alexametrics

Sherly, Relawan Gempa Palu yang Berkali-kali Ditolak Pengungsi

Dapur Umum yang Baru Selesai Dibangun Raib
22 Desember 2018, 14:15:34 WIB

JawaPos.com – Menjadi relawan tidak sekadar memberikan bantuan materi atau tenaga. Tapi, juga harus punya kemampuan bernegosiasi dengan warga. Itulah yang dialami Sherly Novita Kesuma. Keinginannya membantu beberapa kali gagal karena hambatan dari korban.

SHERLY tampak semringah saat ditemui Selasa (4/12) di rumahnya di kawasan Keputih Tegal Timur, Surabaya. Dia bersemangat membagikan pengalaman sebagai relawan di Palu dan beberapa kabupaten terdampak pada September lalu. Satu setengah bulan dia di sana. Berkeliling mencari lokasi untuk membagikan bantuan yang digalangnya lewat Charity Unity.

Sherly, Relawan Gempa Palu yang Berkali-kali Ditolak Pengungsi
Sherly Nadiakesuma relawan bencana lombok dan palu yang ikut menyumbangkan tenaga dan materinya untuk korban bencana yang lebih baik. (Ghofuur Eka/ Jawa Pos)

Ketika mendapat lokasi yang pas, Sherly membangun beberapa dapur umum bersama warga. Dia menyetok ratusan liter beras, telur, dan minyak goreng. Mi instan jadi barang terlarang bagi Sherly. Dia punya pengalaman buruk saat membantu korban gempa di Lombok. Pengungsi yang terus-menerus makan mi mengalami gangguan pencernaan. ”Satu dua hari tidak apa-apa. Tapi, kalau keterusan, dampaknya negatif,” jelasnya.

Ada pengalaman yang bikin sedikit gondok, tapi dianggap Sherly lucu juga. Dapur umum yang dia bangun sehari sebelumnya ternyata raib tidak berbekas. Empat tungku, galon, filter air, serta tenda yang dibangunnya diambil warga.

“Ndak tahu semuanya hilang. Kacau,” ungkapnya, lantas tertawa. Sherly tidak bisa berbuat apa-apa. Dia memahami, di lokasi musibah, semua hal tidak bisa berjalan seperti biasa.

Selain membangun dapur umum dan distribusi logistik, Sherly memberikan bantuan berupa hunian sementara (huntara) yang dibangun di Sidera, Kabupaten Sigi. Dia membangun 15 petak huntara untuk 15 KK. Perjuangan membangun huntara itu tidaklah mudah. Berkali-kali dia mendapat pengalaman pahit.

Sebelum di Sidera, dia sempat dua kali pindah lokasi. Pertama di Tawaeli, Palu. Rencananya, di lokasi pengungsian itu, dia membangun satu selter besar. Yang bisa digunakan untuk 125 KK pengungsi yang tinggal. Sherly sudah melobi camat. Setuju. Lapor Kapolsek, dapat lampu hijau. Warga juga begitu. Oke. Tapi tidak semua. Ada satu yang protes. Dia minta dibangunkan rumah permanen.

Keinginan itu ditentang Sherly. Dananya mana cukup. Setelah debat panjang, akhirnya warga yang protes setuju dengan pembangunan huntara. Keesokannya, Sherly datang lagi. Dia membawa truk berisi ratusan kayu untuk membangun rumah sementara. Namun, niat itu gagal karena Kementerian PUPR datang ke lokasi dan berniat membangun huntara bagi warga. Kayu-kayu yang telanjur dibeli pun diberikan kepada warga. Untuk alas tidur.

Setelah gagal, Sherly pindah lagi. Mencari lokasi baru yang jauh dari jalan. Dia menemukannya di Sidera daerah perbukitan, Kabupaten Sigi. Untuk memastikan agar tidak gagal lagi, dia tinggal di wilayah itu selama 20 hari. Dia sudah mendapat kepastian bahwa seluruh warga setuju. Mereka telah membuat surat kesepakatan. Lega. Tapi, ternyata itu hanya sementara.

Keesokannya, ada warga “asing”. Yang sebelumnya tidak pernah dia lihat. Warga tersebut mengaku tinggal di sekitar tempat Sherly berencana membangun huntara. Warga tersebut tidak pernah terlihat karena mengungsi ke Makassar. Dia meminta Sherly tidak membangun huntara, tapi rumah jadi, permanen.

Sherly memberikan waktu sehari untuk memutuskan apakah warga bersedia dibangunkan huntara. Keesokannya, Sherly kaget. Puluhan warga yang sebelumnya setuju mendadak kompak tidak setuju dibangunkan huntara. Sherly langsung cabut. Meninggalkan material pasir yang sudah dibelinya.

Sebenarnya, dia sempat dicegah warga untuk berkomunikasi lagi. Namun, dia sudah ogah. ”Saya tidak mau ruwet,” tegasnya.

Akhirnya, kesabaran Sherly berbuah manis. Dia menemukan lokasi pembangunan huntara. Untuk 15 KK. Mereka semua setuju. Terbuka. Termasuk pemilik tanah. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (elo/c5/any)



Close Ads
Sherly, Relawan Gempa Palu yang Berkali-kali Ditolak Pengungsi