alexametrics

Kiat Menghadapi Gempa dan Ancaman Tsunami dari Kepala BNPB

Lebih Baik Malu daripada Kehilangan Nyawa
21 Februari 2019, 15:55:16 WIB

JawaPos.com – Tingginya potensi bencana alam di tanah air membuat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberikan edukasi untuk pencegahan secara intens. Pencegahan itu untuk menekan jumlah korban jiwa saat bencana alam terjadi.

Untuk itu, Kepala BNPB Letjen Doni Monardo meminta masyarakat memahami potensi bencana di daerah masing-masing. “Penting bagi kita semua untuk memperhatikan terminator pertama dan mau belajar dari kondisi spesifikasi tiap daerah. Tentu tiap daerah (ancamannya,red) berbeda,” ujar Doni Monardo saat menggelar pembekalan kebencanaan untuk media di kantornya, Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Kamis (21/2).

Doni menyebut tidak semua bangunan di Indonesia tahan gempa. Sehingga, memungkinkan untuk berlindung. Untuk itu, bagi setiap warga ketika ada bencana perlu menyelamatkan diri. Salah satunya lari ke tempat yang aman.

Ketika bencana terjadi, masyarakat tidak bisa lagi teriak waspada, jangan panik, lindungi kepala. “Sudah nggak sempat lagi, karena keburu bangunannya runtuh. Jadi apa pun yang terjadi, terjang itu. Mau kaca kena, lebih baik kehilangan tangan daripada kehilangan nyawa,” tutur dia.

Begitu pula bagi masyarakat yang berada atau tinggal di pinggir pantai. Potensi tsunami bisa dikenali sendiri dengan adanya gempa yang kuat. Makanya tidak perlu lagi warga menunggu peringatan dini.

“Ketika sudah jelas gempanya besar kemudian harus menunggu sekian menit untuk menunggu tsunami sudah nggak mungkin. Jadi begitu gempa besar nggak usah menunggu 30 detik. Langsung kabur,” tegas Doni.

Begitu juga warga yang tengah berada di kamar mandi. Ketika ada bencana, pilihannya segera mengevakuasi diri ke tempat aman. “Mungkin nggak sempat kenakan pakaian. Lebih baik malu ya daripada kehilangan nyawa,” sambungnya.

Selama ini masyarakat sangat bergantung dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai lembaga teknis yang menyatakan adanya potensi tsunami ketika ada gempa. Cara itu tidaklah efektif karena ada kalanya alat deteksi tsunami tidak bekerja maksimal. “Seperti contohnya kasus di Palu, alat kita baru berfungsi 3 menit, padahal 2 menit itu tsunami sudah di balik daratan,” pungkasnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : Yesika Dinta



Close Ads
Kiat Menghadapi Gempa dan Ancaman Tsunami dari Kepala BNPB