JawaPos Radar | Iklan Jitu

Emmanuella Mila tentang Rumah Dongeng Pelangi

Sebarkan Bahasa Cinta

27 September 2017, 22:13:38 WIB | Editor: Dwi Shintia
Emmanuella Mila Rumah Dongeng Pelangi
BAGIAN TERBAIK: Emmanuella Mila dan boneka maskotnya yang diberi nama Canting. (MIFTAHUL HAYAT/JAWA POS)
Share this

JawaPos.com - Berapa banyak orang tua yang masih membiasakan dongeng kepada anak-anaknya? Jumlahnya mungkin berkurang dari waktu ke waktu. Padahal, dongeng punya banyak ”keajaiban” dalam tumbuh kembang anak. Itulah yang membuat Emmanuella Mila menggagas Rumah Dongeng Pelangi.
---
”CANTING dan Obi sedang bermain di hutan. Mereka melihat pohon pinus yang menangis. ’Kita harus menolongnya, Obi. Ayo, kita tanya kenapa dia nangis’,” ucap Mila yang menyuarakan karakter Canting di hadapan anak-anak yang mendengarkan dongeng dengan antusias.

Ekspresi mereka menunjukkan rasa penasaran tentang apa yang dialami pohon pinus serta apakah Canting dan Obi berhasil membantunya. Karakter Obi disuarakan Angga, partner Mila di Rumah Dongeng Pelangi (RDP).

Ekspresi anak-anak saat mendengarkan dongeng mengingatkan Mila kepada dirinya sendiri ketika kecil. Sang ayah sering mendongeng buat dia dan ketiga kakaknya. Mila yang merupakan anak bungsu selalu menunggu sesi dongeng bersama ayah.

Emmanuella Mila Rumah Dongeng Pelangi
HAPPY: Emmanuella Mila paling senang melihat perubahan ekspresi anak-anak saat mendengar cerita yang dibawakannya. (EMMANUELLA MILA FOR JAWA POS)

Memori masa kecil itu terekam kuat dalam benak Mila. ”Sampai sekarang, saya hafal ekspresi dan suara Ayah saat mendongeng,” kenangnya.

Kedekatan emosional itu amat terasa meski kini sang ayah sudah berpulang. Hal tersebut membuat perempuan 36 tahun itu bertekad melakukan hal yang sama kepada anaknya. Selama mengandung, istri Aloysius Medyas H.S. tersebut membacakan cerita untuk janin di dalam perutnya.

Begitu putrinya lahir pada 2009, tiap malam dibacakan dongeng. Hasilnya, sang putri, Veronica Kinetta Maheswari, lebih cepat menangkap pembicaraan orang lain, punya kosakata lebih banyak, dan tertarik dengan buku.

”Saya pikir, jangan hanya anak sendiri yang saya dongengin,” katanya. Dia mulai mendongeng untuk murid sekolah di dekat tempat tinggalnya. Mila ingin melihat respons anak-anak, apakah mereka masih mengenal dongeng.

Ternyata, reaksinya luar biasa. Beberapa sekolah kembali mengundang Mila untuk mendongeng. ”Bahkan, ada satu sekolah yang memasukkan storytelling dalam metode pengajaran,” lanjutnya.

Lama-kelamaan, banyak teman yang tertarik bergabung mendongeng dengan Mila. Akhirnya, terbentuk komunitas Rumah Dongeng Pelangi (RDP) pada April 2010. Target yang disasar pun meluas. RDP berkomitmen untuk setiap bulan mengadakan Dongeng Charity bagi anak-anak panti asuhan, sekolah kolong, dan keluarga prasejahtera.

RDP juga punya program pendampingan bagi guru-guru pendidikan anak usia dini (PAUD) supaya menggunakan dongeng sebagai metode pembelajaran. Namanya adalah Panggung Boneka untuk 1.000 Anak Indonesia.

”Ada 3 PAUD yang kami beri pendampingan selama setahun,” bebernya. Dengan pendampingan itu, RDP berharap bisa menyebarkan semangat mendongeng. Terutama bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera.

Dongeng punya banyak ”keajaiban” dalam tumbuh kembang anak. ”Anak jadi senang membaca, punya kemampuan berbahasa yang baik, daya imajinasi tinggi, serta melatih percaya diri,” terangnya.

Selain itu, aktivitas mendongeng menguatkan bonding antara orang tua dan anak. ”Kalau saja ortu punya waktu setidaknya 10 menit tiap hari untuk mendongeng, akan terbentuk pola komunikasi yang baik antara ortu dan anak. Kuncinya harus komit,” papar perempuan yang berprofesi scriptwriter tersebut.

Bagian terbaik saat mendongeng adalah ketika melihat ekspresi anak-anak yang ikut tertawa, heran, berteriak, dan bertepuk tangan. ”Artinya, mereka terhibur dan ikut larut dalam cerita,” ujar Mila yang pernah menulis script untuk sitkom OK Jek tersebut. Mila dan tim RDP selalu melemparkan pertanyaan buat anak-anak untuk melihat apakah mereka memahami isi dongeng serta nilai-nilai yang disampaikan atau tidak.

Tim inti RDP beranggota 20 orang dengan 35–40 relawan. Mereka berasal dari beragam kalangan. Ada mahasiswa, guru, karyawan, ibu rumah tangga. Untuk menggerakkan kegiatan komunitas, RDP juga
kerap diundang mendongeng secara profesional untuk acara korporasi maupun workshop.

Misi RDP ingin menularkan virus mendongeng kepada seluruh masyarakat Indonesia. ”Mendongeng itu bahasa cinta. Kita bisa mengajarkan hal-hal baik kepada anak tanpa menggurui,” paparnya.

Misalnya, fenomena yang terjadi di masyarakat saat ini. Mulai krisis toleransi, hormat-menghormati, problem bullying, hingga minimnya rasa empati. Pendekatan untuk menanamkan nilai-nilai karakter yang baik bisa dilakukan lewat dongeng. (*)

nor/c16/ayi

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up