JawaPos Radar | Iklan Jitu

Mengenal BLW, Metode Makan yang Digunakan Andien untuk si Buah Hati

19 September 2017, 20:44:15 WIB | Editor: Dwi Shintia
Mengenal BLW, Metode Makan yang Digunakan Andien untuk si Buah Hati
INDEPENDEN: Dalam metode BLW, orang tua hanya berfungsi menyediakan dan mengawasi si kecil saat makan. Anak memiliki kebebasan menentukan jumlah dan kapan menghentikan makannya. (MODEL: MARIO IAN SURYA, FOTO: ARYA DHITYA/ JAWA POS)
Share this

JawaPos.com - Metode pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) dengan cara baby-led weaning (BLW) sudah berlangsung lama. Namun, belakangan metode itu kembali menjadi tema hot setelah penyanyi Andien menerapkannya kepada buah hatinya. Sebelum ikut terlarut dalam pro dan kontra, mari mengenalnya lebih jauh.
---
BLW kali pertama dipopulerkan Gill Rapley dan Tracey Murkett lewat buku Baby-led Weaning: Helping Your Baby to Love Good Food yang diterbitkan pada 2008. Dalam metode tersebut, orang tua tidak diperkenankan ikut campur ketika anak mengonsumsi makanannya.

Anak dibiarkan menggunakan naluri dan orang tua tidak perlu menyuapi. ’’Sederhananya, sejak awal mendapatkan MPASI, bayi diajak mengeksplorasi makanannya,’’ kata dr Meta Hanindita SpA, dokter spesialis anak.

Jenis makanan yang digunakan dalam BLW adalah golongan makanan padat yang dipotong kecil-kecil seukuran finger food supaya bisa digenggam tangan bayi. Bisa sayur-sayuran yang direbus, biskuit, atau buah-buahan segar. Mulanya, anak dilatih memegang makanan. Lalu, anak diberi contoh untuk memasukkannya ke mulut dan mulai mengunyahnya.

Orang tua tidak menentukan porsi. Mereka hanya menyediakannya. ’’Bayi sendirilah yang menentukan berapa banyak yang dia makan sampai berapa lama waktu makannya. Kalau sudah tidak mau makan, dianggap kenyang,’’ jelas Meta.

Dilihat dari akun Instagram-nya, Andien memberikan jenis menu sehat food combining. Ada sayuran, buah, ayam, ubi, dan lainnya. Makanan itu tidak dihancurkan supaya anak yang panggilan Kawa tersebut bisa sekaligus belajar mengenal bentuk asli, tekstur, dan keunikan setiap bahan makanan.

Menurut penemunya, metode BLW awalnya diperkenalkan di negara-negara maju. Di negara itu ada kebiasaan memberikan MPASI sebelum anak menginjak usia 6 bulan. Dengan BLW, orang tua bisa tahu usia yang cukup untuk anak memulai BLW.

Umumnya, ketika berumur 6 bulan, saraf motorik anak belum bekerja sempurna. Mereka susah memegang makanan untuk kemudian memasukkannya ke mulut dan mengunyahnya. ’’Mengetahui jika pada usia 6 bulan tersebut anak belum bisa melakukan BLW dengan baik, maka diharapkan orang tua juga menunda melakukannya,’’ ujar Meta.

Selain itu, BLW dianggap dapat melatih self-control pada anak untuk menentukan jumlah makanan yang ingin dimakan. Jika self-control terlatih, diharapkan anak terhindar dari obesitas. Dengan begitu, tingginya angka obesitas di negara-negara maju tersebut dapat ditekan.

Bukan hanya itu, BLW juga dianggap mampu meningkatkan bonding dengan keluarga. Sebab, metode BLW membuat anak bisa merasakan makan bersama dengan keluarga sehingga terbangun kedekatan emosi.

Anak dibiasakan merasakan berbagai jenis makanan sejak dini. Karena itu, BLW dianggap bisa membuat anak tidak pilih-pilih makanan saat besar. Namun, perlu digarisbawahi bahwa manfaat-manfaat tersebut belum terbukti melalui penelitian ilmiah. Sejauh ini penelitian tentang BLW hanya dilakukan di negara-negara maju. Di Indonesia belum ada penelitian tentang BLW.

Di sisi lain, BLW justru menyimpan berbagai risiko. Pertama, anak 6 bulan membutuhkan waktu lebih banyak untuk beradaptasi dan mengunyah makanan dengan tekstur padat. Maka, pemberian finger food sebaiknya dilakukan ketika anak berusia di atas 8 bulan. ’’Saat itu rahang anak mulai dapat bergerak ke atas dan ke bawah secara berulang untuk mengunyah,’’ kata Meta.

Jika dipaksakan memberikan finger food di bawah 8 bulan, anak cenderung memakan makanan dalam jumlah sedikit jika dibandingkan dengan disuapi. ’’Kebutuhan kalori hariannya tidak tercukupi. Belum lagi zat besi, protein, lemak, vitamin, dan sebagainya,’’ terang Meta.

Hal tersebut diperkuat dengan penelitan Morison (2016) yang menyebutkan bahwa BLW meningkatkan risiko anak choking alias tersedak karena kemasukan benda asing. Anak juga cenderung memakan makanan yang mengandung lemak jenuh dan kurang makanan yang mengandung zat besi, zinc, dan vitamin B12. ’’Akibatnya, anak mengalami gagal tumbuh. Ditandai dengan tidak naiknya berat dan tinggi badan,’’ jelas Meta.

Banyak orang tua penganut BLW yang menganggap bahwa anak akan berhenti makan ketika dirinya merasa cukup atau kenyang. Padahal, hal itu belum tentu benar. Meta menuturkan bahwa sejak bayi, anak memang menunjukkan tanda kapan kenyang atau lapar. Ketika dia berhenti memasukkan makanan ke dalam mulut, bisa jadi dia memang sudah kenyang. Tapi, bisa juga lantaran lelah. ’’Karena makan sendiri, biasanya dia lebih banyak mainan makanan daripada beneran makan,’’ ungkap Meta.

Kalaupun tahu rasa kenyang, anak belum mengetahui kebutuhan nutrisinya. Di situlah peran orang tua diperlukan untuk menyuapi anak supaya dia menerima asupan nutrisi yang sesuai. ’’Salah satu syarat MPASI yang baik menurut WHO adalah adekuat alias mencukupi kebutuhan anak. Tak hanya makronutrien, tapi mikronutrien, termasuk zat besi. IDAI merekomendasikan pemberian MPASI yang difortifikasi untuk mencegah anemia defisiensi besi,’’ ujar Meta.

Pada November 2016, kementerian kesehatan di New Zealand tidak merekomendasikan BLW. Sementara itu, WHO dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) lebih merekomendasikan pemberian MPASI dengan metode responsive feeding.

’’Tapi, semua keputusan ada di tangan setiap keluarga,’’ katanya. Jika ingin tetap mencoba BLW, Meta menyarankan untuk mengkombinasikannya dengan metode responsive feeding. BLW diterapkan ketika snacking time. (*)

adn/c22/ayi

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up