alexametrics

Membangun Guru di Era Revolusi Industri 4.0

Oleh Unifah Rosyidi, Ketua Umum PGRI
26 November 2018, 12:00:22 WIB

JawaPos.com – ERA revolusi industri 4.0 sudah datang. Sistem pendidikan nasional dihadapkan pada tantangan yang amat kompleks, tetapi juga menarik. PGRI sebagai organisasi profesi pun ditantang untuk menggerakkan guru, pendidik, dan tenaga kependidikan.

Bukan hanya itu, PGRI juga terpanggil untuk memberikan pemikiran transformatif dalam kebijakan pemerintah. Juga, melahirkan berbagai gagasan dan tindakan inovatif sesuai dengan tantangan abad ke-21.

Dunia hari ini menghadapi fenomena disrupsi. Misalnya, lahirnya digitalisasi sistem pendidikan melalui inovasi aplikasi teknologi. Juga, hadirnya massive open online course (MOOC) atau inovasi pembelajaran berbasis online dan kecerdasan buatan.

Inovasi pembelajaran berbasis online dijalankan dengan terbuka, saling berbagi, serta terhubung dan berjejaring. Prinsip itu menandai dimulainya demokratisasi pengetahuan yang menciptakan peluang bagi setiap orang untuk memanfaatkan teknologi secara produktif.

Sedangkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence dirancang untuk melakukan pekerjaan yang spesifik. Membantu tugas-tugas keseharian manusia. Di bidang pendidikan, kecerdasan buatan membantu pembelajar melakukan pencarian informasi sekaligus menyajikannya dengan akurat dan interaktif.

Dua contoh perkembangan teknologi itu mengubah secara fundamental kegiatan belajar dan mengajar. Ruang kelas mengalami evolusi ke arah pola pembelajaran digital. Pola itu menciptakan pembelajaran yang lebih kreatif, partisipatif, beragam, dan menyeluruh.

Guru tetap memiliki peran penting di era evolusi pola pembelajaran tersebut. Yakni, mengambil peran untuk kontekstualisasi informasi. Juga, membimbing peserta didik dalam praktik diskusi secara online.

Dalam era perkembangan teknologi yang pesat, termasuk menyasar dunia pendidikan, guru sulit bersaing dengan mesin. Mesin atau robot yang hadir jauh lebih cerdas, lebih cepat, dan lebih efektif dalam pencarian informasi dan pengetahuan. Karena itu, guru perlu mengubah cara mengajar dari yang bersifat tradisional menjadi pembelajaran multistimulan. Agar pembelajaran lebih menyenangkan dan menarik.

Kemudian, peran guru juga ikut berubah. Dari semula pemberi pengetahuan, menjadi mentor, fasilitator, motivator, inspirator, juga pengembang imajinasi dan kreativitas. Kemudian, guru menjadi penanam nilai-nilai karakter dan membangun teamwork serta empati sosial. Aspek-aspek itu penting untuk dijalankan oleh guru karena tidak dapat diajarkan oleh mesin.

Mencari informasi atau ilmu pengetahuan mungkin mudah dilakukan melalui Google. Namun, mesin pencari yang populer itu tidak bisa menanamkan nilai karakter kepada anak didik. Di sini peran guru menjadi penting.

Merespons tantangan di era industri 4.0 ini, PGRI menginisiatori lahirnya PGRI Smart Learning and Character Center (SLCC). Fasilitas itu berada di kantor PB PGRI di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Kami berharap fasilitas serupa bisa hadir di kantor-kantor PGRI di daerah. SLCC merupakan pusat pengembangan dan peningkatan kompetensi profesional guru, juga pengembangan karakter guru sesuai dengan kebutuhan pada zamannya.

Fasilitas itu sekaligus menandai datangnya era baru. Era guru-guru muda milenial yang menjadi anggota baru PGRI. Selamat datang era PGRI yang terus berjuang untuk menjadikan profesi guru bermartabat, berdaulat, profesional, sejahtera, dan terlindungi. Era profesi guru yang menjunjung tinggi nilai-nilai soliditas, solidaritas, independensi, integritas, dan profesionalitas.

Selain menyambut guru yang adaptif di era revolusi industri 4.0, menyongsong Hari Guru Nasional (HGN) 2018 masih ada sejumlah persoalan klasik. Namun, perlahan tapi pasti, sudah dicarikan solusinya oleh pemerintah.

Misalnya, perjuangan PGRI terkait dengan rumitnya penyaluran tunjangan profesi guru (TPG), berbelitnya urusan administrasi guru, sudah diakomodasi dengan terbitnya Permendikbud 10/2018 tentang Petunjuk Teknis Penyaluran TPG. Pada aturan itu, penyaluran TPG sudah tidak lagi tersendat gara-gara kondisi yang mendesak. Misalnya, ada guru yang berhaji atau cuti karena sakit.

Persoalan lain adalah keberadaan guru honorer yang menuntut untuk diangkat menjadi CPNS. PGRI menyadari bahwa tidak semua guru honorer berkesempatan ikut seleksi CPNS baru. Salah satu penyebabnya faktor usia. Kemudian, PGRI begitu menanti adanya regulasi tentang pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK). Akhirnya, ada komitmen dari pemerintah untuk segera menerbitkan peraturan pemerintah tentang PPPK.

Pada momentum Hari Guru Nasional 2018 dan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-73 PGRI, saya menyampaikan terima kasih kepada seluruh guru, pendidik, dan tenaga kependidikan. Utamanya guru honorer yang selama ini tiada kenal lelah mengisi kekosongan guru.

Tanpa dedikasi mereka, dapat dibayangkan bagaimana pembelajaran bisa berlangsung. Sebab, memang kondisi saat ini kekurangan guru. Terima kasih juga kepada pemerintah pusat, khususnya Kemendikbud, dan pemerintah daerah. Mereka menempatkan PGRI sebagai mitra strategis dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan. Juga, bersedia merespons perjuangan PGRI.

Mari kita tutup dengan salam perjuangan. Hidup guru! Hidup guru! Solidaritas yes! Dan Salam Pancasila! 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (Disarikan dari pidato dan wawancara dengan wartawan Jawa Pos M. Hilmi Setiawan/c11/agm)



Close Ads
Membangun Guru di Era Revolusi Industri 4.0