JawaPos Radar | Iklan Jitu

Women's Leadership Summit: Mengartikan Lagi Arti Sukses

29 September 2017, 17:35:14 WIB | Editor: Dwi Shintia
Women’s Leadership Summit
SISTERHOOD: Para peserta summit setelah menyelesaikan acara hari pertama di Grand Gamelan Ballroom, Sofitel, Nusa Dua Beach Resort, Bali, kemarin (28/9). Acara itu diikuti sekitar 100 perempuan yang merupakan leader di instansi dan perusahaan. (ARIYANTI KR/JAWA POS)
Share this

JawaPos.com – Arti sukses bagi satu orang belum tentu dibenarkan oleh orang lain. Selain itu, pertambahan usia dan perjalanan hidup yang dilalui seseorang mampu mengubah definisi sukses itu sendiri. Penjelasan tersebut disampaikan secara mendetail oleh Terrie Lupberger, executive coach, penulis, dan bloger di Huffington Post, pada hari pertama Women’s Leadership Summit kemarin (28/9).

”Misalnya, dulu, ketika saya baru punya anak, sukses bagi saya adalah menjadi ibu yang baik. Tapi, begitu anak-anak saya besar, saya menambahkan lagi bahwa sukses itu adalah jika kita bisa memberikan impact besar kepada dunia,” kata perempuan asal Denver, Colorado, AS, itu.

Acara yang diadakan Dayalima tersebut berlangsung di Grand Gamelan Ballroom, Sofitel Nusa Dua Beach Resort, Bali. Sekitar seratus perempuan menjadi peserta program yang dijadwalkan berlangsung selama tiga hari itu. Mayoritas memiliki latar belakang sebagai pemimpin di berbagai perusahaan dan instansi.

Terrie Lupberger,  Women’s Leadership Summit
AJAK BERINTERAKSI: Terrie Lupberger, executive coach, penulis, dan bloger di Huffington Post, memberi materi untuk peserta Women’s Leadership Summit. (ARIYANTI KR/JAWA POS)

Mendefinisikan arti sukses itu bertujuan agar peserta bisa mengingat lagi tujuan mereka dalam menjalani kehidupan pribadi maupun profesional. Dia juga memaparkan tiga hal yang sering membuat orang mudah stres. Yang pertama adalah sering berpikir melebih-lebihkan. Bahasa simpelnya sih drama queen alias miss lebay.

”Anak saya sering bepergian. Kalau satu jam saja telat dari jadwal telepon, saya sudah mikir yang nggak-nggak. Mungkin dia meninggal, ya,” kata Lupberger.

Yang kedua adalah menghindar. Memilih untuk tidak melakoni sebuah pekerjaan atau menghindari menyelesaikan masalah, menurut Lupberger, sejatinya justru akan meningkatkan level stres secara drastis.

”Yang ketiga adalah memutuskan untuk tidak memikirkan sebuah masalah, tapi yang terjadi justru tak henti-henti memikirkannya sepanjang hari,” imbuhnya.

Bukan hanya itu, peserta acara yang juga didukung Jawa Pos tersebut juga diajak untuk belajar mengenali bermacam emosi supaya bisa menghasilkan kinerja yang optimal. ”Emosi-emosi negatif seperti perasaan marah atau tidak sabar itu sebetulnya bisa diubah dengan cepat lho,” ujar Vaish Muralidharan, executive coach yang juga praktisi reiki.

Perempuan berdarah India asal Singapura yang kini tinggal di Dubai itu menjelaskan, cukup lakukan tiga hal saja. Yakni ubah ekspresi wajah, atur napas, dan ganti posisi tubuh. Sejumlah public figure terlihat di antara deretan peserta.

Ada aktris Niniek L. Karim, Annisa Yudhoyono, Miss Indonesia 2015 Maria Harfanti, hingga sosok inspirasional Angkie Yudistia, penyandang tunarungu yang kini menjadi managing director ThisAble Enterprise. ”Saya ikut acara ini karena ingin meluaskan networking. Selain itu, berada di sekitar para leader perempuan ini, saya merasa energi saya terisi kembali,” kata Maria.

Salah satu sesi yang paling mengesankan bagi Maria adalah ketika peserta diajak untuk bisa belajar kata tidak untuk hal-hal yang memang membuat tidak nyaman. Sering kali karena merasa takut dengan risiko atau merasa tidak enak, kita tidak bisa berkata tidak.

Padahal, maksud hati tak mau melakukan hal itu. Dengan berani mengatakan tidak secara tepat, banyak hal yang sangat mungkin bisa berubah menjadi lebih baik dalam karir maupun kehidupan. (*)

c11/ayi

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up