JawaPos Radar | Iklan Jitu

Hannah Al Rashid Ajari Perempuan Berani Bicara dan Melawan

21 Desember 2017, 20:00:59 WIB | Editor: Dwi Shintia
Hannah Al Rashid
FOKUS: Hannah Al Rashid. (FEDRIK TARIGAN/JAWA POS)
Share this

JawaPos.com - Jangan kaget jika saat bertemu Hannah Al Rashid, dia akan dengan lancar menyuarakan isu-isu perempuan.

Bintang film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 (2016) itu memang tengah bersemangat menyuarakan kampanye stop kekerasan terhadap perempuan.

Isu kekerasan terhadap perempuan di Indonesia masih sering dianggap tabu untuk dibahas. Berbagai faktor yang melatarbelakangi membuat tak banyak perempuan berani bicara tentang kekerasan yang dialami.

Padahal, angka kejadian sejatinya sangat tinggi. Baik itu kekerasan verbal, fisik, maupun seksual.  Sadar energinya terbatas untuk bisa menjangkau banyak orang tentang isu itu, Hannah pun membuat 16 seri video yang diunggah di kanal YouTube-nya.

Lewat video bertagar #16daysofactivism2017 tersebut, Hannah ingin membuka ruang untuk berdiskusi dan mulai berbicara tentang topik kekerasan pada perempuan. ”Jika hanya diam, apalagi mengabaikan, masalah tidak akan pernah teratasi,” ujarnya.

Perempuan yang ditunjuk sebagai sustainable development goals (SDG) Mover UN Indonesia untuk kesetaraan gender tersebut melibatkan para aktivis perempuan dan public figure yang punya kepedulian sama untuk membahas masalah itu dari berbagai perspektif.

Di antaranya, stop pernikahan usia anak, isu menutup aurat untuk menghindari pelecehan, relasi kuasa, dan ketergantungan ekonomi yang kerap terkait dengan kekerasan dalam rumah tangga.

Sejumlah figur yang ikut dalam #16daysofactivism2017 itu, antara lain, Nadine Alexandra, Reza Rahadian, Cathy Sharon dan Julie Estelle, kolumnis Kalis Mardiasih, aktivis Vivi Restuviani dan Sanita Rini, Dian Sastro, Joe Taslim, Mike Lewis, Arie Kriting, serta financial trainer Ligwina Hananto.

”Contohnya tentang isu menutup aurat untuk menghindari pelecehan. Kenyataannya, Kalis mengalami pelecehan saat baru pulang dari pesantren. Ligwina juga bercerita mengalami catcalling meski berhijab. Isu kekerasan seksual tidak sepenuhnya terkait dengan cara berpakaian,” paparnya.

Hannah juga sengaja melibatkan laki-laki untuk berpartisipasi dalam serial tersebut. ”Karena diskusi topik ini tidak bisa hanya perempuan, harus melibatkan laki-laki,” ujar perempuan kelahiran London, 25 Januari 1986, tersebut.

Selama ini belum banyak perempuan yang berani bicara karena budaya masyarakat dan keluarga yang menganggap itu merupakan aib sehingga menekan korban untuk tetap diam. ”Padahal, bukan korban yang salah, itu salah pelaku,” tegas Hannah.

Selain itu, support system masih sangat kurang. Idealnya, ketika korban berani bicara, semestinya ada dukungan sistem dari lingkungannya. Kenyataannya, menurut Hannah, undang-undang di Indonesia belum berpihak pada korban.

Media juga terkadang tidak memaparkan kasus kekerasan atau pelecehan dengan netral hingga terjadi victim blaming, mencari penyebab dari si korban sehingga seolah-olah korban yang mengundang terjadinya kejahatan tersebut. ”Dampaknya, 93 persen korban kasus kekerasan seksual tidak melapor,” papar Hannah.

Untuk mendorong perempuan berani bicara, Hannah mengawali dengan dirinya. Dia mengaku pernah mengalami pelecehan oleh orang tak dikenal saat berada di area publik serta kekerasan verbal dan fisik dalam pacaran. ”Setelah saya speak up, banyak yang DM curhat ke saya,” ujar Hannah.

Respons yang didapatkan dari series #16daysofactivism2017 itu membahagiakan Hannah. Tidak sedikit perempuan yang jadi punya keberanian untuk berbicara setelah menonton serial tersebut.

Beragam tanggapan mengisi kolom komentar, termasuk laki-laki yang perspektifnya terbuka untuk menghargai perempuan dan kesetaraan gender. ”Itu semua membuat saya jadi makin semangat. Perjuangan ini tidak sia-sia,” ungkap Hannah.

Sebagai creative director, Hannah dibantu mahasiswa SSR (School of Sound Recording) Jakarta untuk pengambilan gambar sampai proses editing yang dilakukan sejak September lalu. Hingga akhirnya, dirilis satu per satu video setiap hari selama 16 hari dalam rentang 25 November–10 Desember.

Perjuangan untuk kesetaraan dan stop kekerasan terhadap perempuan akan terus digaungkannya. Harapan Hannah, perubahan bisa dicapai jika perempuan berani bicara dan berani melawan. Perempuan tahu hak-haknya.

”Dan, laki-laki makin sadar akan isu ini serta ikut berpartisipasi memperjuangkan kesetaraan gender dan pencegahan kekerasan terhadap perempuan,” paparnya. (*)

nor/c7/ayi

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up