JawaPos Radar | Iklan Jitu

Women’s Leadership Summit: Inspirasi Semangat Wonder Women

04 Oktober 2017, 19:43:15 WIB | Editor: Dwi Shintia
Women’s Leadership Summit
BERI MATERI: Executive coach Terrie Lupberger (kiri) dan Carol Courcy di hari ketiga Women’s Leadership Summit. (ARIYANTI KR/JAWA POS)
Share this

JawaPos.com - Sebanyak 106 perempuan berkumpul dalam Women’s Leadership Summit (WLS) yang berlangsung di Bali, 28–30 September lalu. Acara yang digagas Dayalima itu mengambil tema Success, Sisterhood and Satisfaction.
---

Sempat muncul kebimbangan dari peserta sebelum datang. Kabar bahwa Gunung Agung segera meletus memunculkan keraguan. Aman tidak ya kalau ke sana? Memang, lokasi acara jauh dari radius terdampak. Tapi, jika betulan Gunung Agung meletus, sangat mungkin Bandara Ngurah Rai ditutup.

Artinya, jika telanjur datang, akan susah untuk pulang mengingat mayoritas peserta berasal dari luar Pulau Dewata. 


Namun, panitia sudah menyiapkan segalanya. Mereka terus meng-update kondisi terkini. Sampai sehari sebelum acara, kondisi masih aman. Selain itu, Dayalima sudah menyediakan armada darat jika nanti bandara ditutup.

Keputusan datang atau tidak diserahkan kepada peserta. Melihat kondisi yang mendukung, rasanya tidak ada alasan untuk tidak datang. Apalagi jika melihat list peserta yang mayoritas berada di jajaran board of directors (BOD) dari berbagai perusahaan dan instansi. ’’Ini saat tepat untuk mengembangkan networking,’’ kata Miss Indonesia 2015 Maria Harfanti.


Tiga tema yang diangkat itu disampaikan satu demi satu per hari sesuai dengan urutan. Menurut Co-founder of Dayalima Vina G. Pendit, goal dari summit itu adalah menguatkan sisi kepemimpinan feminin. ’’Kami miris dengan kondisi Indonesia saat ini.

Disintegrasi dan kebencian di mana-mana. Dari berbagai data yang kami dapat, semua itu terjadi karena kuatnya kepemimpinan maskulin. Kepemimpinan yang menggunakan otak kiri, berorientasi pada logika dan menepikan perasaan,’’ ujarnya.


Kepemimpinan yang seimbang antara maskulin dan feminin diyakini bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Bisa memunculkan rasa toleransi, saling mendukung, dan menguatkan rasa kasih sayang kepada sesama.


Heriati Gunawan, president director of Daya Dimensi Indonesia yang menaungi Dayalima, menyatakan bahwa perempuan sejatinya memiliki kekuatan yang besar dalam melakukan sebuah gerakan atau perubahan. ’’Setelah acara ini selesai, kami berharap para peserta akan terus berkomunikasi sampai bisa menghasilkan satu gerakan yang nyata dan berguna untuk Indonesia,’’ ungkap perempuan yang akrab disapa Ria Gunawan itu.


Setiap tema dibagi dalam beberapa sesi yang diisi secara bergantian oleh para executive coach pilihan. Mereka adalah Terrie Lupberger, penulis dan bloger di Huffington Post dari Denver, Colorado, AS. Lalu, Carol Courcy, penulis buku Save Your Inner Tortoise, Cassandra Lee, Vaish Muralidharan, dan Sari Marsden yang merupakan personal coach dan penulis buku Fit to Lead bersama suaminya. 


Banyak hal yang menyenangkan dan mencerahkan dalam program yang baru memasuki tahun pertama penyelenggaraan itu. Inilah lima momen terbaik menurut Jawa Pos yang turut mendukung dan mengirimkan tiga wakilnya untuk acara itu.

