JawaPos Radar | Iklan Jitu

Kenalan dengan Iva Ariani, Peneliti Filsafat Wayang

13 Desember 2017, 20:29:36 WIB | Editor: Dwi Shintia
Iva Ariani,
CINTA WAYANG: Iva Ariani. (Abraham Genta Buwana/Radar Jogja)
Share this

JawaPos.com - Wayang, sebagai warisan dunia yang diakui PBB mengikat hati Iva Ariani untuk mendalaminya. Akademisi dari Fakultas Filsafat UGM tersebut menjadi salah satu perintis Filsafat Wayang sebagai cabang ilmu baru di Indonesia.

Sejak kecil, Iva suka dengan cerita pewayangan. Awalnya, perempuan kelahiran Jogjakarta, 20 Oktober 1976 tersebut tahu wayang dari dongeng sang ibu. Berlanjut dengan bacaan wayang lewat komik-komik RA Kosasih yang dia baca. ’’Saat kecil memang suka, tapi tidak pernah terpikir untuk mendalami wayang,’’ ucap istri Hendry Edy tersebut.

Pun ketika kuliah S1 di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM), saat itu belum ada mata kuliah filsafat wayang. Pertemuan Iva dengan wayang secara intensif berlangsung setelah dia menyelesaikan S2 Ilmu Filsafat.

Saat itu, Iva membantu penelitian filsafat wayang yang dilakukan Fakultas Filsafat UGM dengan Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Senawangi Jakarta). Kira-kira sejak itu Iva kembali berkutat dengan ilmu pewayangan.

Riset demi riset seputar Filsafat Wayang mulai berkembang pesat. Ketika itu, Iva masih menjadi dosen di salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Melanjutkan S3 jurusan Ilmu Filsafat di UGM, Iva terinspirasi dengan penelitiannya soal wayang. Iva bertekad mengambil konsentrasi Filsafat Wayang. Biarpun ilmu ini tergolong baru di Indonesia. Penelitian disertasinya adalah soal Nilai kepahlawanan dalam lakon Kumbokarno Gugur.

Lulus S3, Iva diterima sebagai dosen Fakultas Filsafat UGM. Bersama Prof Joko Siswanto, Prof Kasidi Hadiprayitno dari ISI Yogya, Dr Suyanto dari ISI Surakarta, dan pak Slamet Sutrisno, Iva menjadi salah satu perintis mata kuliah Filsafat Wayang.

Dia satu-satunya perempuan dalam tim tersebut. Kini, mata kuliah Filsafat Wayang menjadi mata kuliah wajib untuk mahasiswa S1, S2, dan S3. ’’UGM satu-satunya Perguruan Tinggi yang mempunyai ilmu ini,’’ ulas perempuan yang menempuh S2 dan S3 juga di UGM tersebut.

Iva berharap, masyarakat khususnya generasi muda tidak menjustifikasi lebih dulu sebelum mempelajarinya. Menurutnya, menikmati wayang itu seperti menikmati buah durian. Jika dilihat dari luar tampak tidak menarik sebab berduri, tapi jika sudah dibuka dan dirasakan isinya, akan ditemukan buah yang memiliki rasa dan aroma yang lezat. (*)

(ina/JPC)

Alur Cerita Berita

Wayang itu Sepenuhnya Cerita Fiksi 13 Desember 2017, 20:29:36 WIB
Ceritakan Superhero Wayang untuk Anak 13 Desember 2017, 20:29:36 WIB
Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up