alexametrics
Perempuan dan Harapan

Kisah Dewi Rana, Penjaga Pengungsi Perempuan dan Anak di Sulteng

Kejahatan Tidak Libur di Masa Darurat
22 Desember 2018, 09:55:21 WIB

JawaPos.com – Gempa bumi 7,4 skala Richter (SR) yang diikuti gelombang tsunami boleh memorak-porandakan Palu. Namun, bencana yang menurut BNPB merenggut lebih dari 2 ribu nyawa itu tidak mampu memadamkan asa Dewi Rana. Aktivis Libu Perempuan yang menjadi korban musibah 28 September lalu itu pantang berpasrah. Apalagi, di masa darurat, pelecehan terhadap perempuan dan anak-anak tetap terjadi.

“Sejak kejadian itu, saya tidak pernah tinggalkan Palu,” kata Dewi saat ditemui Jawa Pos Sabtu (8/12). Memang pascabencana dahsyat itu, banyak warga yang meninggalkan Palu. Ada yang menuju Makassar, ada pula yang memilih Manado. Bahkan, ada yang pindah dari Sulawesi. Namun, tidak demikian Dewi. Dia tetap bertahan.

Alasan utama Dewi bertahan saat itu adalah anak bungsunya, Khaira Malala. Saat gempa mengguncang Palu, bayi perempuan tersebut masih berusia enam bulan. Selain Khaira, dia punya tanggungan seorang perempuan korban pelecehan seksual yang hamil delapan bulan. Dia khawatir perempuan itu melahirkan sewaktu-waktu.

Kisah Dewi Rana, Penjaga Pengungsi Perempuan dan Anak di Sulteng
Direktur Perkumpulan Lingkar Belajar Untuk Perempuan (Libu Perempuan) Sulawesi Tengah, Dewi Rana Amir. (MUGNI SUPARDI/RADAR SULTENG/Jawa Pos Group)

Berkat keteguhan hati Dewi, sebagian warga perumahan dosen itu akhirnya memilih bertahan. Mereka tetap tinggal di perumahan tersebut. Dewi lantas menjadikan rumahnya posko. Di sanalah para korban saling menguatkan. “Alhamdulillah, anak saya nggak rewel,” ujarnya.

Dewi terus berusaha bertahan. Tidak lama kemudian, suaminya datang dari Jakarta. Sang belahan jiwa membantu Dewi. Itu membuat ibu dua anak tersebut semakin mantap untuk bertahan.

Semangat itu berlanjut sampai berdirinya tenda ramah perempuan pada 13 Oktober. Bentuk tenda tersebut setengah tabung. Warnanya putih dengan alas cokelat. Di dalamnya, ada poster-poster yang menyerukan perlindungan terhadap perempuan. Ada juga meja dengan beberapa kursi untuk tempat konsultasi.

“Ini jadi tempat curhat. Di sini, ibu-ibu bisa tertawa, bahkan saat menceritakan kejadian itu (bencana, Red),” ungkap Dewi. Kendati demikian, hidup di tempat penampungan dengan fasilitas yang terbatas sangatlah berat. Pengungsi perempuan dan anak-anak rawan kejahatan.

Selama dua bulan sejak 28 September, ada 15 laporan yang masuk ke tenda ramah perempuan tentang pelecehan dan kekerasan. Seluruh korbannya adalah perempuan dewasa. “Kami khusus menangani kasus perempuan dewasa. Untuk korban anak-anak, ada sendiri yang menangani,” papar Dewi.

Saat Jawa Pos mengunjungi tenda ramah perempuan di kamp pengungsian Petobo, Dewi bercerita tentang kasus terbaru yang masuk. “Ada yang merekam orang mandi dengan handphone,” ujar advokat tersebut.

Karena kamar mandi perempuan dan laki-laki bersebelahan, pelaku bisa dengan mudah beraksi. Dia tinggal memasang handphone berkamera di kamar mandi perempuan. Saat kejahatannya terbongkar, pelaku yang lantas dibawa ke tenda ramah perempuan pun tidak bisa mengelak.

“Akhirnya, keluarga kedua pihak kami panggil. Kami buat perjanjian agar tidak diulangi lagi,” tutur Dewi. Cara kekeluargaan dipilih untuk meredam gejolak.

Selain pelecehan dan kejahatan seksual, ada dugaan human trafficking. “Kalau yang di Petobo itu, ada ibu-ibu yang bertanya tentang anak-anak yang sebatang kara. Yang orang tuanya meninggal dan tidak memiliki sanak saudara,” tutur Dewi. Ketika orang yang diajak berbicara menanyakan identitas, perempuan itu ngeloyor pergi.

Ada satu hal yang dipelajari Dewi. Ibu-ibu korban bencana justru kuat. Padahal, mereka berdiri pada ranah publik dan domestik. Mereka harus menghidupi keluarga ketika suami tak lagi bekerja karena bencana. Di sisi lain, anak-anak pun membutuhkan ibunya sebagai tempat berlindung. Padahal, para ibu itu juga korban. “Laki-laki belum tentu bisa,” ucap Dewi, bersemangat. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (lyn/c11/hep)


Close Ads
Kisah Dewi Rana, Penjaga Pengungsi Perempuan dan Anak di Sulteng