Maknai Sukses

Women’s Leadership Summit
Director Daya Dimensi Indonesia Heriati Gunawan (kiri) dan co-founder Dayalima Vina G. Pendit. (ARIYANTI KR/JAWA POS)

Tema Success, Sisterhood and Satisfaction memiliki keterkaitan. Membahas sukses, para peserta diajak memahami apa artinya, bagaimana mencapainya, hingga belajar menggunakan emosi sesuai dengan keadaan. Orang yang sukses bukan berarti orang yang tak pernah marah atau tak pernah sedih. Marah diperbolehkan asal pada tempatnya.


’’Itu yang namanya emotional wardrobe. Fungsinya sama seperti lemari baju. Kita bisa ambil emosi yang sesuai dengan kondisi untuk mendukung mencapai sukses,’’ kata Courcy. 


Pada hari pertama summit yang berlangsung di Sofitel Nusa Dua Beach Resort itu juga disebutkan bahwa sukses memiliki makna berbeda-beda bagi setiap orang. 

Sharing Inspirasi

Women’s Leadership Summit
Miss Indonesia 2015 Maria Harfanti (ARIYANTI KR/JAWA POS)

Sejatinya semua peserta layak mendapat gelar Wonder Women. Mereka memiliki cerita menarik masing-masing. Namun, ada 13 orang yang dipilih untuk sharing.

Selain Wijsen bersaudara, ada desainer Ni Ketut Arysanthi, Miss Indonesia 2015 Maria Harfanti, Executive Director IBEKA Tri Mumpuni, Ibu Dina, pendaki Fransiska Dimitri Inkiwirang, Director Lini Gayatri Reksodihardjo Lilley, aktris Niniek L. Karim, Managing Director of ThisAble Enterprise Angkie Yudistia, founder gerakan Saya Perempuan Anti Korupsi Judhi Kristantini, Komisaris Dayalima Abisatya Dini Makmum, dan founder Yayasan Maramowe Wealku Kamorowe Luluk Dwi Intarti.

Pejuang BBPB

Women’s Leadership Summit
MEMBANGGAKAN: Founder gerakan Bye Bye Plastic Bags, kakak beradik Melati (kiri) dan Isabel Wijsen. (ARIYANTI KR/JAWA POS)

Pada hari kedua yang berlansung di Puri Ahimsa Ubud, para peserta kedatangan dua speaker istimewa yang dimasukkan dalam kategori Wonder Women.

Mereka adalah kakak beradik pejuang lingkungan dengan gerakan Bye Bye Plastic Bag (BBPB), Melati dan Isabel Wijsen. Berusia 16 tahun dan 14 tahun, mereka penuh percaya diri menceritakan perjalanannya membuat Bali bersih dari sampah plastik. Tantangan terbesarnya apa?

’’Berurusan dengan birokrasi pemerintah. Sangat rumit. Kami bisa maju tiga langkah, tapi kemudian mundur dua langkah,’’ cerita Melati. 


Memulai gerakan itu sejak empat tahun lalu, Wijsen yang tinggal di Bali sudah diundang ke berbagai konferensi lingkungan tingkat dunia, termasuk berbicara di peringatan Hari Kelautan Dunia di markas besar PBB, New York, Juni lalu. ’’Memang anak muda hanya 25 persen di dunia ini sekarang. Tapi, di tangan anak mudalah masa depan terletak 100 persen,’’ tutur Melati. 

Gaungkan Sisterhood

Women’s Leadership Summit
CASUAL CLASS: Aktris Niniek L. Karim bersama peserta WLS yang lain. (ARIYANTI KR/JAWA POS)

Kekuatan satu perempuan tak boleh diragukan. Apalagi jika mereka bersatu. Untuk itu, diajarkan bagaimana semestinya perempuan saling mendukung untuk kemajuan. Dikenalkan istilah amplifier. Artinya, gaungkan segala hal baik yang dilakukan sesama perempuan. ’’Jangan lupa untuk me-mention nama pemilik gagasan itu supaya tidak disebut pencurian ide ya,’’ tutur Lupberger.


Pada hari ketiga diajarkan Satisfaction. Bahwa kepuasan adalah hal yang penting untuk dicapai, baik dalam kehidupan pribadi maupun pekerjaan dan sosial. Kondisi yang memunculkan dissatisfaction tidak boleh dibiarkan berlarut hingga membuat jatuh. Lakukan action untuk mengubah keadaan.(*)

ayi

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up