JawaPos Radar | Iklan Jitu

Tria Divinity Malensang, Mengajar Bahasa Inggris di Dalam Pasar

Kios Pengganti Kelas

25 Oktober 2017, 21:58:35 WIB | Editor: Dwi Shintia
Tria Divinity Malensang, Pendiri Pasar Pustaka
PENGARUH POSITIF: Tria Divinity Malensang mengajari anak-anak bahasa Inggris di Pasar Karombasan, Manado. Murid-muridnya berumur mulai 6 hingga 11 tahun. (NORA SAMPURNA/JAWA POS)
Share this

JawaPos.com - Keinginan yang kuat untuk berkontribusi dan menyentuh langsung anak-anak mendorong Tria Divinity Malensang menggagas Pasar Pustaka. Mimpi itu terwujud setelah mahasiswi Sastra Inggris Universitas Sam Ratulangi, Manado, itu ”ditemukan” tim program Putri Sulamit.

Parasnya manis dengan tinggi 173 cm dan senyum ramah. Mengenakan jins dan kaus merah, di siang terik, perempuan berambut panjang itu tak canggung melangkah di lorong Pasar Karombasan, Manado. Dia berjalan dengan santai menuju salah satu kios lantai 2.

Kehadirannya sudah ditunggu sekitar 30 anak yang langsung memanggil namanya. ”Kak Tria datang, Kak Tria datang,” seru mereka dengan gembira.

Tria Divinity Malensang, Pendiri Pasar Pustaka
Tria Divinity Malensang (NORA SAMPURNA/JAWA POS)

Bangunan berukuran 2 x 3 meter itu merupakan tempat Pasar Pustaka yang digagas Tria sejak April 2017. Setelah menyapa anak-anak, Tria memandu mereka untuk memberikan salam dalam bahasa Inggris kepada tamu-tamu yang hadir siang itu (12/10). ”Hello, welcome to Pasar Pustaka,” sapa anak-anak kompak.

Sebelum mulai belajar, Tria mengawali kelas dengan mengajak anak-anak bernyanyi. Kemudian, perempuan kelahiran 20 Desember 1995 itu meminta salah seorang anak membacakan cerita berbahasa Inggris. Imelda, 11, maju untuk membacakan cerita The Lion and The Mouse. Saat sesi permainan membaca kata-kata dalam bahasa Inggris, anak-anak itu semakin antusias. Hampir semua berebut tunjuk tangan berharap terpilih untuk membacakan ceritanya.

Bungsu dua bersaudara itu ingin mengembangkan minat baca serta mengajarkan bahasa Inggris, terutama untuk anak-anak kurang mampu di lingkungan pasar. Dia terinspirasi sang mama yang merupakan guru bahasa Inggris di Talaud, Sulawesi Utara.

Sering melewati Pasar Karombasan ketika berangkat kuliah, Tria melihat banyak anak yang siang sepulang sekolah berada di pasar.

Aktivitas mereka tak tentu. Ada yang mencari botol bekas atau tanpa kegiatan sambil menunggu orang tua mereka berjualan. ”Saya tergerak ingin berkontribusi langsung untuk anak-anak tersebut,” ujar Tria setelah menyelesaikan kelas.

Passion mengajar dirasakan Tria sejak SMA. Dia sering menjadi asisten guru, membantu menerangkan pelajaran matematika kepada teman sekelas. Mimpi itu sempat redup seiring kesibukan kuliah. Namun, suatu hari pada Oktober tahun lalu menjadi titik balik. Tria dihubungi tim program Putri Sulamit.

”Awalnya kaget juga. Saat ngobrol, saya banyak ditanya tentang passion dan mimpi yang ingin diwujudkan,” tutur perempuan yang saat SMA aktif terlibat dalam kegiatan paskibra, Pramuka, hingga Palang Merah Indonesia tersebut.

Tria bersama enam Putri Sulamit lainnya dari provinsi yang berbeda mengikuti training camp selama dua minggu di Jakarta pada Desember 2016. Berbagai pelatihan kepribadian dan motivasi menjadi pengalaman luar biasa bagi Tria. ”Keinginan yang sempat redup akhirnya berpijar lagi,” ucap dia.

Pada akhir training, setiap peserta diberi tantangan untuk membuat proyek yang sesuai dengan keinginan. ”Saya bilang ingin membuka perpustakaan untuk anak-anak serta membangun tempat untuk anak-anak belajar dan bermain,” papar juara harapan I Noni Sulawesi Utara 2015 dan 7 besar Miss Celebrity 2016 tingkat Provinsi Sulawesi Utara tersebut.

Pendiri program Putri Sulamit Lisa Sanusi dan Yohana Limarno menuturkan, kegiatan itu menerjunkan tim ke daerah untuk menemukan perempuan-perempuan muda dengan visi, energi, dan keinginan membawa perubahan bagi masyarakat sekitarnya. ”Didapatlah tujuh Putri Sulamit ini dari tujuh daerah. Semua proyek lahir dari masing-masing Putri untuk bisa berarti lewat hati,” kata Lisa.

Kembali ke Manado setelah training camp, Tria langsung bergerak. Dia melakukan survei kepada anak-anak di Pasar Karombasan. ”Saya tanya anak-anak mau tidak belajar bahasa Inggris? Mereka bilang mau,” ucapnya. Berawal dari sekitar 10 anak, makin lama makin banyak yang tertarik ikut. Jumlahnya mencapai 30-an anak. Awalnya Tria belum mendapat ruangan. ”Belajarnya di tempat-tempat kosong di pasar,” ujarnya.

Sebulan kemudian, berkat dukungan dari tim Sulamit, dalam hal ini Pak Inyo Oroh, pendeta yang sering melakukan pelayanan di pasar, akhirnya dia mendapatkan ruangan. Setiap Selasa dan Kamis, Tria mengajar pada pukul 14.00–17.00. Di kios itu, Tria juga membangun perpustakaan mini. Buku-buku diperoleh dari donasi, media sosial, dibantu tim Sulamit di Jakarta, hingga jemput bola ke teman.

Melihat semangat anak-anak belajar dan binar mata mereka saat mendapatkan buku baru menjadi energi buat Tria untuk terus berkomitmen pada anak-anak. ”Berkat Putri Sulamit, mimpi Tria terwujud,” ucapnya, lantas tersenyum. (*)

nor/c7/ayi

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up