JawaPos Radar | Iklan Jitu

Hati-hati Ladies! Patah Hati Bisa Sebabkan Kematian

30 Desember 2017, 18:03:59 WIB | Editor: Novianti Setuningsih
Sindrom Patah Hati
Ilustrasi patah hati (dreamstime)
Share this

JawaPos.com - Jatuh cinta memang indah, jika berdua. Jika hanya sendiri, yang ada hanya depresi karena patah hati. Jika memikirkan patah hati, otomatis terbayang gambar love dengan garis bergerigi melewatinya. Tapi hati-hati karena hati yang benar-benar patah bisa mengakibatkan depresi yang akhirnya menyebabkan konsekuensi penyakit jantung.

Oleh karena itu, disarankan jangan lama-lama meratapi kesedihan saat patah hati karena berisiko pada kematian. Dilansir dari heart.org, berikut informasi lebih lanjut tentang bagaimana kejadian yang sangat menyakitkan dapat berdampak pada hati anda.

Menurut asisten kepala psikiatri di Zucker Hillside Hospital New York, Scott Krakower, secara medis hal tersebut bisa dibenarkan. Artinya, dunia medis memang mengenal istilah sindrom patah hati. 

"Sindrom patah hati dapat terjadi sebagai respons dari penyebab stres akut dalam kehidupan seseorang," kata Krakower.

Hati-hati Ladies! Patah Hati Bisa Sebabkan Kematian
Perangkap takotsubo ()

Sindrom Patah hati, juga disebut kardiomiopati akibat stres atau kardiomiopati takotsubo, yang bisa menyerang meski anda sehat. Tako tsubo sendiri adalah perangkap gurita yang menyerupai bentuk pot seperti hati yang terserang.

Wanita lebih mungkin mengalami sindrom patah hati dibandingkan pria. Mereka akan mengalami nyeri dada yang tiba-tiba dan intens sebagai reaksi terhadap gelombang hormon stress. Hal itu bisa disebabkan oleh peristiwa yang membuat stres secara emosional, seperti kematian orang yang dicintai, perceraian, perpisahan atau pengkhianatan. Bahkan bisa terjadi karena terkejut memenangkan undian.

Sindrom patah hati mungkin akan salah didiagnosis sebagai serangan jantung karena gejala dan hasil tesnya hampir serupa. Faktanya, tes menunjukkan perubahan dramatis pada ritme dan zat darah yang khas dari serangan jantung. Perbedaanya terletak di arteri, dalam sindrom patah hati tidak ada bukti penyumbatan arteri.

Sebaliknya, pada sindrom patah hati, sebagian jantung akan membesar sementara dan tidak dapat memompa darah dengan baik. Sedangkan, sisa fungsi jantung berfungsi normal atau dengan kontraksi yang lebih kuat.

Periset pun mulai mempelajari penyebab, cara mendiagnosis dan mengobatinya. Kabar buruknya adalah, sindrom patah hati dapat menyebabkan kegagalan otot jantung jangka pendek yang parah. Kabar baiknya, sindrom patah hati bisa diobati. Kebanyakan orang yang mengalaminya dapat pulih dalam beberapa minggu, dan risiko rendah untuk terjadi lagi.

Apa saja gejalanya anda terkena sindrom ini?

Tanda dan gejala yang paling umum dari sindrom patah hati adalah angina (nyeri di dada) dan sesak napas. Semua orang yang dalam kondisi terpukul dapat mengalami hal-hal ini, walaupun tidak pernah memiliki riwayat penyakit jantung atau asma.

Kemudian, aritmia (detak jantung tidak teratur) atau syok kardiogenik juga dapat terjadi. Syok kardiogenik adalah suatu kondisi, di mana jantung tiba-tiba melemah dan tidak dapat memompa cukup darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh, dan bisa berakibat fatal jika tidak segera diobati. Faktanya, ketika orang meninggal karena serangan jantung, syok kardiogenik adalah penyebab kematian yang paling umum.

Perbedaan Serangan Jantung dan Sindrom Patah Hati

Beberapa tanda dan gejala sindrom patah hati berbeda dengan serangan jantung. Pada sindrom patah hati, gejala terjadi tiba-tiba setelah mengalami tekanan emosional atau fisik yang ekstrem.

Selanjutnya, EKG (tes yang mencatat aktivitas listrik jantung) hasilnya tidak terlihat sama dengan hasil EKG untuk orang yang mengalami serangan jantung. Pada sindrom pada hati, tes darah pun tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan jantung dan tidak menunjukkan tanda-tanda penyumbatan di arteri koroner.

Hasil tes hanya menunjukkan ada gerakan yang tidak biasa pada ruang jantung kiri bawah (ventrikel kiri). Oleh karena itu, waktu pemulihan cepat, yakni biasanya dalam beberapa hari hingga beberapa minggu dibandingkan dengan waktu pemulihan sebulan atau lebih untuk serangan jantung.

Lebih Lanjut, jika dokter telah mendiagnosis anda mengalami sindrom patah hati maka akan dilakukan angiografi koroner, tes yang menggunakan pewarna dan sinar-X khusus untuk menunjukkan bagian dalam arteri koroner. Tes diagnostik lainnya adalah tes darah, EKG, ekokardiografi (tes tanpa rasa sakit yang menggunakan gelombang suara untuk membuat gambar bergerak jantung anda) dan MRI jantung.

Untuk menjaga kesehatan jantung anda, dokter mungkin akan merekomendasikan untuk melakukan ekokardiografi atau USG jantung sekitar sebulan setelah diagnosis.

Menghindari sindrom ini, Krakower mengungkapkan betapa pentingnya bagi orang yang ditinggal untuk dapat berduka dan mengungkapkan perasaan mereka, bukan menyimpan dalam diri. Kemudian, apabila merasa ada gejala fisik tertentu setelah kehilangan seseorang, maka harus segera periksa diri ke dokter.

(yln/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up