JawaPos Radar | Iklan Jitu

Maksimal Seminggu Reaksi Sulam Wajah akan Hilang

31 Oktober 2017, 21:58:37 WIB | Editor: Dwi Shintia
Sulam alis.
Prosedur sulam rambut. (MODEL: TINEKE LAKSANA, FOTO: GHOFUUR EKA/JAWA POS)
Share this

JawaPos.com - Pada awal penerapannya, sulam alis serta teknik sulam bulu mata sebetulnya ditujukan untuk mereka yang mengalami alopecia. Itu adalah kondisi kebotakan atau kerontokan parah yang dipicu kelainan sistem imun.

’’Nah, bagian yang seharusnya ditumbuhi rambut digantikan dengan sulam. Misalnya, bagian alis atau rambut kepala supaya pasien tidak kehilangan rasa percaya diri,’’ papar dr Ni Putu Susari W. SpKK, spesialis kulit dan kelamin RS Husada Utama Surabaya.

Sama-sama untuk estetis, ada perbedaan dalam pengaplikasian sulam alis dan bulu mata. ’’Kalau alis seperti ditato, sementara bulu mata merupakan prosedur ’menanam’ rambut,’’ ucapnya. Pengurus Perdoski (Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin) Surabaya itu menjelaskan, pada teknik sulam bulu mata atau rambut, ”bibit” yang digunakan biasanya merupakan rambut yang tumbuh di bagian belakang kepala.

Rambut tersebut dipasangkan di kelopak mata maupun bagian kepala yang mengalami penipisan atau botak. Meski dilakukan oleh ahli dengan teknologi canggih dan tingkat sterilitas tinggi, prosedur itu tetap mendatangkan risiko.

’’Ada kemungkinan trichiasis atau kelainan arah tumbuh rambut. Yang seharusnya tumbuh lurus jadi tumbuh ke dalam (ingrown) dan mengiritasi bagian mata,’’ ucap Putu. Dia menambahkan, hal tersebut juga dipengaruhi jenis rambut yang jadi ”bibit”.

Selain trichiasis, ada risiko parut di sekitar kulit yang ditanami rambut. Hal itu bisa menimbulkan iritasi lanjutan pada kelopak mata. ’’Jika tidak diatasi dengan baik, sulam alis bisa bikin kelopak radang sampai mengeluarkan pus (nanah),’’ lanjut Putu.

Namun, dr Ary Widhyasti Bandem MKes SpKK. menambahkan, luka itu umumnya hanya muncul di awal tindakan. Tiga sampai tujuh hari biasanya masih ada luka dan bengkak. Karena itu, beautician atau dokter yang menangani biasanya memberikan salep anti-iritasi dan antinyeri.

Dokter kelahiran 14 Juli 1968 tersebut menyatakan, bagian yang baru saja disulam tidak boleh terkena air maupun digosok. ’’Nah, kalau lebih dari seminggu masih ada keluhan nyeri dan lainnya, berarti ada yang salah dengan prosedur atau reaksi tubuh pasien. Perlu konsultasi ke dokter,’’ tegas Ary. (*)

fam/c7/ayi

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up