JawaPos Radar | Iklan Jitu

Cantik Praktis berkat Make-up Sulaman: Awali dengan Tes Alergi

31 Oktober 2017, 21:48:02 WIB | Editor: Dwi Shintia
Sulam alis.
SEMIPERMANEN: Pengaplikasian sulam alis biasanya bertahan 6 bulan–2 tahun bergantung kondisi kulit dan tinta yang digunakan. (MODEL: TINEKE LAKSANA, FOTO: GHOFUUR EKA/JAWA POS)
Share this

JawaPos.com - Teknologi di bidang tata rias terus berkembang. Make-up kini tidak cuma bisa bertahan dalam hitungan jam. Namun, hingga jangka waktu bulanan, bahkan tahunan. Kuncinya, embroidery atau teknik sulam.

Teknik sulam menjadi pilihan yang menyenangkan bagi sejumlah perempuan. Praktis dan sangat menghemat waktu. Mulai yang diaplikasikan di alis, bibir, wajah, sampai bulu mata. Tampilan jadi cantik paripurna sepanjang hari.

Tak khawatir goresan pensil alis atau pulasan lip cream akan luntur. Meski dinamai sulam, riasan semipermanen tersebut punya konsep yang mirip tato. ”Sebab, dalam langkahnya, yang ditanam bukan rambut. Beautician menyuntikkan tinta di bawah lapisan kulit dengan pola serupa rambut atau bulu alis,” ucap dr Ary Widhyasti Bandem MKes SpKK.

Perbedaan dengan tato adalah masa hilang tintanya relatif lebih cepat. Meski demikian, ketahanan tinta tersebut berbeda pada setiap individu. ”Ada yang awetnya enam bulan saja, tapi ada pula yang sampai 1–2 tahun,” jelas Ary.

Dokter yang berpraktik di Surabaya Skin Center itu menjelaskan, hal itu dipengaruhi dua faktor. Yakni, proses pengelupasan kulit secara alami serta metabolisme tubuh. ”Tergantung teknik dan bahan tinta yang digunakan juga. Jadi, keawetannya beda-beda, tidak bisa dibuat patokan,” tegasnya.

Menurut Ary, tinta yang digunakan kini semakin beragam. Bukan hanya hitam. Melainkan ada pula yang cokelat atau kemerahan jika diaplikasikan sebagai sulam bibir. Dokter lulusan FK Udayana Bali itu menjelaskan, teknik sulam relatif aman.

”Yang penting dilakukan oleh tenaga ahli yang bersertifikat dan alatnya steril. Kalau bisa, alatnya sekali pakai,” terang Ary. Dia menjelaskan, prosedur tersebut memang tidak dilakukan oleh dokter spesialis kulit. ”Dokter biasanya melakukan penghilangan tintanya,” lanjutnya.

Sementara itu, dr Ni Putu Susari W. SpKK, spesialis kulit dan kelamin RS Husada Utama Surabaya, menuturkan bahwa kunci keamanan teknik sulam ada pada praktiknya. Mereka yang ingin melakukannya harus sehat. Dalam arti, tidak sedang mengalami luka atau peradangan. Karena itu, dia tidak menyarankan sulam alis, bibir, atau bedak untuk mereka yang punya penyakit diabetes, hepatitis, dan orang dengan HIV/AIDS. ”Penyembuhan lukanya lebih lama,” imbuh Putu.

Lulusan FK Universitas Airlangga Surabaya itu menyatakan, untuk memastikan keamanan, peminat sulam sebaiknya melakukan survei terlebih dahulu. Terutama terkait dengan kecocokan dengan bahan tinta. ”Memang, tinta sulam yang khusus untuk make-up sudah berstandar FDA (lembaga pengawas obat dan makanan Amerika Serikat). Namun, idealnya, ada patch test lebih dahulu,” ucap Putu.

Dia menjelaskan, tes bisa dilakukan di kulit bagian belakang telinga. Tujuannya mengetahui adanya reaksi alergi. Jika kulit alergi, biasanya muncul kemerahan yang disertai bengkak. Tes itu penting, terutama pada orang dengan kulit yang hipersensitif terhadap bahan tinta. ”Karena kalau telanjur disulam, akan sulit menghilangkannya. Harus dengan laser. Itu pun ada risiko lagi,” papar Putu.

Penghilangan lewat teknik laser membutuhkan beberapa tahap. Prosesnya jelas memakan biaya yang lumayan besar. Di samping itu, ada risiko memunculkan bekas yang menyerupai luka bakar karena laser bersuhu tinggi.

Putu menjelaskan, penghilangan tinta lewat prosedur laser juga tidak mudah dilakukan. ”Frekuensi laser yang ditembakkan untuk tiap warna berbeda-beda. Penyetelan frekuensi itu berfungsi untuk ’meledakkan’ tinta yang ditanam di dalam kulit,” jelas Putu. (*)

fam/c6/ayi

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up