Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 20 Mei 2025 | 03.57 WIB

Stabilitas Fiskal dan Likuiditas Perbankan Masih jadi Tantangan di Tengah Ketidakpastian Global

Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Mandiri Dian Ayu Yustina (dua dari kanan) bersama Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro. (Mandiri for Jawapos) - Image

Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Mandiri Dian Ayu Yustina (dua dari kanan) bersama Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro. (Mandiri for Jawapos)

JawaPos.com - Pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat di tiga bulan pertama 2025. Sejalan dengan kinerja investasi yang lesu dan belanja pemerintah yang terbatas. Meski, kinerja ekspor masih tumbuh positif.  

Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Mandiri Dian Ayu Yustina menyatakan, ekspor masih tumbuh sekitar 6,78 persen year-on-year (YoY). Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sejak Januari hingga Maret 2025, neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus USD 10,92 miliar.

"Masih menunjukkan cukup kuat dan cukup solid," kata Dian dalam economic outlook Q2 2025, Senin (19/5).  

Menurut dia, dampak gejolak eksternal terhadap perekonomian nasional relatif terbatas. Meski, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia bakal tumbuh di bawah lima persen tahun ini. Yakni di kisaran 4,93 persen yang ditopang oleh konsumsi dan investasi.

"Artinya permintaan domestik ini masih akan cukup menopang pertumbuhan ekonomi, tapi tentunya akselerasi dari pelonggaran kebijakan fiskal maupun moneter akan bisa menopang pertumbuhan ekonomi ke depan," bebernya.  

Dari sisi investasi, Dian melihat ada perlambatan terutama dari investasi bangunan. Sektor ini mendominasi seluruh investasi tetap alias gross fixed capital formation (GFCF) sekitar 74 persen. Sehingga memang terdapat hubungan dengan perlambatan dari sisi konstruksi, baik infrastruktur maupun properti.

Pada kuartal II 2025, tim ekonom Bank Mandiri melihat ada potensi kenaikan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,92 persen YoY. Terutama didorong oleh belanja pemerintah.

Sejalan dengan tindak lanjut Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 untuk membuka blokir anggaran senilai Rp 86,6 triliun. Tujuannya agar kementerian/lembaga (K/L) dapat kembali melakukan belanja untuk program prioritas pemerintah.  

"Ini bisa mendukung akselerasi spending dan juga belanja pemerintah ke depan dan bisa menopang pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan," ujar lulusan University of Queensland itu.  

Di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian, stabilitas fiskal Indonesia dinilai masih on the track. Defisit fiskal per Maret masih relatif kecil.

Namun, dia mengingatkan bahwa ada sejumlah risiko terhadap penerimaan negara. Terutama yang berkaitan dengan perkembangan global seperti penerapan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. 

"Negosiasi dagang yang belum sepenuhnya rampung, serta perlambatan ekonomi dunia yang berdampak pada harga komoditas," ungkapnya.  

Dian menegaskan bahwa tekanan terhadap harga komoditas berpotensi menurunkan penerimaan negara. Tentunya ini akan ada konsekuensi juga terhadap penerimaan negara.

Hanya saja, masih ada ruang bagi perbaikan sentimen, terutama jika proses negosiasi dagang global berjalan lancar. "Kami masih melihat progres, terutama terkait negosiasi perdagangan. Tentunya kondisi bisa berbalik, sentimen bisa berbalik positif kalau negosiasi perdagangannya berjalan dengan lancar," jelasnya.

Likuiditas Perbankan Masih Ketat 

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore