilal. ”Karena itu, sidang isbat secara mufakat 1 Zulhijah jatuh pada Selasa (20/6) dan Hari Raya Idul Adha jatuh pada Kamis (29/6),” ucapnya.

Menurut Wamenag, sidang menyepakati keputusan tersebut karena dua hal. Pertama, mendengar laporan direktur urusan agama Islam (Urais). ”Bahwa ketinggian hilal di seluruh Indonesia sudah berada di atas ufuk, namun masih berada di bawah kriteria imkanur rukyat yang ditetapkan MABIMS,” kata Zainut.

Dalam laporannya, Direktur Urais Kemenag Adib menyampaikan, berdasar data yang dihimpun tim hisab rukyat Kemenag, ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia di atas ufuk berkisar antara 0 derajat 11,78 menit sampai 2 derajat 21,57 menit. Dengan sudut elongasi antara 4,39 derajat sampai 4,93 derajat. ”Dengan parameter-parameter ini, maka posisi hilal di Indonesia saat ini belum memenuhi kriteria baru MABIMS (menteri agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura),” papar Zainut.

Kriteria baru MABIMS menetapkan bahwa secara astronomis hilal dapat teramati jika bulan memiliki ketinggian minimal 3 derajat dan elongasinya minimal 6,4 derajat.

Kedua, Kemenag melaksanakan pemantauan atau rukyatul hilal pada 99 titik di Indonesia. ”Dari 34 provinsi yang telah kita tempatkan pemantau hilal, tidak ada satu pun dari mereka yang menyaksikan hilal,” ungkapnya.

Terkait perbedaan Hari Raya Idul Adha versi pemerintah dan Muhammadiyah, Wamenag Zainut Tauhid Sa’adi mengimbau hal itu tidak perlu terlalu ditonjolkan. ”Jika pada hari ini dan ke depannya ada pelaksanaan ibadah yang berkaitan dengan Idul Adha, kami berharap tidak ada yang menonjolkan perbedaan, akan tetapi mencari titik temu dari persamaan-persamaan yang dimiliki,” katanya.

”Kita harus memiliki sikap toleransi, harus saling menghargai perbedaan yang terjadi. Bukan saling mencaci, bukan melakukan hal-hal yang tidak disukai,” tegasnya.

Ketua Komisi VIII DPR RI Ashabul Kahfi menambahkan, pada tahun ini terdapat kemungkinan perbedaan waktu penetapan Idul Adha antara Indonesia dan Arab Saudi. Termasuk ada perbedaan yang ditetapkan oleh beberapa ormas Islam di Indonesia. Namun, adanya perbedaan dan penghitungan tentu tidak diperkenankan menjadi pemecah belah antarsesama.

Menurut Ashabul, perbedaan pendekatan menunjukkan keragaman dan penafsiran terhadap ilmu falak metode hisab dan tradisi lokal. ’’Kita berharap perbedaan-perbedaan ini disikapi dengan toleransi, hormat-menghormati, dan meningkatkan ukhuwah Islamiah,’’ tuturnya. (gih/c17/fal)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore