alexametrics

Pernikahan Anak Bisa Renggut Masa Depan Bangsa

15 Desember 2018, 11:45:59 WIB

JawaPos.com – Anak-anak merupakan aset bangsa. Lalu, bagaimana jika mereka harus menikah? Tentu bangsa ini akan terancam. Aktivis 18+ Dian Kartikasari bercerita pengalamannya.

Keresahan akan pernikahan anak sudah dirasakan beberapa pihak. Termasuk mereka yang berkumpul di 18+. “Awalnya, kami mengadakan seminar-seminar. Dari sana ada korban yang bercerita,” ucap salah satu kuasa hukum permohonan uji materi UU Perkawinan itu kemarin (14/12).

Ada berbagai cerita yang diutarakan korban. Mulai sikap yang dibedakan di keluarga seperti kakak laki-lakinya boleh bersekolah hingga kerusakan alat kelamin. Ada juga yang dinikahkan karena orang tuanya berutang. Keresahan semakin besar ketika bukan hanya satu atau dua orang yang bercerita. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk membuat laporan. “Namun, ada masalah, gimana dengan keluarga mereka? Hasil putusan pasti dibaca publik,” ujar Dian.

Lalu, para aktivis yang mendampingi memiliki ide untuk bertemu dengan keluarga korban. Ada yang bertemu ibunya. Ada juga yang bertemu suami keempat korban. Dari cerita itu, niat keluarga untuk melapor semakin besar.

“Ada ibunya yang ternyata menyesal menikahkan anaknya. Awalnya hanya ingin melepaskan rantai kemiskinan, tapi justru menyengsarakan anak,” tuturnya. Keluarga korban mendukung.

Mereka pun menyusun laporan. Di sini mulai banyak pihak yang ingin bergabung. April 2017, berkas diserahkan ke Mahkamah Konstitusi (MK). Jarak sebulan, sidang pertama dibacakan. “Hakim membacakan berkasnya sampai tersengal,” tuturnya. Saksi-saksi juga didatangkan. Korban bicara.

Hingga Juni 2017 sidang berlangsung. Setelah itu, tidak ada sidang lagi. “Hanya, sejak awal hakim berkomitmen untuk memberikan keputusan mengubah UU tersebut,” ujar Dian.

Pelapor dan kuasa hukum sempat resah. Akhirnya, mereka mengajukan perpu. Maret lalu perpu diserahkan kepada Presiden Joko Widodo. Presiden pun menyerahkan ke Kementerian PPPA dan Kemenko PMK.

“Sayangnya, sampai hari ini belum ada perkembangan. Ada kekhawatiran dari kementerian kalau aturan ini mendukung zina. Padahal bukan,” tuturnya.

Hingga Kamis (13/12) akhirnya MK memberikan putusan. Itu tentu menjadi kado indah. Sayangnya, putusan tersebut dianggap santai. MK memberi batasan 3 tahun untuk mengubah. Jika lebih, batasan minimal usia perempuan menikah, 16 tahun, otomatis berganti. “Kami berharap sebelum pemerintahan ini berganti, sudah ada undang-undangnya. Takut ada korban lagi,” ungkapnya. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (lyn/c6/agm)

Pernikahan Anak Bisa Renggut Masa Depan Bangsa