alexametrics

Marak Berita Hoax, Jurnalis Jangan Ikut Menari di Atas Gendang

14 Desember 2017, 17:57:00 WIB

JawaPos.com – Era media sosial menjadi tantangan bagi profesi jurnalis untuk mampu menelusuri kebenaran sebuah informasi. Jangan sampai kabar bohong (hoax) menyebar dan meresahkan masyarakat. Profesi jurnalis dituntut untuk bisa membedakan hoax dan fakta.

“Jika tidak, maka itu sama dengan menyebarkan hatespeech yang menjadi musuh, musuh semua umat manusia,” ujar Ketua Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Ilham Bintang saat menjadi pembicara di Rakernas DKP oleh Dewan Kehormatan PWI dan Royal Media, Rabu (13/12).

Menurutnya, agar setiap informasi yang disampaikan ke publik harus berdasarkan data. Bicara dengan data sesungguhnya, kata dia, bisa memperkuat sebuah pemberitaan dan pertanggungjawaban kepada publik.

“Ironinya semua itu terjadi justru setelah memasuki era teknologi informasi, era yang memudahkan siapa saja memperoleh informasi tentang apapun, di manapun dan kapan pun,” katanya.

Ilham mencontohkan bagaimana mudahnya seseorang membuat opini untuk mendiskreditkan satu pihak di media sosial. Sama mudahnya dengan penyebarannya yang berantai melalui perangkat smartpone.

“Yang menyedihkan, media mainstream sering ikut menari di gendang itu,” tukasnya.

Sebagian ikut pula menyebarluaskan tanpa verifikasi. Kalaupun dilakukan verifikasi, lanjutnya, konfirmasi yang dilakukan seadanya. Tidak sampai meletakkan duduk perkara secara seutuhnya. Verifikasi hanya terkesan untuk melindungi diri supaya tidak ikut disalahkan sebagai penyebar hoax.

“Sebagian media mainstream justru meniru semangat pekerja sosial. Yang penting penyebaran berita berunsur sensasi secepatnya supaya banyak dapat hits atau like,” tukasnya.

Padahal, kata Ilham, jelas praktik itu berpotensi melanggar kodeetik karena lebih mendahulukan kecepatan daripada ketepatan. Maka, publik pun terbiasa menyaksikan media mainstream meralat sendiri beritanya.

“Belum lagi kita menghitung kerusakan yang timbul akibat berita pertama, berita yang salah tadi. Biasa dipahami jika sebagaian masyarakat yang apatis memilih melapor kepihak yang berwajib. Daripada mengikuti mekanisme hak jawab, atau mengadu ke dewan pers, seperti yang dianjurkan petinggi dunia pers, sebagai jalan keluar bagi korban suatu pemberitaan. Dan itu sah menurut UU,” tegasnya.

Editor : admin

Reporter : (ika/JPC)


Close Ads
Marak Berita Hoax, Jurnalis Jangan Ikut Menari di Atas Gendang