alexametrics

Ikhtiar Kikis Intoleransi Lewat Puisi Esai

18 November 2018, 05:16:24 WIB

JawaPos.com – Selain mencuatnya persoalan narkoba, pernikahan dini, apatisme atas isu lingkungan, keluarga yang rusak (broken home), dan pencarian identitas diri di kalangan siswa. Penelitian Pusat Pengkajian Islam dan Mayarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah yang bekerja dan survei LSI Denny JA menemukan hal yang juga meprihatinkan.

Yakni, semakin tingginya tingkat intoleransi di kalangan siswa, bahkan di kalangan para guru. Itu muncul karena adanya masalah pemahaman pada keberagaman, kesetaraan dan kebebasan warga negara.

Dennya JA sebagai salah satau penggagas komunitas puisi esai mengatakan, persoalan intoleransi ini bisa dikikis dengan memberikan masukan upaya pengajaran karakter siswa di sekolah.

“Pendidikan karakter melalui agama dan Pancasila sudah dilakukan, namun perlu ditambahkan pengajaran puisi esai yaitu jenis puisi yang panjang, dengan catatan kaki, yang memberi ruang bagi drama moral yang menyentuh,” ujar Denny JA dalam keterangan tertulisnya pada JawaPos.com, Minggu (18/11).

Denny menjelaskan, sastra bukan hanya belajar karya baku para sastrawan. Tapi juga ekspresi para siswa dan mahasiswa atas lingkungan sosialnya sendiri, kemarahannya, ketakutannya, kegembiraanya, harapannya.

“Dengan sedikit riset, fakta dan data di lingkungan sosial oleh para siswa dapat dituliskan dalam catatan kaki. Mereka menambahkan fiksi sehingga kisah nyata itu menjadi drama, menjadi cerpen yang dipuisikan,” ujarnya.

Menurut Denny, detail soal puisi esai dapat dipelajari para guru dan dosen melalui buku puisi esai. Pembaca dapat pula membacanya secara online.

Buku tersebut berisi 176 penyair dari 34 provinsi sudah menuliskan kearifan lokal di provinsinya masing-masing dalam 34 buku puisi esai. Kisah budaya Indonesia di 34 provinsi tersaji di buku tersebut.

Diketahui, sebanyak 12 penyair Malaysia dan Indonesia sudah pula menuliskan riwayat hubungan dua negara dalam puisi esai. Dengan mempelajari hubungan kultural dan batin Indonesia justru lebih terasa dalam bentuk sastra.

Kini penyair dari Brunei, Thailand, Singapura menuliskan riwayat kulturnya sendiri, juga dalam puisi esai. Di Malaysia, bahkan diluncurkan lomba menulis puisi esai di tingkat ASEAN.

Lebih lanjut, Denny menambahkan, kini anak anak SMA di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, mulai pula melakukan riset soal dunia mereka sendiri. Riset itu ditambahkan fiksi menjadi puisi esai.

“Puisi esai pun berkembang menjadi cara baru menuliskan opini, menjadi dokumen baru mempelajari sebuah persoalan. Itu sebuah ikhtiar jika puisi esai juga masuk sekolah, ikut membentuk karakter siswa,” pungkasnya.

Editor : Dimas Ryandi

Reporter : (jpg/JPC)


Close Ads
Ikhtiar Kikis Intoleransi Lewat Puisi Esai