JawaPos Radar | Iklan Jitu

Pengalaman Mahmud Menggunakan Metode BLW

19 September 2017, 20:50:18 WIB | Editor: Dwi Shintia
Pengalaman Mahmud Menggunakan Metode BLW
SEHAT: Sayur dan lauk yang disiapkan untuk menu makan si kecil. (ARYA DHITYA/JAWA POS)
Share this

JawaPos.com - Sejak Andien menerapkan baby-led weaning (BLW), banyak mahmud (mamah-mamah muda) yang tergoda untuk mengikuti tren tersebut. Novia Fitria Ramadhani, misalnya. Dia mengenalkan metode makan itu kepada putrinya, Revina Nazima Syasya. Tepatnya sebulan lalu, saat Syasya berusia 6 bulan.

Ada beberapa hal yang membuat Novia memilih BLW daripada teknik pemberian MPASI dengan cara konvensional. Di antaranya, tingkat kekasaran makanan yang diberikan secara bertahap plus pemberiannya dengan cara disuapi.

Pertama, Novia menilai putrinya senang memasukkan jari-jari ke mulut. Kedua, meski masih harus dipegang atau diganjal supaya tidak oleng, Syasya bisa duduk tegak. ’’Dari situ, saya kenalkan makanan padat yang dipotong kecil-kecil (finger food),’’ kata Novia.

Pada tahap awal, Syasya hanya bisa menggenggam makanannya. Novia lantas ikut makan dan mencontohkan cara memasukkan makanan ke mulut. ’’Syasya mulai ikutan. Tapi, makanannya dimasukkan ke mulut doang dan nggak diapa-apain,’’ ujarnya.

Pada hari kedua, akhirnya Syasya bisa memamah dan mengisap makanan. Untuk menu, Novia memilih sayuran yang direbus. Di antaranya, wortel, labu siam, dan buncis. ’’Dia kunyah-kunyah sendiri, meskipun masih ompong,’’ ucap Novia.

Novia terkadang memberikan asupan protein nabati berupa tahu dan tempe. Sejauh ini, semua lancar. Syasya belum pernah tersedak. Dia hanya mengalami gagging (respons fisiologi dengan cara memuntahkan benda asing untuk melindungi tubuh) ketika makanan yang dimasukkan ke mulut terlalu besar.

Kalau hal itu terjadi, makanan yang sempat masuk ke mulut akan dikeluarkan lagi. Namun, Novia mengaku tidak khawatir. Sebab, dengan kondisi tersebut, anak akan belajar memotong makanan menjadi lebih kecil.

Menurut dr Meta Hanindita SpA, gagging merupakan mekanisme normal pertahanan diri agar tidak tersedak. ’’Nah, pertanyaannya, mengapa anak itu bisa sampai gagging? Ya karena ada makanan yang belum bisa dia kunyah sampai menjadi partikel kecil,’’ tuturnya.

Dia menjelaskan, anak mengalami gagging karena belum bisa mengunyah makanan sampai kecil atau halus. Selain itu, anak belum siap untuk makan sendiri. ’’Seharusnya tidak perlu dipaksakan. WHO, IDAI, AAP, semua asosiasi dokter pasti punya alasan dalam merekomendasikan makanan halus sebagai MPASI pertamanya,’’ kata Meta. (*)

adn/c18/ayi

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up