alexametrics

Soal Iklan Rokok, Indonesia Paling Buruk di Asia Tenggara

28 November 2018, 16:25:12 WIB

JawaPos.com – Indonesia menjadi negara yang cukup ‘ramah’ terhadap rokok. Baik itu terkait iklan, promosi, maupun sponsor. Imbasnya, Indonesia kini menjadi negara terburuk di Asia Tenggara untuk urusan iklan rokok.

Hal tersebut terungkap dari hasil temuan Peneliti Universitas Indonesia (UI) mengenai pengendalian rokok.

Ketua Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia (UI) Nina Armando mengatakan, semestinya pemerintah mencontoh Singapura. Sejak 1970, mereka telah melarang total iklan rokok.

“Data di ASEAN, Indonesia yang terburuk karena membolehkan semua iklan rokok di semua bentuk media itu mengizinkan,” ujarnya kepada JawaPos.com saat ditemui dalam seminar hasil penelitian tentang situasi dan tantangan pengendalian rokok di Hotel Akmani, Jakarta Pusat, Rabu (28/11).

Nina menambahkan, Indonesia juga kalah dengan Laos yang beberapa waktu lalu memiliki kondisi dan darurat yang sama. Namun demikian, Laos kini mampu melawan industri rokok.

“Untuk beberapa hal Laos dan kita membolehkan iklan rokok. Tapi perkembangan dari tahun ke tahun, Laos membaik. Kita nggak kunjung membaik. Kita begitu saja. Kita membiarkan negara kita menjadi surga bagi industri rokok,” sesal Nina.

Dengan situasi seperti ini, kaum muda Tanah Air sangat mudah terpengaruh, bahkan juga rentan menjadi perokok aktif di kemudian hari. “Membiarkan negara kita (tidak melarang iklan rokok) itu sebenarnya mengabaikan anak-anak muda yang menjadi sasaran industri rokok untuk menjadi perokok pengganti,” kata dia.

Dia pun meminta pemerintah agar segera menerbitkan regulasi untuk melarang total iklan rokok atau total advertising, promotion, sponsorship (TAPS) Ban. Sebab, saat ini regulasi yang ada hanyalah pembatasan, di mana aturan itu juga kerap dilanggar.

“Ini adalah pengalaman dari berbagai negara. Indonesia harus melakukannya,” pungkasnya.

Editor : Imam Solehudin

Reporter : (yes/JPC)



Close Ads
Soal Iklan Rokok, Indonesia Paling Buruk di Asia Tenggara